DP3A Kota Semarang Terus Beri Bantuan Hukum dan Pendampingan Terhadap Korban Kekerasan Seksual Oleh Guru Ngaji

AKURAT.CO SEMARANG - Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Semarang memberikan pendampingan psikologi dan bantuan hukum kepada korban kekerasan seksual di Semarang Barat.
Kepala DP3A Kota Semarang, Ulfi Imran Basuki mengatakan, telah mendapat laporan terkait kasus kekerasan seorang guru terhadap muridnya. Dia mengaku prihatin dengan kejadian tersebut.
Kasus itu merupakan tindak pindana. Pihaknya pun menyerahkan sepenuhnua kepada aparat penegak hukum. Sementara, DP3A memiliki tugas untuk melakukan pendampingan.
Baca Juga: Neuralgin: Klarifikasi Nafa Urbach dan Rincian Penting Mengenai Obat Nyeri Kontroversial
Laporan yang diterima DP3A, ada 17 korban kekerasan seksual yang dilakukan guru. Pihaknya telah memohon kepada orang tuanya untuk mendampingi korban.
"Kami minta izin kepada orang tua karena tidak semuanya mau. Kita minta ke orang tua, kalau diperkenankan kami mendampingi karena korban pasti trauma," tutur Ulfi, Jum'at (24/11/2023).
Ulfi memaparkan, DP3A memiliki unit pelaksana teknis daerah (UPTD) yang siap memberikan pendampingan psikologi dan hukum. Ada dua psikolog dan satu lawyer yang siap melayani warga jika terjadi kasus kekerasan.
Baca Juga: Nafa Urbach Buka Suara: Klarifikasi Terkait Kontroversi Penggunaan Obat Keras
"Korban akan jadi saksi di pengadilan. Mereka tentu butuh pendamping bisa, menggunakan lawyer sendiri. Namun, kami juga siap melayani gratis," katanya.
Lebih lanjut, Ulfi menyebut, data kekerasan di Kota Semarang sepanjang 2023 ini sebanyak 199 kasus. Sebanyak 21 korban merupakan anak-anak, dan sisanya perempuan.
"Sejauh ini, tidak ada kornan laki-laki," ungkapnya.
Dia mengajak seluruh pihak bersam-sama mencegah kekerasan pada perempuan dan anak. Pemerintah membutuhkan kerjasama seluruh pihak.
Apalagi, biasanya pelaku kekerasan merupakan orang terdekat korban.
Tentu, hal ini dapat mendatangkan trauma yang berkepanjangan.
Baca Juga: Inovasi Tanpa Henti: Eksplorasi Serta Rekomendasi 8 Seri HP OPPO Reno Terbaru di Tahun 2023
"Kami harap kekerasan tidak terjadi kepasa siapapun. Kami butuh kerjasama. Masyarakat bisa berpartisipasi dalam pencegahan. Partisipasi keluarga juga sangat dibutuhkan," ucapnya.
Menurutnya, partisipasi keluarha bisa diwujudkan dengan menguatkan edukasi moral, etika, agama, maupun budaya.
Selain itu, keluarga juga harus membangun komunikasi yang baik antaranggota keluarga, membangun ikatan emosional, menjaga anggota keluarha dari pengaruh negatif lingkungan dan pergaulan bebas.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Peringkat FIFA Oman vs Indonesia Malam Ini: Jika Menang, Seri, atau Kalah, Posisi Timnas Garuda Bisa Berubah
- 2iPhone 18 Pro Bocor di Internet, Warna Dark Cherry Jadi Daya Tarik Utama
- 3Barcelona Siapkan Siasat Licik: Tawar Rashford Rp 260 Miliar, MU Dipojokkan Demi Bebaskan Gaji
- 4Terungkap! Ini Alasan Thom Haye Tidak Diturunkan Saat Indonesia vs Oman, Ternyata Masih Jalani Sanksi FIFA
- 5Man City dan Bayern Saling Sikut Rekrut Bek Chelsea, Maresca Ingin Reuni dengan Mantan Anak Buah
- 6Terungkap! Ini Alasan Layvin Kurzawa Tinggalkan Persib Bandung! Dua Pemain Asing Lain Segera Menyusul?
- 7Shearer Buka Suara: Sandro Tonali Bisa ke MU Jika Dua Syarat Ini Terpenuhi, Bandrol £90 Juta!
- 8Morgan Rogers Siap Gabung Arsenal, Roy Keane: 'Dia Mengingatkan Saya pada Paul Gascoigne'
- 9Bukan Sekadar Ganti Pelatih, Liverpool Siap Rekrut 5 Pemain Baru di Era Iraola
- 10Newcastle Sikat Brighton, Tottenham, dan Chelsea: Resmi Amankan Kiper Masa Depan Prancis







