Membayangkan Tuk Panjang Jadi Wisata Toleransi, Pernah Ditolak Orang Tionghoa Namun Dinikmati Lintas Agama

AKURAT.CO, Seorang wanita berjilbab terlihat sumringah menikmati hidangan yang tersaji di meja yang disusun memanjang bersama meja lainnya.
Dia begitu lahap menyantap kudapan berupa nasi Hainan, pudding penyu, kue keranjang, dan hidangan khas imlek lainnya.
Dia bernama Maryati (60) warga Kelurahan Kranggan Kecamatan Semarang Tengah yang telah 52 tahun hidup bersama warga Tionghoa di Pecinan Semarang.
Tanpa rasa gugup dan curiga jika makanan itu tidak halal, Maryati terus menyantap dan menawarkan kepada kami, para pemburu berita yang meliput pagelaran Tuk Panjang di Gang Baru Pecinan Semarang pada malam perayaan Tahun Baru Imlek 2575 Kongzili.
“Tuk Panjang Pasar Imlek ini acaranya bagus untuk mempertahankan warisan leluhur di Pecianan supaya tidak punah dan juga untuk mempererat persaudaraan antar etnis dan antar agama supaya tetap pesuduluran (bersaudara),” ujar maryati yang bersemangat menjelaskan kepada awak media.
Perayaan Lintas Etnis
Tuk Panjang adalah perayaan Tahun Baru Imlek khas Kota Semarang yang digagas oleh Kelompok Pecianan Semarang untuk Pariwisata (Kopi Semawis) sejak tahun 2001. Digagasnya acara tahunan ini memang dimaksudkan untuk memperkenalkan Pecinan Semarang sebagai kawasan wisata. Namun yang istimewa, di kawasan ini juga banyak penduduk lintas etnis seperti Jawa dan Arab.
“Setiap hari kita guyub rukun pak, saya yang asli jawa dan beragama Islam tidak pernah ada perselisihan dengan saudara-saudara Tionghoa,” tandas Maryati.
Di kampung Semawis, biasa orang-orang menyebut Pecinan Semarang, warga lintas etnis ini tidak pernah berselisih. Bahkan mereka sudah terbiasa menggelar acara-acara untuk hari besar agama yang ada di sana secara bersama-sama. Semawis sendiri adalah kata dari bahasa Jawa Kromo Inggil yang berarti Semarang.
Baca Juga: Serba-Serbi Tahun Baru Imlek: Mengungkap Makna Sebenarnya di Balik Ucapan Gong Xi Fat Cai
“Setiap ada kegiatan mereka ikut tampil dan tidak saling membedakan,” tandas maryati lagi.
Pesan saya semua etnis itu baik, kalau ada yang punya pikiran negative sama orang-orang Tionghoa jelas itu salah. Karena selama saya di sini tidak pernah ada masalah. Bahkan masyarakat di sini yang lintas etnis sangat kekeluargaan sekali.
Maryati juga mengatakan bahwa di Semawis selalu ada kegiatan bersama di akhir pekan.
“Setaiap Jum’at, Sabtu, dan Minggu ada acara Semawis yang digerakkan oleh Kopi Semawis,” ujarnya
Berbeda Tetap Aktif
Kemudian Setyowati (52) Ketua RW 01 Kelurahan Kranggan mengatakan dirinya bersama warga juga sangat menikmati acara tersebut. Dia bersama gadis-gadis muda berhijab bahkan mendominasi kepanitiaan acaranya orang Tionghoa ini.
“Kami sebagai pengurus RW sangat senang dan menikmati pertunjukan seni dan hidangan yang sangat istimewa,” jelasnya.
“Hidangan yang unik di sini antara lain nasi Hainan, pudding penyu, dan lain-lain,” ujarnya sambil sedikit mempromosikan hidangan yang disajikan oleh panitia binaannya.
“Kami di sini lintas etnis bersatu tidak pernah ada perselisihan,” tandasnya menambahkan pernyataan Maryati tadi.
