Terbongkar! Fakta Unik di Balik Kecamatan Bruno Purworejo, Ternyata Dulunya Pernah Jadi Ibu Kota Jawa Tengah

JATENG.AKURAT.CO, Kecamatan Bruno, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, memiliki sejarah yang menarik dan unik.
Meskipun seringkali tidak dikenal luas oleh masyarakat, daerah ini pernah menjadi pusat perhatian nasional.
Kecamatan Bruno ternyata pernah ditetapkan sebagai Ibu Kota Jawa Tengah.
Berikut adalah beberapa fakta unik dan menarik tentang Kecamatan Bruno yang mungkin belum banyak diketahui.
Sejarah Singkat Kecamatan Bruno
Kecamatan Bruno dikenal sebagai daerah yang terpencil dan bergunung-gunung.
Namun, daerah ini memiliki sejarah yang kaya, terutama pada masa Perang Jawa (1825-1830).
Bruno menjadi tempat persembunyian Pangeran Diponegoro, salah satu tokoh perjuangan melawan penjajah Belanda.
Di wilayah Bagelen, Pangeran Diponegoro berhasil meraih kemenangan atas Belanda.
Namun, setelah kemenangan tersebut, pasukan Pangeran Diponegoro terdesak oleh pasukan musuh yang terus mengejar.
Legenda "Buronane Ora Ono"
Salah satu cerita legendaris dari Kecamatan Bruno adalah tentang pengawal Pangeran Diponegoro, Tumenggung Gajah Permana.
Konon, ia menggunakan jimat untuk mengubah dirinya menjadi macan dan menggendong Pangeran Diponegoro naik ke sebuah pohon besar.
Pasukan Belanda yang mengejar hanya berputar-putar di sekitar pohon, kebingungan mencari buruan mereka.
Tempat ini kemudian dinamakan "Bruno," yang merupakan akronim dari kalimat berbahasa Jawa "Buronane Ora Ono," yang berarti "buruannya tidak ada."
Bruno Sebagai Ibu Kota Jawa Tengah
Pada periode 1948-1949, Kecamatan Bruno menjadi ibu kota sementara Provinsi Jawa Tengah.
Karena wilayahnya yang terpencil, Bruno menjadi tempat yang ideal untuk persembunyian para pejuang kemerdekaan.
Gubernur Jawa Tengah saat itu, KRT Wongso Negoro, menempati rumah seorang penduduk desa bernama Dul Wahid untuk menjalankan pemerintahan. Wongso Negoro bahkan tidak membawa banyak barang, hanya pakaian yang ia kenakan.
Selain rumah penduduk, Wongso Negoro sering mengasingkan diri ke sebuah gua di daerah tersebut untuk menyusun strategi dan menghindari kejaran musuh.
Di gua ini juga disiapkan satu batalyon TNI yang dipimpin oleh R. Sroehardoyo.
Salah satu momen paling mengharukan adalah saat para anggota TNI merayakan upacara peringatan HUT ke-4 Republik Indonesia bersama-sama di Bruno.
Sisa-Sisa Sejarah di Bruno
Meskipun banyak bangunan bersejarah di Desa Giyombong, seperti kantor pemerintah dan rumah gubernur, kini sudah tidak ada yang tersisa karena bangunan tersebut telah ambruk.
Namun, bekas petilasan pemerintahan Jawa Tengah di Bruno masih bisa ditemui, memberikan bukti sejarah penting yang terjadi di wilayah ini.
Keindahan Alam Kecamatan Bruno
Selain kaya akan sejarah, Kecamatan Bruno juga memiliki potensi alam yang luar biasa.
Keindahan alamnya serta suasana sejuk yang menyergap membuat siapa pun akan betah berlama-lama di Bruno.
Angin sepoi-sepoi yang menerpa dan mata air alami yang terus mengalir membuat desa ini nyaris tidak pernah mengalami kekeringan meskipun musim kemarau tiba.
Kecamatan Bruno, dengan segala kekayaan sejarah dan keindahan alamnya, menawarkan daya tarik yang unik bagi para pengunjung.
Ini adalah tempat di mana sejarah dan keindahan alam berpadu, menciptakan destinasi yang memikat hati siapa saja yang mengunjunginya.
Fakta bahwa Kecamatan Bruno pernah menjadi ibu kota Jawa Tengah adalah bukti betapa pentingnya wilayah ini dalam sejarah Indonesia.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini







