Jateng

Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia Bantu Mbak Ita Tanggulangi Stunting di Kota Semarang

Theo Adi Pratama | 16 Januari 2024, 17:41 WIB
Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia Bantu Mbak Ita Tanggulangi Stunting di Kota Semarang

 

AKURAT.CO, Dalam penanganan stunting di Kota Semarang, setidaknya ada 40 hotel yang turut dalam program ini.

Hal tersebut disampaikan oleh Sekretaris Jenderal BPD PHRI Provinsi Jateng, Yantie Yulianti pada Selasa (16/1/2024).

Yulianti memaparkan ada sembilan klaster yang nantinya siap memberikan tujuh pack makanan dengan rincian lima pack untuk ibu hamil dan dua pack untuk balita. Program ini akan berlangsung selama satu bulan. 

Baca Juga: Pemkot Semarang Anggarkan 10,5 Milar Rupiah Untuk Revitalisasi Kampung Pecinan di Tahap Pertama

"Kami berikan sekitar pukul 9.00 atau 10.00. Jadi, tidak menggantikan makanan utama," tuturnya.

Sebelumnya, Walikota Semarang Hevearita G Rahayu memastikan hotel-hotel di Kota Semarang yang tergabung dalam Perhimpunan Hotel dan Restoran (PHRI) menyediakan pemberian makanan tambahan (PMT) untuk balita dengan berat badan kurang dan ibu hamil dengan kekurangan energi kronis (KEK) maupun anemia.

Ini merupakan bagian dari upaya PHRI membantu Pemerintah Kota Semarang dalam penanganan stunting di ibu kota Jawa Tengah.

Mbak Ita mengatakan, ada dua intervensi yang dilakukan pemkot dalam penanganan stunting yaitu penanganan stunting melalui rumah pelita dan melalui pemberian PMT.

Baca Juga: Dansat Brimob Jateng dan Kapolres Batang Diganti di Saat-saat Genting Pengamanan Pemilu 2024

Kali ini, PHRI turut membantu penanganan stunting dengan memberikan PMT baik untuk balita kurang berat badan maupun ibu hamil dengan KEK ataupun anemia.

"Nanti, teman-teman puskesmas mengambil makanan ke hotel-hotel, didrop ke kelurahan. Ada dari teman-teman Disdalduk, tim pendamping keluarga. Mereka yang akan membagikan kepada anak maupun ibu," terang Ita, sapaannya.

Ita melanjutkan, tim pendamping keluarga ini yang akan turut memonitor perkembangan para ibu maupun balita yang mendapatkan PMT ini.

Baca Juga: Profil Instagram Sivakorn Puudom, Sosok Wasit VAR Pertandingan Indonesia vs Irak di Piala Asia 2023, yang Diwarnai Gol Berbau Offside

Pasalnya, pemberian PMT ini merupakan upaya mengejar tumbuh kembang.

Sehingga, diharapkan bisa mempercepat anak lulus stunting dan ibu lulus KEK atau anemia. 

"Nanti juga akan dilinkan, Kemenkes akan monitor sehingga, ketahuan perkembangan seperti apa," terangnya.

Saat ini, sebut Ita, kasus stunting di Kota Lunpia sebanyak 872 anak. Sedangkan, kasus ibu KEK maupun anemia sebanyak 774 orang. 

Baca Juga: Sejarah dan Juga Perjalanan Pulo Kenanga di Kompleks Pesanggrahan Tamansari: Keindahan yang Tersembunyi

Ita berencana memperluas kerjasama penanganan stunting tidak hanya PHRI. Pihaknya akan menggandeng Aprindo untuk penyediana bahan makanan sehat.

"Aprindo punya standar buah sayur yang melebihi batas namun masih bagus bisa dimanfaatkan untuk masyarakat yang membutuhkan," tuturnya.

Sementara itu Dirjen Kesehatan Masyarakat Kemenkes, Maria Endang Simiwi merespon positif partisipasi PHRI dalam penanganan stunting di Kota Semarang.

Bahkan, dia memberikan apresiasi menu yang disajikan memiliki efek kuat dalam penurunan stunting yakni dengan dua protein hewani.

"Menunya kita lihat, dua macam protein. Jadi menu yang memiliki satu jenis protein hewani bisa menurunkan stunting. Tapi, dua jenis protein hewani lebih cepat menurunkan stunting. Efek lebih kuat. Menunya bagus," jelasnya. 

Meski dari sisi menu sudah bagus, menurutnya, perlu partisipasi masyarakat dalam pengaplikasian pemberian PMT ini. Orang tua tetap harus memberikan makanan sehari-hari seperti buasa.

"Ini makanan tambahan. Makanan sehari-hari jalan. Ini namanya tumbuh kejar. Butuh ekstra. Menu dipastikan standar karen dipantau ahli gizi," tambahnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.