Setyowati mengatakan sebenarnya di wilayah RW yang dipimpinnya justru mayoritas orang jawa dan beragama Islam. Namun dirinya bersama warga sudah terbiasa aktif dalam kegiatan yang digelar oleh warga sekitar sehingga tidak ada rasa rikuh jika gadis-gadis berhijab tersebut menjadi panitia Tuk Panjang
“Sebenarnya di sini mayoritas orang Jawa , yang mayoritas orang Tionghoa malah di gang pinggir. Kalau acara di Kelurahan kita di sini aktif semua,” tuturnya.
Setyowati kemudian mengatakan untuk kegiatan lintas agama seperti Isra’ Mi’raj atau natalan selama mendapat undangan pasti terlibat semua. Setyowati menegaskan mereka saling menghormati hari-hari besar agama masing-masing.
“Bahkan kalau malam lebaran, seperti takbiran, orang-orang Tionghoa ikut meramaiakan, ikut keluar menyemarakkan takbiran,” ungkapnya.
Nah untuk kegiatan Tuk Panjang ini RT-RT di sekitar kranggan ikut membantu menyukseskan acara. Dari pertama Tuk Panjang digelar pada 2001, Setyowati mengaku selalu diundang dan dilibatkan. Kemudian Setyowati juga menunjukkan pengunjung Tuk Panjang pada malam itu juga datang dari kota lain.
“Saya pantau tadi pengunjung acara ini juga banyak yang datang dari luar kota,” tuturnya.
Dulu sebelum Tuk Panjang digelar, Setyowati menceritakan, suasana Imlek di Semawis biasa-biasa saja. Tapi setelah ada Tuk Panjang suasananya sangat meriah dan bisa menjadi wahana mempererat kekeluargaan warga yang lintas etnis dan lintas agama.
“Saudara-saudara Tionghoa juga mengadakan acara bakti sosial seperti membagi kue kranjang, angpau, atau yang lain bagi warga kurang mampu di sekitar Kranggan,” jelasnya.
Pernah Ditolak Orang Tionghoa
Kemudian Tedi Kholiluddin, Pegiat Kerukunan Lintas Agama menjelaskan bahwa jika Tuk panjang ingin dijadikan Wisata Toleransi, pertama harus disisir dari sisi kesejarahan Pasar Imlek dan ide Tuk Panjang itu menjadi bagian di antaranya.
Karena pada awalnya, kata Tedi, ide pagelaran Tuk Panjang yang dilontarkan oleh Harjanto Halim itu sempat ditolak oleh orang-orang Tionghoa sendiri.
“Karena apa, saat pertama kali digelar pada 2001, masih dalam nuansa reformasi yang mana saat itu sentiment anti Tionghoa masih sangat kuat,” ujar Pembina Lembaga Sosial Agama (eLSA) ini.
“Jadi kalau dibuat (Tuk Panjang) itu kan mengundang banyak orang dan ditakutkan menutup dan menjarah toko-toko milik orang Tionghoa di sini (karena Masyarakat Tionghoa masih takut berkumpul dengan pribumi atau non-Tionghoa),” bebernya.
“Nah itu mungkin historisitas (sejarah) yang sangat penting untuk dicatat dan diingat,” tandas pria yang juga Akademisi Unwahas ini.
Tedi mengatakan memang saat ini pagelaran Tuk Panjang baik-baik saja bahkan cenderung sangat meriah. Namun pada masa-masa awal reformasi warga Tionghoa masih trauma dengan penjarahan dan pembantaian kaumnya oleh warga non-tionghoa.
“Kalau sekarang pasar Imlek dan Tuk Panjang kan baik-baik saja karena kedewasaan bertoleransi sudah sangat tinggi,” jelasnya.
Oleh sebab itu, digelarnya Tuk Panjang pada masa awal reformasi adalah keberanian yang luar biasa.
“Tapi kalau pada masa-masa awal reformasi masih bergulir dan orang-orang Tionghoa masih pada ketakutan itu kan sebuah keberanian yang luar biasa. Itu penting untuk dicatat,” tegasnya.
