Jateng

Memahami Sejarah Peringatan Hari Puputan Klungkung, 28 April: Sebuah Peristiwa Bersejarah yang Membentuk Daerah Klungkung di Bali

Theo Adi Pratama | 28 April 2024, 07:00 WIB
Memahami Sejarah Peringatan Hari Puputan Klungkung, 28 April: Sebuah Peristiwa Bersejarah yang Membentuk Daerah Klungkung di Bali

JATENG.AKURAT.CO, Klungkung, sebuah kabupaten kecil di Provinsi Bali, memiliki sejarah yang kaya dan memukau.

Berdiri di antara kabupaten-kabupaten lain seperti Gianyar, Bangli, dan Karangasem, Klungkung memiliki keunikan dalam sejarahnya yang mencakup peristiwa penting, termasuk Hari Puputan Klungkung.

Berdirinya Kerajaan Klungkung, menurut catatan resmi dari klungkungkab.go.id, dikaitkan dengan Ida I Dewa Agung Jambe pada tahun 1686 Masehi.

Ia adalah penerus Dinasti Gelgel, yang pada masa kejayaannya di bawah pemerintahan Dalem Watu Renggong, mencapai kemakmuran dan kesejahteraan bagi rakyatnya.

Namun, pada tahun 1650, terjadi pemberontakan yang mengakibatkan runtuhnya Kerajaan Gelgel.

Baca Juga: 6 Nama yang Digadang Masuk Bursa Pilkada Jepara, Siap Berebut Kursi Bupati

Salah satu tokoh yang berperan dalam pemberontakan ini adalah I Gusti Agung Maruti.

Anak dari Dalem Dimade, raja terakhir Gelgel, Ida I Dewa Agung Jambe, berhasil merebut kembali kerajaan dari tangan Gusti Agung Maruti pada tahun 1686 Masehi.

Ia mendirikan Istana Semarapura, atau Semarajaya, yang kemudian menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Klungkung.

Kerajaan Klungkung tidak berlangsung lama. Pada tanggal 28 April 1908, peristiwa penting terjadi di Klungkung.

Pasukan Belanda di bawah komando Jenderal M. B. Rost Van Tonningen menyerbu Kerajaan Klungkung.

Baca Juga: Ingin Gelar Nobar AFC U-23 Asian Cup? Cek Dulu Izin dari MNC Group!

Meskipun Raja Ida I Dewa Agung Jambe dan para pembesar kerajaan serta rakyatnya berjuang dengan gigih, akhirnya mereka gugur di medan perang.

Peristiwa ini dikenal sebagai "Puputan Klungkung" dan menandai jatuhnya Klungkung dan seluruh Bali di bawah kekuasaan Belanda.

Untuk memulihkan situasi setelah penaklukan Belanda, pemerintah kolonial memilih Ida I Dewa Agung Gede Oka Geg sebagai pemimpin yang tepat.

Dia diangkat sebagai regen (Zelfbesturder Landschap Van Klungkung) pada bulan Juli 1929.

Sejak saat itu, setiap tanggal 28 April ditetapkan sebagai Hari Puputan Klungkung dan juga Hari Ulang Tahun Kota Semarapura.

Baca Juga: Jadwal Pertandingan Lanjutan PLN Mobile Proliga 2024, Minggu 28 April 2024: Adu Gengsi di GOR Amongrogo Yogyakarta

Pada tanggal yang sama pada tahun 1992, nama Kota Klungkung diubah menjadi Kota Semarapura dan Monumen Puputan Klungkung diresmikan.

Sejarah Hari Puputan Klungkung adalah bagian penting dari warisan budaya Bali.

Ini mengingatkan kita akan keberanian dan semangat perlawanan terhadap penjajahan serta pentingnya memperingati peristiwa bersejarah untuk memahami dan menghargai masa lalu kita.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.