Jateng

11 September: Kisah di Balik Serangan Teror Paling Mematikan dalam Sejarah AS

Theo Adi Pratama | 11 September 2025, 18:56 WIB
11 September: Kisah di Balik Serangan Teror Paling Mematikan dalam Sejarah AS

JATENG.AKURAT.CO, Pada 11 September 2001, Amerika Serikat dihantam oleh serangkaian serangan teroris yang mengubah dunia.

Sebanyak 19 militan yang terafiliasi dengan kelompok ekstremis Al-Qaeda membajak empat pesawat komersial dan mengarahkannya ke target-target penting.

Tragedi ini menewaskan hampir 3.000 orang, menjadikannya serangan teroris paling mematikan dalam sejarah Amerika.

Namun, di balik kengerian hari itu, ada cerita panjang tentang plot, keyakinan, dan kegagalan intelijen yang mengarah pada malapetaka.

Keyakinan Naif dan Lahirnya Ide Brilian

Osama bin Laden, pemimpin Al-Qaeda, memiliki keyakinan yang naif tentang Amerika Serikat sebelum serangan.

Menurut rekannya, Abu Walid al-Masri, Bin Laden yakin bahwa Amerika adalah "macan kertas" yang lemah.

Keyakinan ini dibentuk oleh beberapa peristiwa, seperti penarikan pasukan AS dari Lebanon setelah pemboman barak marinir pada 1983.

Namun, otak operasional di balik serangan 11 September adalah Khalid Sheikh Mohammed atau yang akrab disapa "KSM".

Lulusan universitas di Amerika, KSM adalah seorang jihadis sejati yang memiliki impian lama untuk menyerang AS.

Ide taktis menggunakan pesawat yang dibajak untuk menyerang Amerika adalah inovasinya.

Al-Qaeda kemudian menyediakan personel, dana, dan dukungan logistik untuk mewujudkan mimpi KSM ini, sementara Bin Laden menyusun serangan ini dalam kerangka strategi yang lebih besar untuk menyerang "musuh jauh"—Amerika—demi memicu perubahan rezim di Timur Tengah.

Sel Hamburg dan Rencana Global

Plot 11 September dimatangkan di seluruh dunia. Pertemuan perencanaan dilakukan di Malaysia, para pelaku mengambil pelajaran terbang di Amerika Serikat, koordinasi dilakukan oleh para pemimpin di Hamburg, Jerman, transfer uang dari Dubai, dan perekrutan para pelaku bom bunuh diri dari berbagai negara di Timur Tengah—semua diawasi langsung oleh para pemimpin Al-Qaeda di Afghanistan.

Empat pilot dan perencana utama, termasuk pemimpin pembajak Mohammed Atta, menjadi lebih radikal saat tinggal di Hamburg.

Kombinasi dari diskriminasi, keterasingan, dan rasa rindu kampung halaman membuat mereka semakin militan.

Mereka memutus hubungan dengan dunia luar dan perlahan saling meradikalisasi, hingga akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan jihad global Bin Laden.

Mereka tiba di Afghanistan pada 1999, tepat saat plot 11 September mulai dibentuk.

Bin Laden segera menyadari bahwa para jihadis terdidik dari Barat ini jauh lebih cocok untuk memimpin serangan daripada orang-orang yang telah mereka rekrut.

Serangan dan Reaksi Dunia

Pada pagi 11 September 2001, empat pesawat dibajak. Pesawat pertama, American Airlines Penerbangan 11, menabrak menara utara World Trade Center pada pukul 08.46 pagi.

Tujuh belas menit kemudian, United Airlines Penerbangan 175 menabrak menara selatan. Kengerian tak berhenti di situ.

Pesawat ketiga, American Airlines Penerbangan 77, menghantam Pentagon di Washington D.C., dan pesawat keempat, United Airlines Penerbangan 93, jatuh di sebuah ladang di Pennsylvania setelah para penumpang mencoba melawan para pembajak.

Dampak emosional dari serangan ini sangat luar biasa. Menara kembar World Trade Center yang menjadi landmark New York City runtuh.

Ribuan orang yang menyaksikan langsung dan jutaan lainnya yang menonton di televisi terperangah. Pasar global terguncang hebat, dan pasar saham New York ditutup selama empat hari.

Namun, dunia bersatu. Negara-negara sekutu AS menunjukkan dukungan penuh, yang terbaik disimbolkan dengan tajuk utama surat kabar Prancis Le Monde, "Kami semua adalah orang Amerika sekarang."

Kegagalan Strategis Al-Qaeda dan Perang Melawan Teror

Meskipun sukses secara taktis, serangan 11 September adalah kegagalan strategis bagi Al-Qaeda.

Setelah serangan, Al-Qaeda kehilangan basis terbaik mereka di Afghanistan.

Invasi AS dan sekutunya pada 7 Oktober 2001, yang dikenal sebagai Perang Afghanistan, berhasil menumbangkan rezim Taliban dan memaksa para pemimpin Al-Qaeda bersembunyi.

Bin Laden salah besar dalam menilai respons AS. Ia berpikir AS akan menarik diri seperti yang terjadi di Somalia pada 1993, atau hanya melakukan serangan rudal yang tidak efektif.

Sebaliknya, AS melancarkan kampanye militer besar-besaran yang dipimpin oleh Presiden George W. Bush. Aksi ini tidak hanya menargetkan teroris, tetapi juga "mereka yang melindungi mereka."

Laporan Komisi 11 September dan Pelajaran Berharga

Komisi yang dibentuk oleh Presiden Bush pada 2002 merilis laporan final pada 2004. Laporan ini mengungkap kegagalan besar intelijen.

CIA gagal memasukkan nama dua militan yang dicurigai, Nawaf al-Hazmi dan Khalid al-Mihdhar, ke dalam "daftar pantauan" meskipun mereka telah melacaknya. Akibatnya, kedua orang ini bisa masuk ke AS dengan mudah.

FBI juga gagal menangani kasus Zacarias Moussaoui, seorang siswa penerbangan yang perilakunya mencurigakan.

Meskipun bukan "pembajak ke-20" seperti yang sempat dilaporkan, Moussaoui diketahui menerima uang dari salah satu koordinator 11 September dan berencana ikut dalam gelombang serangan kedua.

Laporan ini menjadi pelajaran penting tentang bagaimana koordinasi dan komunikasi antar lembaga intelijen sangat krusial.

Serangan 11 September mungkin tidak bisa dicegah, tetapi kegagalan intelijen membuka mata dunia akan pentingnya kerjasama global dalam menghadapi ancaman terorisme.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.