Jateng

Usaha Stockpile di Weleri Kendal Merugikan Empat Desa, Warga Minta Pemerintah Menutup Permanen

Theo Adi Pratama | 13 April 2025, 21:55 WIB
Usaha Stockpile di Weleri Kendal Merugikan Empat Desa, Warga Minta Pemerintah Menutup Permanen

JATENG.AKURAT.CO, Warga empat desa di Kecamatan Weleri Kendal bersiap melakukan aksi demo ke kantor Gubernur Jawa Tengah namun dicegah oleh Forum Komunikasi Pimpinan Kecamatan (Forkompimcam) Weleri. 

Warga dari desa Sumberagung, Penyangkringan, Bumiayu, dan Nawangsari merasa dirugikan usaha stockpile pasir di wilayah mereka karena mengganggu dan menimbulkan polusi udara sehingga akan mengadu ke Gubernur Ahmad Luthfi. 

Warga sudah memasang sejumlah spanduk bertuliskan tolak dan tutup stockpile pasir di berbagai titik termasuk di depan usaha stockpile. 

Setelah dilakukan mediasi oleh Forkopimcam Weleri dan Kepala Kesbangpol Kendal, aksi warga bisa diredam. 

Kepala Badan Kesbangpol Kendal, Alfebian Yulando, meminta warga untuk sabar sebab yang namanya mediasi butuh waktu dan tidak boleh emosi.

Yulando menjelaskan etelah dilakukan mediasi ada beberapa tuntutan warga.

Yulanndo mengatakan Forkopimcam dan dirinya sudah mendatangi pemilik perusahaan stockpile atau tempat penimbunan pasir halus untuk proyek besar.

"Pengusaha (stockpile) siap untuk melakukan pembersihan jalan, namun setelah di sampaikan pada warga, warga malah minta perusahaan tersebut ditutup selamanya," ujar Yulando pada Minggu (13/4/2025).

Tuntutan warga adalah, yang pertama jalan sepanjang kurang lebih 4KM harus disemprot air dan lumpurnya di sapu agar tidak membuat licin.

Salah satu warga, Sulastri menuturkan akibat dump truk yang lewat debunya masuk rumah sampai dalam kamar bahkan lantainya terkena debu sangat tebal. 

"Pengusaha harus bertanggung jawab, termasuk rumah warga yang temboknya pecah akibat getaran truk besar yang melintas di jalan tersebut selama dua puluh empat jam," tutur Sulastri.

Polusi udara juga membuat anak-anak menderita Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

"Ada banyak tetangga anaknya mengalami sakit pernafasan akibat debu di jalan yang dilalui dump truk besar bermuatan pasir yang menimbulkan debu," tutur Sulastri. 

Saat ini tercatat ada empat anak yang terkena Ispa dan dirawat di rumah sakit.

Hal yang sama juga diungkapkan Gogik Sutriyo warga Bumiayu Weleri yang rumahnya retak. 

"Tembok (rumah) saya plafonya pada jatuh gara-gara getaran keras yang ditimbulkan dump truk yang lewat. Ini sudah berjalan selama bertahun-tahun," jelasnya.

Koordinator aksi empat desa, Darmaji mengatakan, warga sudah kesal sehingga melakukan ini karena merasa tidak diperhatikan. 

"Awalnya warga minta pengusaha membersihkan debu di jalan dan menyulam jalan agar tidak berdebu. Tapi karena udah kelewatan warga akhirnya minta agar perusahaan stockpile ditutup saja," tutur Darmaji.

Di sisi lain, salah satu pemilik stockpile Eko Mujiono Wiyono mengatakan bahwa dirinya mendirikan perusahaan sudah ada ijin, termasuk ijin lingkungan. Bahkan Eko menuruti permintaan warga untuk menambal jalan. 

"Sudah saya lakukan ini minta di siram nanti akan saya laksanakan penyiraman jalan," terang Eko.

Aksi ini dipicu adanya dampak lalu lalang truk dump stockpile yang mengakibatkan jalan rusak parah, udara berdebu hingga menyebabkan sejumlah warga harus dilarikan ke rumah sakit karena terkena penyakit Ispa. 

Kemudian juga menyebabkan sejumlah tembok rumah warga retak, serta usaha dagang warga sekitar terpaksa ditutup karena tidak laku.

Hasil keputusan warga empat desa tersebut memutuskan, meminta agar stockpile ditutup selamanya dan jalan akan di bersihkan warga.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.