Sejarah Transportasi: Perkembangan Bus di Cirebon pada Zaman Hindia Belanda

AKURAT.CO Sejarah, Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, moda transportasi bus menjadi alternatif utama yang bersaing ketat dengan kereta api.
Cirebon, sebuah kota di daerah pesisir Jawa Barat, memainkan peran penting dalam mengatur lalu lintas transportasi ini.
Artikel ini akan menjelajahi perkembangan trayek dan perusahaan otobus (PO) di Cirebon pada era Hindia Belanda.
Baca Juga: Hari Ini Dalam Sejarah: Momen Penting dan Bersejarah pada 29 Januari, Peringatan Tahun 2024
Trayek Cirebon-Batavia: Sebuah Tantangan Lalu Lintas
Menurut surat kabar Hindia Belanda yang diterbitkan pada 25 Februari 1955, rute Cirebon-Batavia atau sebaliknya, Batavia-Cirebon, saat itu hanya dilayani oleh enam bus.
Lalu lintas bus ini sepanjang pantai utara mengandalkan enam unit bus, sementara permohonan izin untuk enam bus tambahan masih dalam proses.
Pada masa itu, jalur Pantura (Pantai Utara) menjadi jalur utama bagi mereka yang ingin menuju Batavia (kini Jakarta).
Walaupun hanya enam bus yang melayani rute tersebut, minat masyarakat terhadap moda transportasi bus tetap tinggi.
Tarif yang Lebih Terjangkau
Keberadaan bus dianggap lebih terjangkau oleh masyarakat dibandingkan dengan kereta api.
Menurut koran Hindia Belanda tersebut, tarif bus dari Cirebon ke Jakarta adalah sebesar 2,60 Gulden, yang jauh lebih murah dibandingkan dengan tarif kereta api kelas tiga, yakni sebesar 3,30 Gulden.
Pada tahun 1934, bus di jalur Pantura sudah menjadi pembicaraan hangat di masyarakat karena selalu penuh penumpang.
Pada koran De avondpost edisi 18 November 1934, disebutkan bahwa bus dari Pantura bisa melayani dua kali perjalanan dari Cirebon-Jakarta maupun Kuningan-Jakarta, menggambarkan bahwa meskipun lebih lambat, bus mulai menjadi pilihan utama masyarakat dibandingkan kereta api.
Tantangan dan Permasalahan
Meskipun perkembangan bus dianggap positif, muncul berbagai tantangan dan permasalahan.
Terminal bus menjadi pusat perhatian masyarakat untuk mencari keuntungan, baik dari pedagang hingga calo. Tindakan kriminal pun semakin meningkat.
Laporan dari Bataviaasch nieuwsblad menyebutkan adanya pengaduan terkait pelecehan, penjualan paksa, dan masalah sampah di terminal bus.
Pedagang buah-buahan, es krim sirup, dan makanan lainnya terlibat dalam tindakan memaksa kepada penumpang.
Selain itu, perlindungan dan pengawasan di terminal bus di Cirebon dianggap perlu untuk mengatasi berbagai masalah tersebut.
Dengan berbagai dinamika perkembangan transportasi bus di Cirebon pada zaman Hindia Belanda, kita dapat melihat bagaimana moda transportasi ini menjadi pilihan utama bagi masyarakat, terutama karena tarif yang lebih terjangkau dan aksesibilitas yang lebih baik dibandingkan kereta api.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Yadea RS20 Resmi Dijual Rp16,6 Juta, Motor Listrik Retro Bisa Tempuh hingga 80 Km
- 2Angin Segar Liverpool! PSG Mulai Luluh, Dua Bintang Siap ke Anfield
- 3Arsenal Siap Korbankan Gabriel Jesus, Napoli Bergerak Cepat! Como Bidik Striker Chelsea! Bursa Transfer Eropa Memanas
- 4Persib Juara Dewata Challenge Series 2026! Bangkit dari Ketertinggalan, Obati Kegagalan di Piala Presiden
- 5Chelsea vs Manchester United: Duel Perburuan Gelandang Prancis Manu Koné
- 6Barcelona Beralih ke Gyokeres setelah Alvarez Buntu, Arsenal Siap Melepas?
- 7Manchester United dan Arsenal Dapat Angin Segar di Bursa Transfer Bek Brugge
- 8Jamie Gittens Diprediksi Bertahan di Chelsea Usai Roma Beralih ke Target Lain
- 9Bom! Al Hilal Sepakat dengan Pedro Neto, Chelsea Siap Lepas dengan Harga €60 Juta
- 10Bukan Batal! Fabrizio Romano: Barcola ke Liverpool Masih Hidup dan Kian Menggembirakan