Lalu yang kedua, Tedi mengatakan, Tuk Panjang ini mungkin juga harus ditautkan dengan elemen kebudayaan yang lain agar kelihatan lebih harmonis. Pasalnya Pemkot Semarang akan segera merevitalisasi kawasan Semawis untuk kepentingan pariwisata.
“Karena apa, revitalisasi Pecinan yang akan dilakukan oleh Pemkot Semarang ini yang tahap tiga setelah revitalisasi Kota Lama dan Kampung Melayu,” ujar Tedi.
Kegagalan Kampung Melayu
Dan ingat, tambah Tedi, revitalisasi Kampung Melayu sebagai kawasan wisata tidak terlalu berhasil karena di sana masih menyisakan PR, yaitu kesadaran sejarah dan budaya.
Bagi Tedi, revitalisasi fisik memang cukup baik. Tapi yang direvitalisasi itu baru jalan 10 KM. bagfi Tedi, yang paling penting namun belum direvitalisasi adalah mengenai ‘ingatan’ sejarah Kampung Melayu sebagai wilayah yang multikultural dan multi etnis sebagai hal yang harmmonis.
“Hal ini belum dihidupkan, kecuali ada papan informasi di depan Masjid Layur bahwa Masjid ini dibangun pada tahun 1802 M,” tuturnya.
“Tapi tentang bagaimana orang mengenal tentang Masjid Soleh Darat, orang mengenal bahwa di sana (Kampung Melayu) pada 4 Oktober 1934 didirikan Persatuan Arab Indonesia (PAI) itu kan tidak dihidupkan,” bebernya.
“Ada pula sejarah awal Muhammadiyah pada 1928 pernah tinggal menetap di Kampung Melayu juga tidak dihidupkan (sejarahnya),” ungkapnya.
Baca Juga: KAI Daop 4 Semarang Siapkan 86 Ribu Tempat Duduk Untuk Libur Isra Miraj dan Cuti Imlek
Tuk Panjang dan Dugderan
Nah Pasar Imlek atau Tuk Panjang mungkin bisa menjadi salah satu instrument untuk menunjukkan semangat toleransi dan semangat multikulturalisme di Kota Semarang, khususnya Pecinan.
Namun Tedi mengingatkan perlu ditegaskan indikator-indikatornya, misalnya bagaimana memastikan bahwa Pasar Imlek ini bisa menjadi ruang sipil (Civic Space), artinya setiap identitas-identitas masyarakat yang berbeda itu lebur di sini.
“Ya semisal istri saya atau perempuan-perempuan lainnya yang berjilbab mau datang dan menikmati Tuk Panjang ini. Itu salah satu indikator,” jelasnya.
Kemudian Tedi mengatakan kalau bisa Pasar Imlek dan Tuk Panjang ini kemeriahannya bisa dibuat selevel dengan Dugderan, yaitu tradisi menyambut Ramadhan di Kota Semarang.
“Jadi Pasar Imlek dan Dugderan itu adalah ruang sipil di mana di dalam perayaannya banyak kelompok yang berbeda dan hidup di sana,” tuturnya.
Menurut Tedi, Tuk Panjang itu bisa menjadi penciri atau mampu memunculkan keunikan bagi Kota semarang dari sisi perayaannya daripada Pasar Imlek atau perayaan Imlek di Kota lain.
Kemudian Tedi menjelaskan bahwa orang Tionghoa Semarang berbeda dengan orang tionghoa di daerah lain.
“Tionghoa Semarang itu memiliki cultural intelegence yang sangat baik. Mereka memiliki kecerdasan untuk memahami dan melebur dengan kebudayaan di tempat di mana mereka hidup,” ungkapnya.
“Jadi kalau sudah hidup di Semarang, mereka jadi sangat semarang sekali,” tandasnya.
“Nah Tuk Panjang ini kan penandanya, petandanya apa? Dari mentalitas multicultural itu sendiri yang harus dimunculkan, bukan hanya ciri fisik dan dekorasi acaranya saja,” tutupnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










