Jateng

Sejarah dan Perjuangan Masa lalu: Kisah Perang Diponegoro, Sebuah Epik Perlawanan dan Dampaknya di Tanah Jawa

Theo Adi Pratama | 31 Januari 2024, 15:00 WIB
Sejarah dan Perjuangan Masa lalu: Kisah Perang Diponegoro, Sebuah Epik Perlawanan dan Dampaknya di Tanah Jawa

AKURAT.CO Sejarah, Perang Diponegoro, yang juga dikenal sebagai Perang Jawa, merupakan salah satu babak peperangan epik di tanah Jawa pada akhir abad ke-19.

Dalam perang yang berlangsung selama lima tahun (1825-1830) ini, banyak korban yang jatuh, baik dari pihak pribumi maupun tentara Belanda.

Pimpinan langsung dari perang ini dipegang oleh Pangeran Diponegoro, putra dari keraton Yogyakarta.

Baca Juga: Bangunan Sejarah di Yogyakarta: Monumen Kesatuan Pergerakan Wanita Indonesia, Mengenang Bhakti Wanitatama

Latar Belakang Perang Diponegoro

Perang Jawa menjadi salah satu konflik terbesar di Indonesia, memakan waktu selama lima tahun dan mengakibatkan kerugian besar di kedua belah pihak.

Hampir 20.000 orang Jawa meninggal dalam perang ini, sementara ribuan pasukan Belanda dan pasukan pribumi tewas.

Dengan dana sekitar 20 juta gulden yang dihabiskan oleh pemerintah Belanda, perang ini menciptakan penderitaan yang mendalam.

Perang Diponegoro berawal dari konflik sosial di dalam keraton Yogyakarta.

Kepemimpinan Sultan Hamengkubuwono II, yang dikenal dengan kebijakan yang memberatkan rakyat, memicu ketegangan di keraton.

Kebijakan pajak yang drastis dan cara-cara seperti pemerasan menyebabkan ketidakpuasan di kalangan masyarakat.

Setelah peristiwa Geger Sepehi pada tahun 1810, pemerintahan Sultan Hamengkubuwono II digantikan oleh putranya, Hamengkubuwono III, yang kemudian digantikan oleh Hamengkubuwono IV dan Hamengkubuwono V.

Konflik terus berlanjut, dan pada 1825, ketegangan mencapai puncaknya ketika pembangunan jalan di sekitar Yogyakarta menyulut perlawanan Diponegoro.

Baca Juga: Peninggalan Bangunan Sejarah di Yogyakarta: Situs Sokoliman, Memeluk Kekayaan Megalitikum Gunungkidul

Jalannya Perang Diponegoro

Pada 20 Juli 1825, upaya penangkapan terhadap Pangeran Diponegoro di Tegalrejo gagal, dan peristiwa ini memicu dimulainya Perang Jawa.

Pangeran Diponegoro melarikan diri ke Goa Selarong dan memimpin pasukannya dari sana.

Pasukan Diponegoro, yang berasal dari berbagai lapisan masyarakat, termasuk petani dan golongan priyayi, melancarkan perlawanan yang sengit.

Belanda, di bawah Jenderal De Kock, menerapkan strategi sistem benteng pada tahun 1827 yang berhasil mempersempit pergerakan pasukan Diponegoro.

Pada tahun 1829, dengan penangkapan beberapa pemimpin penting perlawanan, pasukan Diponegoro mulai melemah.

Pada tahun 1830, De Kock berhasil menangkap Pangeran Diponegoro setelah mengundangnya untuk perundingan.

Namun, bukannya perundingan, Diponegoro ditangkap dan diasingkan. Belanda memasuki era baru penjajahannya di Jawa.

Baca Juga: Bangunan Sejarah di Yogyakarta: Pesanggrahan Gambirowati, Pesona Arkeologi di Lereng Perbukitan Kapur

Dampak Perang Diponegoro

Perang Diponegoro membawa dampak besar bagi masyarakat Jawa.

Kekalahan Diponegoro memperkuat posisi Belanda dalam penjajahan di pulau ini.

Sistem tanam paksa yang diterapkan oleh Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch pada tahun 1830-1870 menjadi lebih mencekik, dan masyarakat semakin tertindas oleh kebijakan-kebijakan yang merugikan.

Meskipun demikian, kekalahan Diponegoro tidak menghentikan semangat perlawanan rakyat Jawa.

Mereka terus melawan dengan cara-cara lain, dan semangat jihad yang diterapkan oleh Diponegoro dalam perang ini tetap membara.

Perang Diponegoro juga memicu pergolakan politik di keraton Yogyakarta.

Keturunan Diponegoro yang awalnya dilarang masuk ke keraton oleh Sultan Hamengkubuwono IX akhirnya diberi amnesti.

Namun, penjajahan Belanda semakin menguat, dan kebijakan-kebijakan yang merugikan terus diterapkan.

Seiring berjalannya waktu, Perang Diponegoro tetap menjadi salah satu bagian penting dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia terhadap penjajahan.

Kehidupan Pangeran Diponegoro, yang diasingkan hingga akhir hayatnya di Makassar pada 1855, menjadi lambang perjuangan dan keberanian melawan penindasan.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.