Mengulik Sejarah Malang: Dari Kanjuruhan hingga Majapahit, Jejak Kota Kuno yang Menjadi Simbol Perlawanan dan Kejayaan Nusantara

JATENG.AKURAT.CO, Malang, kota yang kini dikenal dengan hawa sejuknya dan keindahan alamnya, menyimpan sejarah panjang yang bermula dari sebuah kerajaan kuno bernama Kanjuruhan.
Dari pusat spiritual hingga menjadi saksi kejayaan dan keruntuhan kerajaan-kerajaan besar seperti Singasari dan Majapahit, Malang adalah bukti nyata bahwa tanah ini bukan sekadar tempat, melainkan simbol ketahanan dan kebijaksanaan. Bagaimana kisahnya? Mari kita telusuri lebih dalam.
Kanjuruhan: Awal Mula Peradaban di Tanah Malang
Pada abad ke-8 Masehi, di dataran subur yang dikelilingi pegunungan dan sungai jernih, berdiri Kerajaan Kanjuruhan.
Dipimpin oleh Raja Gajayana, kerajaan ini menjadi pusat kebudayaan dan spiritual yang makmur.
Raja Gajayana dikenal sebagai pemimpin bijaksana yang peduli pada kesejahteraan rakyatnya.
Di bawah kepemimpinannya, Kanjuruhan tidak hanya maju secara ekonomi, tetapi juga menjadi pusat agama Hindu yang berpengaruh.
Suatu hari, Raja Gajayana mendapat penglihatan spiritual dari Dewa Siwa, yang memerintahkannya untuk membangun sebuah candi sebagai pusat pemujaan.
Candi tersebut, yang dinamakan Malangkuçeçwara (Tuhan yang Menghancurkan Kebatilan), menjadi simbol perlawanan terhadap ketidakadilan.
Pembangunannya melibatkan seluruh rakyat, dan candi ini pun menjadi pusat spiritual, pemerintahan, dan perdagangan.
Nama "Malang" sendiri diyakini berasal dari kata "Malangkuçeçwara," yang kemudian menjadi identitas wilayah ini.
Singosari: Kebangkitan Kekuasaan Baru
Beberapa abad setelah kejayaan Kanjuruhan, Malang memasuki babak baru di bawah kekuasaan Kerajaan Singasari.
Tokoh sentralnya adalah Ken Arok, seorang pemimpin ambisius yang lahir dari latar belakang sederhana.
Ken Arok berhasil merebut kekuasaan di Tumapel dan mendirikan Singasari, yang kemudian memperluas pengaruhnya hingga ke Malang.
Di bawah Singasari, Malang kembali menjadi pusat kekuasaan dan kebudayaan.
Ken Arok dan penerusnya, seperti Anusapati dan Kertanegara, menjadikan Malang sebagai wilayah strategis.
Kertanegara, raja terbesar Singasari, bahkan meluncurkan ekspedisi Pamalayu untuk memperluas pengaruh ke Sumatra.
Namun, ambisinya berakhir tragis ketika Jayakatwang dari Kediri menyerang dan meruntuhkan Singasari pada tahun 1292.
Majapahit: Puncak Kejayaan Nusantara
Runtuhnya Singasari bukanlah akhir. Raden Wijaya, menantu Kertanegara, bangkit dari kehancuran dan mendirikan Kerajaan Majapahit pada tahun 1293.
Dengan kecerdikan dan strategi, Raden Wijaya berhasil mengalahkan Jayakatwang dan pasukan Mongol, menjadikan Majapahit sebagai kerajaan terbesar dalam sejarah Nusantara.
Malang, sebagai bagian dari Majapahit, kembali mengalami kemajuan pesat.
Wilayah ini menjadi pusat pertanian, perdagangan, dan kebudayaan. Sistem irigasi diperbaiki, perdagangan internasional berkembang, dan kebudayaan Hindu-Buddha terus dipelihara.
Malang juga menjadi penghubung penting antara wilayah pedalaman Jawa dan pusat perdagangan di pesisir.
Namun, kejayaan Majapahit pun tidak abadi. Pada abad ke-15, kerajaan ini mulai mengalami kemunduran akibat persaingan internal dan tekanan dari kerajaan-kerajaan Islam di pesisir utara Jawa.
Meski begitu, Malang tetap bertahan sebagai wilayah penting dengan warisan budaya yang kaya.
Malang: Simbol Ketahanan dan Warisan Budaya
Nama "Malang" tidak hanya sekadar penanda geografis. Ia adalah simbol dari perjuangan melawan ketidakadilan, kejayaan kerajaan-kerajaan besar, dan ketahanan budaya yang bertahan hingga kini.
Dari Kanjuruhan hingga Majapahit, Malang telah menjadi saksi bisu sejarah panjang Nusantara.
Warisan ini masih terasa hingga hari ini. Candi-candi kuno, tradisi, dan cerita rakyat tentang Raja Gajayana, Ken Arok, dan Raden Wijaya terus hidup dalam ingatan kolektif masyarakat Malang.
Bahkan, nama "Malangkuçeçwara" masih diingat sebagai simbol perlawanan terhadap kebatilan.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










