Apakah Negara Mampu Mengakomodir Aspirasi Gen-Z dalam Pemanfaatan Teknologi? Ini Jawabannya!

AKURAT.CO, Economic Societi 4.0 adalah konsep masyarakat yang berbasis teknologi.
Konsep ini diharapkan menjadikan masyarakat mampu menyelesaikan berbagai tantangan dengan berbagai teknologi yang tercipta.
Lalu bagaimana Gen-Z menghadapi tantangan di era 4.0. ini?
Hal tersebut dalam dialog pilar kebangsaan DPRD Jawa Tengah bersama Anggota Komisi E DPRD, Yudi Indras Suwindarto, Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata jawa Tengah Agung Haryadi, Tokoh Pemuda Kevin Sadewa.
Baca Juga: 11 Pelaku Tawuran di Kadipiro Diamankan Resmob Polresta Surakarta
Yudi Indras mengatakan Gen-Z secara umum hari ini menjadi benar-benar penuh gairah dan cenderung lapar terhadap teknologi serta perkembangan zaman.
Menurut Yudi, Gen-Z banyak yang produktif di berbagai sektor baik formal maupun informal.
“Bahkan di beberapa BUMN ada informasi jika melakukan rekrutmen memprioritaskan Gen-Z,” ujar Yudi pada Jum’at (15/12/2023).
Yudi mengatakan, sebenarnya tema yang seharusnya diambil bukan “siapkah Gen-Z dengan Teknologi” tapi “Siapkah Negara dengan Teknologi.
Baca Juga: Penangkapan Belasan Terduga Pelaku Bentrokan Maut di Semarang
“Karena saya sering mengisi kegiatan di sekolah-sekolah yang ternyata mereka sangat menguasai teknologi. Tinggal apakah negara ini faham bahwa teknologi di tangan Gen-Z ini menjadi lebih baik atau mengakibatkan fraud,” ujarnya.
“Kenapa demikian, karena hari ini Gen-Z lebih banyak belajar dari teknologi, bukan dari orang tua atau guru,” tandasnya
Kemudian Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata jawa Tengah Agung Haryadi mengatakan hari ini di sektor industri ataupun inovasi kreatif cukup memberikan dampak ekonomi yang signifikan. Usia pemuda sendiri berdasarkan UU 40 2009 itu antara 16 hingga 30 tahun.
Baca Juga: Kabar Film Deadpool 3: Antisipasi Menuju Perubahan Besar di MCU
“Nah itu kan beririsan dengan Gen-Z. di mana kalai kita tarik 30 tahun maka pemuda adalah anak kelahiran 1993,” ujarnya.
Menurut Agung Haryadi, di usia 30 tahun ke bawah itu, adalah usia strategis untuk mendidika mereka menjadi bermanfaat bagi bangsa. Karena menurut Agung, pemerintah dalam mendidik Gen-Z dengan pendekatan kemanfaatan seiring dengan perkembangan teknologi.
“Selain itu, kami membantu Gen-Z untuk mencapai cita-citanya,” ungkapnya.
Baca Juga: Salah Satu Sejarah Raden Saleh: Seniman dan Arkeolog Indonesia yang Menggali Jejak Fosil
Agung Haryadi menjelaskan soal berkembangnya teknologi di tangan Gen-Z itu adalah keniscayaan, di situ pihaknya sebagai pemerintah harus siap karena mereka terlahir di dunia digital. Agung mengatakan peran negara harus melakukan pengaturan dengan menelurkan regulasi-regulasi sekaligus memberikan ruang kepada Gen-Z untuk berkreasi dengan teknologi.
Di akhir, Tokoh Gen-Z, Kevin Sadewa mengatakan dirinya dari generasi saya sebenarnya sudah sangat siap menghadapi apapun yang berkaitan dengan teknologi.
“Cuman negara atau pemerintah apakah mampu menyesuaikan dengan trend Gen-Z. Karena Gen-Z sendiri sebetulnya mampu berkreasi dan menciptakan lapangan pekerjaan sendiri,” ujarnya.
Kevin mencontohkan saat tik-tok shop ditutup, hal tersebut sangat memukul Gen-Z, karena dari situ Gen-Z mampu mengghasilkan miliaran hanya dari jualan on-line. Nah tapi dari negara menutup sedemikan rupa tanpa ada arahan atau edukasi agar kreatifitas seperti itu bisa bertahan.
“Karena market jualan kita itu dari digital. Nah di sini pemerintah seharusnya merangkul apakah dengan membentuk media sosial sendiri atau memfasilitasi kerjasama dengan vendor-vendor digital,” tutupnya.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










