Jateng

KULINER KETIMUS: Bukan Sekadar Kue Murah Meriah, Inilah Kisah Perjuangan Singkong Melawan Stigma Hingga Jadi Menu Rijsttafel Kolonial!

Theo Adi Pratama | 27 September 2025, 07:06 WIB
KULINER KETIMUS: Bukan Sekadar Kue Murah Meriah, Inilah Kisah Perjuangan Singkong Melawan Stigma Hingga Jadi Menu Rijsttafel Kolonial!

JATENG.AKURAT.CO, Di tengah gempuran dessert modern, Indonesia tetap menyimpan harta karun kuliner yang tak lekang oleh waktu.

Salah satunya adalah Ketimus atau Katimus—sebutan akrab di kalangan Urang Sunda. Bagi sebagian orang Jawa, penganan ini lebih dikenal dengan nama Lemet.

Mungkin namanya kurang nendang di telinga anak muda, tetapi camilan khas Jawa Barat ini menawarkan rasa manis alami yang membuai dan kisah sejarah yang jauh lebih kaya dari tampilannya yang sederhana.

Mari kita bongkar mengapa Ketimus ini layak mendapat tempat istimewa, bukan hanya di hati, tetapi juga di sejarah kuliner bangsa!

Singkong, Gula Merah, dan Daun Pisang: Resep Kesederhanaan yang Abadi

Ketimus adalah perwujudan sempurna dari pepatah "kesederhanaan adalah kunci keindahan."

Bahan utamanya adalah parutan singkong yang dicampur dengan gula merah dan sedikit kelapa parut.

Tepung terigu hanya berfungsi sebagai perekat untuk memastikan adonan tidak buyar. Setelah semua bahan diaduk rata, adonan manis ini dibungkus dengan daun pisang, dilipat rapi, dan dikukus hingga matang.

Membuatnya? Sangat mudah dan murah meriah, seperti yang diakui oleh Ajip Rosidi, budayawan Sunda, dalam Ensiklopedia Sunda.

Katanya, Ketimus adalah penganan yang dapat disajikan kapan saja, siang atau malam, bahkan baik untuk mengganjal perut bagi yang sering telat makan.

Tak heran jika Ketimus kerap dijajakan berdampingan dengan minuman penghangat legendaris seperti Bandrek dan Bajigur.

Ketimus bukan sekadar kue keluarga sederhana, ia adalah jajanan rakyat yang mencerminkan kearifan lokal.

Drama Panjang Singkong: Dari Hutan Liar hingga Disukai Warga Jawa

Menariknya, Ketimus—dan singkong sebagai bahan dasarnya—agaknya bukanlah kuliner yang hadir sejak zaman purba di Nusantara.

Singkong atau ubi kayu (Manihot Utilissima) aslinya berasal dari Amerika Selatan dan tumbuh liar di hutan.

Bangsa Portugis-lah yang membawanya dan mendatangkannya ke seluruh dunia, termasuk Maluku di Indonesia, sekitar abad ke-16.

Namun, upaya membudidayakannya secara besar-besaran di Pulau Jawa sempat gagal. Penduduk Jawa membutuhkan waktu yang sangat lama untuk menyadari kegunaan singkong sebagai tanaman pangan.

Menurut Fadly Rahman dalam Jejak Rasa Nusantara: Sejarah Makanan Indonesia, singkong baru mulai disukai masyarakat sepanjang abad ke-19.

Hal ini didorong oleh pemerintah kolonial yang mempromosikan singkong sebagai bahan makanan penyangga saat padi mengalami gagal panen.

Namun, singkong sebagai bahan masakan baru benar-benar diterima dan populer sekitar abad ke-20. Haryono Rinardi, dalam Politik Singkong Zaman Kolonial, menulis bahwa penduduk Jawa mulai menerima kehadiran singkong karena tanaman ini terkenal tidak rewel.

"Ia dapat hidup di lahan kurang subur, bahkan tanpa perawatan sekalipun. Selain itu, singkong dapat dipanen sesuai kebutuhan," tulis Haryono.

Karena sifatnya yang luar biasa luwes inilah, ubi kayu sering dijuluki sebagai 'gudang persediaan bawah tanah'.

Inilah yang memungkinkan para ibu rumah tangga di Jawa kemudian berkreasi, mengolah ubi kayu dengan mencampurnya bersama santan dan gula aren, membungkusnya dalam daun pisang, dan merebusnya menjadi sajian manis—sebuah deskripsi yang sangat cocok dengan Lemet atau Ketimus.

Masuk Menu Elit: Ketika Ketimus Jadi Bintang di Rijsttafel

Meskipun lahir dari kesederhanaan, Ketimus ternyata sempat naik kasta menjadi hidangan yang memanjakan lidah bangsa asing di masa kolonial.

Haryoto Kunto, dalam Seabad Grand Hotel Preanger, 1897-1997, mencatat peran Nyonya van Horck, istri dari pemilik Hotel Van Horck di Garut.

Nyonya van Horck adalah salah satu dari banyak modertje atau "ibu tersayang" yang aktif memperkenalkan masakan dan penganan Indonesia kepada para ekspatriat.

"Hidangan Sunda Parahyangan masuk dalam menu rijsttafel lewat olahan Nyonya van Horck dari Garut,” ujar Haryoto Kunto.

Ya, Ketimus adalah salah satu penganan Indonesia yang turut diperkenalkan dalam Rijsttafel—cara penyajian makanan berurutan yang memadukan etiket perjamuan resmi Eropa dengan kebiasaan makan penduduk setempat di masa kolonial.

Ketenaran ini membuat Ketimus, atau Lemet, kemudian terabadikan dalam buku-buku masak legendaris.

Sebut saja Pandai Masak (1957) karya Nyonya Rumah alias Julie Sutarjana, hingga buku Mustika Rasa yang diterbitkan Departemen Pertanian pada tahun 1967.

Kini, Ketimus tetap menjadi pilihan yang bijak. Kekenyalan singkong dan sensasi manis gula merah yang lumer di mulut menjadikannya teman setia saat minum teh.

Anda dapat menemukannya di pasar-pasar tradisional atau gerobak jajanan pinggir jalan, bukti bahwa kenikmatan sejati tak perlu rumit.

Jadi, tunggu apa lagi? Mari kita lestarikan penganan bersejarah ini. Ketimus bukan sekadar pengganjal perut, ia adalah sepotong sejarah manis yang bisa Anda santap!

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.