Jateng

Kulik Fakta Unik Makan Gratis di Belanda: Sekolah Bisa Pilih Kulkas Isi Ulang atau Voucher Belanja

Theo Adi Pratama | 13 April 2026, 17:23 WIB
Kulik Fakta Unik Makan Gratis di Belanda: Sekolah Bisa Pilih Kulkas Isi Ulang atau Voucher Belanja

JATENG.AKURAT.CO, Di tahun 2026, Belanda tidak hanya dikenal dengan kincir angin dan kanalnya yang romantis.

Di balik itu, Negeri Tulip ini memiliki beragam program makan gratis yang sangat terstruktur, inovatif, dan berbasis komunitas.

Mulai dari jaminan makan siang untuk anak sekolah, dukungan dana dari Uni Eropa untuk program buah dan susu gratis, hingga kulkas bersama yang tersebar di sudut-sudut kota, semuanya dirancang untuk memastikan tidak ada warga yang kelaparan dan tidak ada makanan yang terbuang sia-sia.

Fenomena ini tentu menjadi pelajaran berharga bagi Indonesia, yang saat ini tengah menggalakkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan target cakupan yang sangat luas.

Apa saja fakta unik di balik program makan gratis Belanda yang mungkin tidak diketahui banyak orang, dan bagaimana Indonesia bisa belajar dari pengalaman mereka? Berikut ulasan lengkapnya berdasarkan data dari berbagai sumber terpercaya.

Baca Juga: Bukan Dongeng! Fakta Unik Program Makan Siang Gratis Inggris 2026, Bisa Jadi Contoh Buat Indonesia

Fakta Unik #1: Program Makanan Sekolah (School Meals Programme) 2026, Anggaran Rp2,3 Triliun untuk 350.000 Anak

Salah satu pilar utama program makan gratis di Belanda adalah Programma Schoolmaaltijden (Program Makanan Sekolah).

Diluncurkan pada tahun 2023, program ini awalnya dialokasikan dana sebesar €100 juta (sekitar Rp1,7 triliun) untuk menjangkau sekitar 300.000 siswa.

Memasuki tahun 2026, program ini tidak hanya diperpanjang, tetapi juga diperkuat.

Kabinet Belanda secara resmi mengalokasikan dana struktural sebesar €135 juta (sekitar Rp2,3 triliun) untuk program makanan sekolah hingga akhir tahun ajaran 2025-2026.

Kini, program ini menjangkau lebih dari 350.000 siswa di seluruh Belanda, atau sekitar satu dari lima sekolah di negara tersebut berpartisipasi.

Yang menarik, program ini dirancang dengan fleksibilitas tinggi.

Sekolah yang memenuhi syarat (minimal 30% siswa berasal dari keluarga berpenghasilan rendah) dapat memilih dua opsi: menyelenggarakan makanan gratis di sekolah (bisa sarapan atau makan siang) atau memberikan voucher belanja sebesar €11 (sekitar Rp187.000) per minggu kepada orang tua untuk dibelanjakan di supermarket.

Opsi voucher ini menjadi pilihan populer, terutama di sekolah menengah yang tidak memiliki jam makan siang tetap.

Program ini dijalankan oleh Palang Merah Belanda dan Dana Pendidikan Pemuda (Jeugdeducatiefonds) sehingga staf pengajar tidak terbebani dengan tugas tambahan.

Relevansi untuk Indonesia: Program MBG Indonesia dapat mengadopsi fleksibilitas ini. Tidak semua sekolah memiliki fasilitas dapur yang memadai.

Opsi voucher belanja bisa menjadi solusi alternatif yang efektif, sekaligus memberdayakan ekonomi lokal.

Selain itu, keterlibatan organisasi masyarakat sipil (seperti Palang Merah) dalam pelaksanaan program dapat mengurangi beban birokrasi dan meningkatkan efisiensi.

Fakta Unik #2: Program Buah & Susu Gratis dari Uni Eropa untuk 20 Minggu

Selain program nasional, Belanda juga menjadi peserta aktif dalam skema makanan gratis yang didanai oleh Uni Eropa.

Untuk tahun ajaran 2025-2026, Belanda untuk ke-18 kalinya berpartisipasi dalam EU School Fruit, Vegetables and Milk Scheme (Program Buah, Sayur, dan Susu Sekolah Uni Eropa).

Program yang didanai sepenuhnya oleh UE ini memberikan buah dan sayur gratis selama 20 minggu (3 buah/sayur per siswa per minggu) serta 2 porsi produk susu gratis per minggu (200 ml susu, buttermilk, atau yogurt) kepada siswa di sekolah dasar dan menengah khusus.

Program ini tidak hanya sekadar membagikan makanan, tetapi juga dibarengi dengan pendidikan pangan (voedseleducatie) yang mengajarkan anak-anak tentang asal-usul makanan, pentingnya gizi seimbang, dan cara mengurangi limbah makanan.

