Jateng

Perjalanan dan Peran Masjid al-Muttaqin Kaliwungu: Pusat Spiritual dan Sejarah Kebangkitan Islam di Kendal

Theo Adi Pratama | 5 Februari 2024, 15:00 WIB
Perjalanan dan Peran Masjid al-Muttaqin Kaliwungu: Pusat Spiritual dan Sejarah Kebangkitan Islam di Kendal

AKURAT.CO Sejarah, Masjid al-Muttaqin Kaliwungu, yang terletak di daerah Kendal, Jawa Tengah, menjadi sebuah monumen sejarah yang sarat makna.

Meskipun tidak ada manuskrip autentik yang menjelaskan tahun pasti berdirinya, keberadaan masjid ini diyakini masyarakat memiliki akar sejak abad XVII M.

Pendirinya, Kiai Guru Asari, adalah tokoh utama yang mengukir perjalanan bersejarah masjid ini.

Baca Juga: Sejarah Masjid Tua Jerrae Allakuang: Cagar Budaya Berusia 414 Tahun di Sulawesi Selatan

Sejarah dan Silsilah Warisan

Tidak ada manuskrip resmi yang mencatat tahun berdirinya, tetapi masyarakat setempat meyakini bahwa Masjid al-Muttaqin Kaliwungu berdiri pada abad XVII M.

Makam Kiai Guru Asari, pendiri masjid, dan silsilah keluarganya yang dijaga hingga saat ini, menjadi bukti akan sejarah panjang masjid ini.

Kiai Guru Asari adalah putra Kiai Ismail dari Yogyakarta dan keturunan Maulana Malik Ibrahim.

Transformasi Bangunan Seiring Waktu

Masjid ini mengalami beberapa kali perbaikan dan penggantian struktur, mencerminkan dinamika perjalanan waktu dan perubahan kebutuhan masyarakat.

Menurut Kiai Farchan, pewaris kedelapan Kiai Guru Asari, perubahan asli masjid ini tidak tercatat dengan rinci, tetapi empat kali perbaikan terakhir tercatat.

Antara lain, penggantian atap dari daun alang-alang ke seng oleh Kiai Muhammad pada awal abad XX, kemudian penggantian atap seng ke genteng oleh Kiai Abdullah, putra Kiai Muhammad.

Pada tahun 1922, Kiai Abdul Rosyid mengembangkan bangunan masjid dan serambi, dan tahun 1955, Kiai Hisyam Naib melakukan perluasan karena jumlah jamaah yang membludak.

Baca Juga: Perjalanan Masjid Tua Katangka: Pusaka Sejarah dan Kecantikan Arsitektur di Sulawesi Selatan

Peran Pemimpin dan Pusat Pendidikan

Kiai Guru Asari dan Masjid Jami memberikan dampak besar terhadap masyarakat Kaliwungu dan sekitarnya.

Kini, daerah ini telah berkembang menjadi pusat pesantren yang terkenal dengan julukan "Kota Santri".

Pondok pesantren di daerah ini berkembang seperti jamur di musim hujan, menampung santri dari berbagai daerah di Indonesia.

Tradisi Syawalan dan Kearifan Lokal

Masjid ini menjadi pusat kegiatan unik, yaitu Upacara Syawalan yang diadakan setiap tanggal 7 hingga 14 Syawal setiap tahunnya.

Baca Juga: Sejarah dan Perjalanan Masjid Jami Tua Palopo: Saksi Abad Penyebaran Islam di Sulawesi Selatan

Upacara ini sebenarnya adalah upacara haul wafatnya Kiai Guru Asari, tetapi saat ini lebih dikenal sebagai pasar malam selama satu minggu, bahkan kadang-kadang setengah bulan.

Masyarakat muslim di Jawa Tengah, terutama para orang tua, merasa kurang lengkap jika tidak mengunjungi Upacara Syawalan ini, yang sebenarnya merupakan ziarah ke makam Kiai Guru Asari sebagai bentuk penghormatan atas perjuangannya menyebarkan agama Islam di daerah Kaliwungu.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.