Jateng

Sejarah 27 Januari: Peristiwa Merah Putih Sangasanga, Epik Perjuangan Selama Revolusi Fisik Indonesia

Theo Adi Pratama | 27 Januari 2024, 10:16 WIB
Sejarah 27 Januari: Peristiwa Merah Putih Sangasanga, Epik Perjuangan Selama Revolusi Fisik Indonesia

AKURAT.CO Sejarah, Peristiwa Merah Putih di Manado dan Sangasanga merupakan salah satu babak heroik dalam sejarah revolusi fisik Indonesia.

Khususnya di Sangasanga, peristiwa ini mencapai puncaknya pada 27 Januari 1947, dan setiap tahun, pada tanggal tersebut, pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara menggelar acara peringatan untuk mengenang perjuangan rakyat Sangasanga melawan penjajah Belanda.

Baca Juga: Berita Seputar Teknologi: Friendster Siap Kembali, Jejak Masa Lalu yang Kini Hadir dengan Banyak Fitur Menarik

Latar Belakang Peristiwa Merah Putih Sangasanga

Pada 11 September 1945, tentara Australia sebagai perwakilan pasukan Sekutu tiba di Sangasanga dengan tugas melucuti, menawan, dan memulangkan tentara Jepang serta menjaga ketertiban di daerah tersebut.

Namun, kedatangan mereka disusupi oleh dua perwira NICA (Nederlandsch-Indische Civil Administratie), yang bertugas mengumpulkan tentara KNIL (Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger).

Badan Penolong Perantau Djawa (BPPD) dibentuk sebagai pengganti organisasi pemuda sebelumnya.

Meski namanya memiliki unsur Jawa, anggota BPPD berasal dari berbagai etnis di Sangasanga.

Awalnya, BPPD dan tentara Sekutu bekerja sama dengan baik.

BPPD bahkan diizinkan menggunakan lencana Merah Putih dan mengibarkan bendera Merah Putih.

Pada 17 Desember 1945, tentara Sekutu ditarik dan digantikan oleh tentara NICA Belanda.

Kehadiran NICA mengubah suasana, melarang pemakaian simbol-simbol kemerdekaan, dan melakukan berbagai larangan.

Hal ini membuat aktivitas BPPD yang sebelumnya dilakukan secara rahasia terganggu.

Pada 31 Desember 1945, Belanda melakukan pembersihan di Sangasanga dengan mengepung dan menangkap seluruh anggota BPPD.

Seiring waktu, tentara Belanda menyelidiki segala hal yang dianggap mencurigakan hingga menemukan dokumen tentang rencana perjuangan BPPD.

BPPD pun dibubarkan, dan sebagian anggotanya dibebaskan setelah membuat pernyataan setia kepada Belanda.

Meski pengawasan Belanda ketat, masyarakat Sangasanga membentuk organisasi perjuangan bawah tanah, Badan Pembela Republik Indonesia (BPRI), yang terdiri dari mantan anggota BPPD.

Baca Juga: Misteri dan Kejanggalan di Tol Cipularang: Perjalanan yang Lebih dari Sekadar Jarak Tempuh

Puncak Peristiwa Merah Putih Sangasanga

Setelah berbagai tindakan sabotase dan upaya perlawanan terbuka yang selalu gagal, BPRI memutuskan untuk melakukan perlawanan pada 27 Januari 1947.

Sebelumnya, pada pertemuan tokoh-tokoh BPRI seperti Soekasmo, Habib Abd Muthalib, dan lainnya, mereka menyepakati perlawanan ini.

Pada 27 Januari, tokoh BPRI seperti Soekasmo memimpin perlawanan dengan merebut tangsi Belanda dan mengibarkan bendera Merah Putih.

Soekasmo memberikan amanat, yang dikenal sebagai amanat Peristiwa Merah Putih Sangasanga, kepada para pejuang, mengajak mereka untuk tetap berjuang mempertahankan kota dari kekuasaan Belanda dengan semboyan "lebih baik mati daripada dijajah oleh Belanda".

Meski berhasil merebut Sangasanga dan mengibarkan bendera Merah Putih, kota tersebut kembali direbut oleh Belanda pada 30 Januari. Para pejuang kemudian mundur dan bersembunyi di hutan.

Pada 30 Januari, meski dalam keadaan terdesak, para pejuang kembali melawan.

Namun, pertempuran yang tidak seimbang membuat mereka harus mundur, dan Sangasanga kembali berada di bawah kekuasaan Belanda.

Baca Juga: Peristiwa Sejarah 27 januari: Mengenang Meninggalnya Soeharto, Akhir dari Era Panjang Pemerintahan

Pentingnya Peringatan Setiap Tahun

Setiap tahun pada 27 Januari, peringatan Peristiwa Merah Putih Sangasanga diadakan untuk mengenang perjuangan pahlawan-pahlawan yang gugur dalam melawan penjajah Belanda.

Acara ini menjadi momen untuk merefleksikan nilai-nilai keberanian, patriotisme, dan semangat juang yang menjadi bagian penting dari sejarah Indonesia.

Peristiwa Merah Putih Sangasanga tetap hidup dalam ingatan dan menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk menghargai kemerdekaan yang telah diraih melalui perjuangan berdarah-darah.

Sejarah ini mengajarkan kita arti pentingnya menjaga dan mempertahankan kemerdekaan, serta semangat untuk berjuang demi masa depan yang lebih baik.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.