Mengulik Sejarah dan Perjalanan Tradisi Nyadran: Warisan Kebudayaan yang Tetap Dilakukan Hingga Kini

AKURAT.CO, Tradisi Nyadran merupakan salah satu warisan budaya yang telah mengakar kuat dalam masyarakat Indonesia, khususnya di Jawa.
Kegiatan ini tidak hanya sekadar ritual, namun juga menjadi wujud penghormatan dan doa bagi para leluhur yang telah meninggal dunia.
Setiap tahunnya, menjelang bulan suci Ramadan dan Lebaran, masyarakat Indonesia, dengan khususnya di Jawa, melakukan tradisi Nyadran sebagai bentuk pengabdian kepada sanak keluarga yang telah berpulang.
Baca Juga: Sejarah dan Perkembangan Masjid Sunan Muria: Mengungkap Jejak Sunan Muria di Colo, Kudus
Dilakukan sejak zaman Majapahit, tradisi Nyadran sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Jawa.
Pada masa Hindu-Budha, tradisi ini dikenal dengan nama craddha dan telah ada sejak tahun 1284 Masehi.
Sejarah mencatat bahwa Patih Gajah Mada bahkan pernah mengusulkan kepada Raja Hayam Wuruk untuk memperingati leluhur mereka, dan usulan tersebut diterima dengan baik, kemudian diwujudkan dalam bentuk tradisi dengan berbagai tata upacara, seperti yang tercatat dalam Ensiklopedia Syirik dan Bid'ah.
Menurut Raden Surojo, seorang pegiat sejarah dan budaya Solo Raya, kata "Nyadran" berasal dari Bahasa Sansekerta yang berarti mengingat leluhur.
Bahkan pada masa Majapahit, tradisi ini sudah dilakukan di beberapa candi sebagai penghormatan kepada leluhur, seperti Candi Kidal dan lainnya.
Meskipun masuknya agama Islam ke Tanah Jawa membawa perubahan dalam tata cara pelaksanaan, namun tradisi Nyadran tetap dijalankan tanpa henti.
Pada masa Kerajaan Demak dan Mataram Islam, tradisi Nyadran semakin berkembang dan diperintahkan oleh Sultan Agung untuk dilaksanakan secara rutin.
Bahkan, tradisi ini masuk dalam bulan Ruwah, yang dipercaya sebagai waktu yang tepat untuk mengangkat doa kepada para leluhur.
Dengan tetapnya tradisi Nyadran hingga kini, masyarakat Indonesia tidak hanya mengenang leluhur mereka, tetapi juga memperkokoh rasa persatuan dan kebersamaan dalam bingkai keberagaman budaya yang kaya.
Tradisi ini menjadi bukti bahwa nilai-nilai kearifan lokal tetap dijunjung tinggi dalam kehidupan masyarakat Indonesia, sekaligus menjaga keberlangsungan budaya leluhur yang patut dilestarikan.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Yadea RS20 Resmi Dijual Rp16,6 Juta, Motor Listrik Retro Bisa Tempuh hingga 80 Km
- 2Angin Segar Liverpool! PSG Mulai Luluh, Dua Bintang Siap ke Anfield
- 3Arsenal Siap Korbankan Gabriel Jesus, Napoli Bergerak Cepat! Como Bidik Striker Chelsea! Bursa Transfer Eropa Memanas
- 4Persib Juara Dewata Challenge Series 2026! Bangkit dari Ketertinggalan, Obati Kegagalan di Piala Presiden
- 5Chelsea vs Manchester United: Duel Perburuan Gelandang Prancis Manu Koné
- 6Barcelona Beralih ke Gyokeres setelah Alvarez Buntu, Arsenal Siap Melepas?
- 7Manchester United dan Arsenal Dapat Angin Segar di Bursa Transfer Bek Brugge
- 8Jamie Gittens Diprediksi Bertahan di Chelsea Usai Roma Beralih ke Target Lain
- 9Bom! Al Hilal Sepakat dengan Pedro Neto, Chelsea Siap Lepas dengan Harga €60 Juta
- 10Bukan Batal! Fabrizio Romano: Barcola ke Liverpool Masih Hidup dan Kian Menggembirakan









