Jateng

Mengenal Tokoh Pewayangan dari Perspektif Sejarah dan Budaya: Resi Manumayasa, Legenda Kebijaksanaan dan Kepahlawanan di Marcapada

Theo Adi Pratama | 29 Februari 2024, 16:00 WIB
Mengenal Tokoh Pewayangan dari Perspektif Sejarah dan Budaya: Resi Manumayasa, Legenda Kebijaksanaan dan Kepahlawanan di Marcapada

AKURAT.CO Sejarah, Dalam mitologi yang kaya akan cerita dan kearifan, salah satu tokoh yang memancarkan kebijaksanaan dan keberanian adalah Resi Manumayasa, yang juga dikenal dengan nama Kanumayasa atau Kariyasa.

Dilahirkan di Kahyangan Daksinageni sebagai putra kedua dari Bathara Parikenan dengan Dewi Bramaneki, Manumayasa memiliki garis keturunan yang mulia, sebagai cucu buyut Bathara Wisnu dan Bathara Brahma.

Bersama tiga saudaranya, Dewi Kanika, Resi Manobawa, dan Resi Paridarma, ia menjalani tugasnya di Marcapada, dunia manusia.

Baca Juga: Mengenal Tokoh Pewayangan dari Perspektif Sejarah dan Budaya: Dewi Arimbi, Kisah Kejujuran dan Pengorbanan Putri Raksasa

Tugas di Marcapada dan Pendirian Padepokan Retawu

Manumayasa turun ke Marcapada dengan tugas suci untuk memelihara ketentraman dan kesejahteraan umat manusia.

Dengan seizin Prabu Basukesti, Raja negara Wirata, ia mendirikan padepokan Retawu di Gunung Saptaarga.

Di sana, ia menikah dengan Dewi Kaniraras atau Dewi Retnowati, dan dikaruniai tiga orang putra: Bambang Manudewa, Bambang Sakutrem, dan Dewi Sriyati.

Baca Juga: Mengenal Tokoh Pewayangan dari Perspektif Sejarah dan Budaya: Ditya Aswanikumba, Kisah Pemberani Putra Arya Kumbakarna

Kepahlawanan melawan Raksasa

Bersama saudaranya, Sakutrem, Resi Manumayasa menunjukkan keberaniannya dalam pertempuran melawan tiga raksasa dari negara Nusahantara: Prabu Kalimantara, Arya Dadali, dan Arya Sarotama.

Mereka berdua berhasil mengalahkan para raksasa yang mengamuk di Suralaya, setelah keinginan mereka untuk memperistri Dewi Irimirin ditolak oleh Bathara Guru.

Jenazah ketiga raksasa tersebut berubah wujud menjadi Kitab Kalimasada, Panah Hrudadali, dan Panah Sarotama, sementara Paksi Banarasa yang menyerang Resi Manumayasa ikut menemui ajalnya dan berubah wujud menjadi Payung Tunggulnaga.

Baca Juga: Mengenal Tokoh Pewayangan dari Perspektif Sejarah dan Budaya: Bambang Aswatama, Kisah Tragis Putra Resi Drona dalam Perang Bharatayuddha

Kehidupan dan Akhir Kehidupan

Setelah usianya lanjut, Resi Manumayasa menyerahkan kepemimpinan Padepokan Retawu kepada Sakutrem.

Ia kemudian menjalani pertapaan di Gunung Saptaarga, di tempat yang dikenal sebagai Pertapaan Paremana. Di sana, ia hidup hingga usia tua dan meninggal dalam ketenangan.

Jenazahnya dimakamkan di Pertapaan Paremana, meninggalkan jejak kebijaksanaan dan keberanian yang akan dikenang selamanya.

Dalam cerita-cerita rakyat dan mitologi Jawa, Resi Manumayasa tetap menjadi simbol kebijaksanaan, kepahlawanan, dan ketenangan di tengah cobaan hidup.

Kisahnya menginspirasi banyak orang untuk menjalani kehidupan dengan penuh dedikasi, keberanian, dan ketenangan hati.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.