Jateng

Harga Steam Deck OLED Melonjak hingga Rp 5 Juta, Ini Faktor yang Membuatnya Makin Mahal

Dody H | 2 Juni 2026, 16:48 WIB
Harga Steam Deck OLED Melonjak hingga Rp 5 Juta, Ini Faktor yang Membuatnya Makin Mahal
Steam Deck OLED (istimewa)

JATENG.AKURAT.CO, Kabar kurang menyenangkan datang bagi para penggemar perangkat gaming portabel. 

Valve resmi mengumumkan kenaikan harga lini Steam Deck OLED pada 2026. 

Kenaikan tersebut cukup besar dan membuat harga handheld gaming andalan Valve itu semakin mendekati segmen premium.

Perubahan harga ini mengikuti tren yang tengah terjadi di industri perangkat keras global, di mana berbagai produsen konsol dan perangkat gaming mulai menyesuaikan harga akibat meningkatnya biaya produksi serta tekanan pada rantai pasok komponen.

Steam Deck OLED 512 GB Naik hingga Rp 14 Jutaan

Varian Steam Deck OLED dengan kapasitas penyimpanan 512 GB kini dijual seharga 789 dolar AS atau sekitar Rp 14 juta. 

Sebelumnya, model ini dibanderol 549 dolar AS atau sekitar Rp 9,7 juta.

Dengan demikian, terjadi kenaikan sekitar 240 dolar AS atau hampir Rp 5 juta untuk satu unit perangkat. 

Lonjakan tersebut menjadi salah satu kenaikan harga terbesar yang pernah terjadi pada lini Steam Deck sejak pertama kali diperkenalkan.

Tidak hanya model 512 GB, varian tertinggi dengan kapasitas penyimpanan 1 TB juga mengalami penyesuaian harga yang lebih drastis. 

Model ini kini dijual seharga 949 dolar AS atau setara Rp 16,9 juta, naik sekitar 300 dolar AS dibanding harga sebelumnya.

Steam Machine Berpotensi Sulit Bersaing

Naiknya harga Steam Deck turut memunculkan kekhawatiran mengenai masa depan perangkat gaming lain yang dikembangkan Valve, termasuk konsep Steam Machine yang sempat menjadi pembahasan di kalangan gamer.

Dengan harga perangkat yang terus meningkat, pasar perangkat gaming berbasis PC berpotensi semakin sulit menjangkau konsumen yang menginginkan solusi gaming dengan biaya lebih terjangkau.

Valve Menyusul Produsen Konsol Lain

Meski mengejutkan, langkah Valve sebenarnya sejalan dengan kebijakan yang sebelumnya sudah dilakukan para kompetitor.

Microsoft lebih dulu menaikkan harga seluruh lini Xbox Series S dan Xbox Series X. 

Saat ini, Xbox Series X versi disk drive dipasarkan dengan harga sekitar 650 dolar AS atau setara Rp 11,5 juta.

Sementara itu, Sony juga melakukan penyesuaian harga pada PlayStation 5 Pro yang kini menyentuh angka 900 dolar AS atau sekitar Rp 16 juta.

Di sisi lain, Nintendo turut menaikkan harga Nintendo Switch 2 menjadi 500 dolar AS atau sekitar Rp 8,9 juta. 

Meski mengalami kenaikan, harga konsol Nintendo tersebut masih berada jauh di bawah Steam Deck OLED versi terbaru.

Penyebab Harga Steam Deck dan Konsol Meningkat

Ada beberapa faktor yang menjadi pemicu kenaikan harga perangkat gaming dalam beberapa tahun terakhir.

Salah satunya adalah kebijakan tarif impor yang diterapkan Amerika Serikat terhadap sejumlah negara produsen perangkat elektronik. 

Kebijakan tersebut menciptakan ketidakpastian biaya produksi dan distribusi bagi perusahaan teknologi global.

Selain faktor tarif, industri juga tengah menghadapi kelangkaan komponen memori atau RAM yang berdampak besar pada biaya produksi perangkat elektronik.

Saat ini banyak perusahaan teknologi berinvestasi besar-besaran dalam pembangunan pusat data kecerdasan buatan (AI). 

Infrastruktur AI membutuhkan kapasitas memori dalam jumlah sangat besar, sehingga produsen chip memori lebih memilih memasok kebutuhan sektor tersebut yang menawarkan margin keuntungan lebih tinggi.

Akibatnya, pasokan RAM untuk perangkat konsumen menjadi lebih terbatas dan harganya mengalami kenaikan signifikan. 

Dampak berantai dari kondisi tersebut akhirnya dirasakan oleh produsen konsol, handheld gaming, hingga komputer pribadi.

Bagi konsumen Indonesia, kenaikan harga semakin terasa karena nilai tukar dolar AS terhadap rupiah yang masih relatif tinggi. 

Kondisi ini membuat harga jual perangkat elektronik impor menjadi lebih mahal dibandingkan beberapa tahun lalu.

Industri Game Kian Mengarah ke Segmen Premium

Mahalnya harga perangkat gaming memunculkan kekhawatiran mengenai aksesibilitas industri game ke depannya. 

Konsol dan perangkat gaming yang sebelumnya dapat dijangkau lebih banyak kalangan kini perlahan berubah menjadi produk premium.

Situasi ini berpotensi mengurangi jumlah pemain baru yang masuk ke ekosistem gaming. 

Padahal, semakin banyak pengguna yang aktif memainkan game, semakin besar pula peluang pengembang dan penerbit game memperoleh keuntungan.

Bahkan pemilik konsol generasi lama juga menghadapi tantangan tersendiri. Sejumlah game populer mulai menghentikan dukungan untuk perangkat lawas seperti PlayStation 4 dan Xbox One. 

Artinya, gamer yang ingin tetap menikmati judul-judul terbaru harus melakukan upgrade ke perangkat generasi baru yang harganya kini jauh lebih tinggi.

Untuk saat ini belum ada tanda-tanda harga konsol akan kembali turun dalam waktu dekat. 

Banyak pengamat menilai stabilisasi harga baru bisa terjadi apabila pasokan komponen memori kembali normal dan permintaan dari sektor AI mulai menurun. 

Hingga saat itu terjadi, gamer tampaknya harus bersiap menghadapi era baru di mana perangkat gaming menjadi investasi yang semakin mahal.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.