Relevansi untuk Indonesia: Program MBG dapat menjalin kemitraan dengan lembaga internasional atau perusahaan swasta untuk mendapatkan tambahan pendanaan atau dukungan teknis.

Komponen edukasi gizi juga perlu dimasukkan secara sistematis, bukan hanya sekadar pembagian makanan. Ini akan menciptakan dampak jangka panjang pada kebiasaan makan anak-anak Indonesia.

Fakta Unik #3: Buurtkoelkast (Kulkas Lingkungan) yang Menggerakkan Komunitas

Jika program pemerintah berfokus pada institusi, Belanda juga memiliki inisiatif akar rumput yang luar biasa: Buurtkoelkast atau Kulkas Lingkungan.

Ini adalah kulkas publik yang ditempatkan di ruang terbuka (seperti pusat komunitas), di mana warga dapat menyumbangkan makanan yang masih layak konsumsi dan warga lain dapat mengambilnya secara gratis dan anonim tanpa perlu registrasi atau syarat apapun.

Di Rotterdam, inisiatif ini berkembang pesat. Sebuah buurtkoelkast di Thuis in Charlois dibuka pada Desember 2025 dan sejak Januari 2026, warga dapat mengadopsi kulkas komunitas dengan difasilitasi oleh pemerintah kota.

“Kami ingin kulkas ini menjadi tempat di mana orang saling membantu, tanpa hambatan, tanpa rasa malu,” ujar Madelon Stoele, salah satu penggerak proyek.

Kulkas ini menyimpan segala macam makanan, dari sayuran dan buah-buahan hingga produk kemasan yang belum dibuka.

Konsep ini juga selaras dengan target nasional Belanda untuk mengurangi limbah makanan hingga 50% pada tahun 2030.

Relevansi untuk Indonesia: Program MBG yang berpotensi menghasilkan limbah makanan (misalnya, sisa makanan yang tidak habis) dapat dikelola dengan model serupa. Pemerintah daerah dapat memfasilitasi "kulkas komunitas" atau "lemari makanan bersama" di tingkat kelurahan atau masjid.

Ini tidak hanya membantu mereka yang membutuhkan, tetapi juga mengurangi limbah makanan, sebuah isu yang sering dikaitkan dengan program makanan berskala besar. Selain itu, program ini bisa menjadi motor penggerak gotong royong lokal.

Fakta Unik #4: Inisiatif Makan Malam Komunal & Bank Makanan yang Solid

Di luar program sekolah dan kulkas lingkungan, Belanda juga memiliki ekosistem dapur komunitas dan bank makanan yang sangat solid.

Di Amsterdam, misalnya, terdapat Mensa Mensa, sebuah kantin umum dan dapur yang menyediakan makanan sehat dan terjangkau. "Anggaran kecil?

Tidak masalah, semua orang diterima untuk mendapatkan porsi makanan lezat dan sehat, bisa dimakan di tempat atau dibawa pulang," demikian deskripsi inisiatif ini.

Selain itu, Voedselbank (Bank Makanan) Belanda terus beroperasi di tahun 2026, memberikan paket makanan gratis mingguan kepada mereka yang tidak memiliki cukup uang untuk membeli makanan.

Nilai bantuan non-tunai untuk makanan gratis pada tahun 2026 diperkirakan mencapai €345 per bulan (sekitar Rp5,8 juta) per orang.

Kriteria untuk mendapatkan bantuan pun terus diperluas agar lebih banyak orang yang terjangkau.

Relevansi untuk Indonesia: MBG tidak harus berhenti di lingkungan sekolah. Program ini dapat diperluas untuk menjangkau kelompok rentan lainnya seperti lansia, ibu hamil, dan balita, seperti yang telah dilakukan oleh program MBG Indonesia saat ini.

Selain itu, dukungan terhadap bank makanan lokal dapat menjadi bagian dari strategi distribusi pangan yang lebih inklusif, terutama di masa-masa sulit (misalnya, saat krisis ekonomi atau bencana alam).

Fakta Unik #5: Inisiatif Swasta "LunchMaatjes" & Nasional School Breakfast

Keterlibatan sektor swasta dan masyarakat sipil juga menjadi kekuatan utama program makan gratis Belanda.

LunchMaatjes adalah organisasi sosial yang didirikan oleh seorang mantan bankir yang prihatin melihat anak-anak sekolah datang tanpa sarapan atau makan siang.

Memasuki tahun 2026, LunchMaatjes telah berkembang menjadi perusahaan sosial profesional yang bekerja dengan 13 sekolah di Utrecht dan Hilversum, menyediakan makan siang sehat untuk 2.300 anak setiap hari sekolah.

Tim yang terdiri dari 35-40 orang (staf tetap dan sukarelawan) mengoperasikan dapur profesional untuk mewujudkan misi ini.

