Jateng

Pejabat Tinggi Taiwan Ungkap Rencana China untuk Invasi, Sebut AS Bakal Kena Efek Domino yang Mengerikan!

Theo Adi Pratama | 13 September 2025, 07:34 WIB
Pejabat Tinggi Taiwan Ungkap Rencana China untuk Invasi, Sebut AS Bakal Kena Efek Domino yang Mengerikan!

JATENG.AKURAT.CO, Sebuah pernyataan mengejutkan datang dari Chiu Chui-cheng, kepala Mainland Affairs Council Taiwan, dalam sebuah pidato di Washington.

Ia tak ragu-ragu menyatakan bahwa China sedang bersiap untuk perang demi merebut Taiwan.

Peringatan ini bukan main-main, Chiu menegaskan jika Taiwan jatuh, itu akan memicu "efek domino" yang mengancam keamanan Amerika Serikat dan mengubah peta kekuatan global.

Ancaman Perang di Ujung Timur Asia

Chiu Chui-cheng, yang memegang posisi setara menteri dalam kabinet Taiwan, menjelaskan di The Heritage Foundation bahwa Partai Komunis China sudah sejak lama menolak untuk mengesampingkan penggunaan kekuatan militer terhadap Taiwan, sebuah pulau yang demokratis namun dianggap sebagai bagian dari wilayah mereka.

Menurut Chiu, upaya "penyatuan kembali dengan Taiwan" ini bukan sekadar urusan domestik.

Tujuan utamanya adalah untuk menyingkirkan pengaruh Amerika Serikat dari kawasan Asia-Pasifik dan pada akhirnya menggantikan AS sebagai pemimpin dunia.

Semua ini dilakukan demi "mengembalikan kejayaan nasional dan mewujudkan apa yang disebut 'Mimpi China'".

Pernyataan ini diperkuat dengan fakta bahwa China "telah secara aktif mempersiapkan diri untuk perang," terlihat dari peningkatan aktivitas militer mereka di sekitar pulau Taiwan.

"Efek Domino" yang Mengkhawatirkan Dunia

Chiu Chui-cheng memperingatkan bahwa jika Taiwan diambil alih secara paksa oleh China, itu akan memicu "efek domino".

Dampaknya tidak hanya akan merusak keseimbangan kekuatan di kawasan, tetapi juga secara langsung mengancam keamanan dan kemakmuran Amerika Serikat.

Peringatan ini menjadi sangat relevan mengingat Taiwan adalah pusat industri teknologi global, produsen utama cip komputer canggih di dunia.

"Jika peran Taiwan dalam hal ini terganggu, itu akan menjadi kerugian besar bagi komunitas internasional, terutama AS dan industri teknologinya," tegas Chiu.

Reaksi dan Persiapan China yang Terbuka

Beberapa jam sebelum pidato Chiu, China mengumumkan bahwa kapal induk terbaru mereka, Fujian, telah berlayar melalui Selat Taiwan.

Kapal ini, begitu beroperasi penuh, akan memungkinkan China untuk memproyeksikan kekuatan militer lebih jauh ke Pasifik Barat.

Kedutaan Besar China di Washington mengatakan bahwa Beijing siap "bekerja dengan ketulusan terbesar dan mengerahkan upaya maksimal untuk mencapai reunifikasi damai" dengan Taiwan.

Namun, mereka juga menambahkan bahwa China akan "mengambil semua langkah yang diperlukan untuk mempertahankan kedaulatan nasional dan integritas teritorial, dan dengan tegas menentang separatisme 'kemerdekaan Taiwan' dan campur tangan eksternal."

Pernyataan ini menunjukkan bahwa meskipun ada preferensi untuk solusi damai, opsi militer tetap terbuka.

Secara rutin, angkatan laut AS dan sekutunya seperti Inggris, Kanada, dan Prancis melintasi Selat Taiwan—yang mereka anggap sebagai jalur perairan internasional—setiap bulan, namun China mengklaim selat tersebut sebagai bagian dari perairan teritorial mereka.

Pernyataan-pernyataan ini, ditambah dengan manuver militer yang terus berlangsung, menjadikan Selat Taiwan sebagai salah satu titik panas geopolitik yang paling berbahaya di dunia saat ini.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.