Sementara itu, Nationaal Schoolontbijt (Sarapan Sekolah Nasional) adalah program tahunan yang diadakan pada bulan November.

Pada tahun 2026, program ini diadakan di sekitar 1.700 sekolah dasar, dengan tujuan sederhana namun kuat: setiap anak, setiap hari, sarapan sehat.

Relevansi untuk Indonesia: Program MBG tidak harus sepenuhnya digerakkan oleh pemerintah. Pemerintah dapat berperan sebagai fasilitator dan katalis, menciptakan lingkungan yang kondusif bagi inisiatif swasta dan komunitas untuk tumbuh.

Program Corporate Social Responsibility (CSR) dari perusahaan besar dapat diarahkan untuk mendukung dapur komunitas atau program sarapan di sekolah-sekolah yang belum terjangkau.

Selain itu, keterlibatan sukarelawan (ibu-ibu PKK, mahasiswa, karang taruna) dapat menjadi solusi untuk mengatasi keterbatasan sumber daya manusia di tingkat lokal.

FAQ: Pertanyaan yang Sering Diajukan

Q: Apakah semua program makan gratis di Belanda benar-benar gratis?
A: Ya, untuk penerima yang memenuhi syarat. Program sekolah gratis untuk siswa dari keluarga berpenghasilan rendah atau untuk semua siswa di sekolah dengan kriteria tertentu. Program kulkas lingkungan dan bank makanan sepenuhnya gratis tanpa syarat. Program Uni Eropa juga gratis untuk semua siswa yang berpartisipasi.

Q: Berapa besar anggaran yang dialokasikan Belanda untuk program makan gratis sekolah pada 2026?
A: Pemerintah Belanda mengalokasikan dana struktural sebesar €135 juta (sekitar Rp2,3 triliun) untuk Program Makanan Sekolah (Programma Schoolmaaltijden) hingga akhir tahun ajaran 2025-2026, yang mencakup tahun 2026. Program ini menjangkau lebih dari 350.000 siswa.

Q: Apakah ada program makan gratis yang melibatkan masyarakat secara langsung di Belanda?
A: Ada. Konsep Buurtkoelkast (Kulkas Lingkungan) di Rotterdam adalah contoh utama. Warga dapat menyumbang dan mengambil makanan secara gratis dan anonim tanpa registrasi. Pemerintah kota bahkan memfasilitasi warga yang ingin mengadopsi kulkas komunitas.

Q: Bagaimana dengan program makan gratis yang didanai oleh Uni Eropa?
A: Belanda berpartisipasi dalam EU School Fruit, Vegetables and Milk Scheme. Program ini memberikan buah, sayur, dan produk susu gratis selama 20 minggu kepada siswa, lengkap dengan edukasi pangan tentang gizi seimbang dan pengurangan limbah makanan.

Q: Apa yang bisa dipelajari Indonesia dari program makan gratis Belanda?
A: Setidaknya ada lima pelajaran penting: (1) fleksibilitas program (sekolah bisa pilih menyelenggarakan makanan atau memberikan voucher); (2) integrasi edukasi gizi; (3) keterlibatan aktif masyarakat melalui kulkas lingkungan; (4) pendanaan dari berbagai sumber (pemerintah, UE, swasta); (5) kemitraan dengan organisasi masyarakat sipil untuk pelaksanaan program.

Penutup

Dari program makanan sekolah dengan anggaran €135 juta yang fleksibel, hingga kulkas lingkungan di sudut-sudut kota yang digerakkan oleh warga, Belanda telah membuktikan bahwa mengatasi kelaparan dan limbah makanan bukan hanya tugas pemerintah, tetapi juga tanggung jawab bersama.

Pendekatan multi-pihak yang melibatkan pemerintah, Uni Eropa, sektor swasta, dan komunitas lokal terbukti efektif dan berkelanjutan.

Bagi Indonesia, program MBG yang ambisius dapat belajar banyak dari pengalaman Belanda.

Fleksibilitas dalam pelaksanaan, integrasi edukasi gizi, pemberdayaan komunitas lokal, serta kemitraan dengan berbagai pemangku kepentingan adalah kunci untuk menciptakan program yang tidak hanya memberi makan, tetapi juga membangun kesadaran dan kemandirian pangan jangka panjang.

Pertanyaannya sekarang, apakah Indonesia siap untuk mengadopsi model yang lebih inklusif dan berkelanjutan ini?

Apakah Anda memiliki pengalaman dengan program makan gratis di lingkungan Anda? Atau mungkin Anda memiliki ide tentang bagaimana Indonesia bisa belajar lebih banyak dari praktik terbaik negara lain?

Bagikan pendapat Anda di kolom komentar—karena masa depan generasi penerus bangsa adalah tanggung jawab kita bersama.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.