Struktur dan Perubahan Bangunan
Masjid Pathok Negara Babadan memiliki denah persegi panjang dengan ukuran 12,5 m x 14 m. Atap masjid berbentuk atap tumpang gasal, sedangkan mustaka masjid terbuat dari kuningan berbentuk gada bersulur.
Bangunan ini memiliki tembok keliling yang dibangun pada masa Hamengku Buwana I tahun 1774, dengan pintu gerbang berbentuk bentar.
Seiring waktu, masjid mengalami perubahan struktural, terutama pada tahun 1990-an ketika bangunan semi permanen dibuat permanen di bawah pimpinan Kyai Haji Slamet Mutohar.
Pada tahun 2001, dilakukan pembangunan kelengkapan masjid seperti serambi depan, gerbang masuk, tempat wudhu, dan toilet.
Selain itu, pada tahun 2003, mustaka lama yang terbuat dari gerabah diganti dengan mustaka baru yang terbuat dari kuningan.
Beberapa unsur bangunan lama yang masih tersisa, seperti bedug, kentongan, dan mimbar, dijadikan gantungan bedug.
Baca Juga: Peninggalan Bangunan Sejarah: Monumen Segoroyoso, Jejak Perencanaan Strategis dalam Perang Kemerdekaan
Sejarah dan Pemindahan Bangunan
Masjid Pathok Negara Babadan memiliki sejarah yang khusus, terutama pada masa penjajahan Jepang.
Daerah Babadan mengalami bedol desa yang menyebabkan pindahnya penduduk dan bangunan masjid ke Babadan Baru, Sleman.
Pemindahan ini terjadi secara besar-besaran, sehingga tidak hanya penduduk yang pindah, tetapi juga bangunan masjid yang berstatus pathok negara.
Hal ini menjelaskan mengapa tidak ada unsur bangunan asli yang tersisa pada masjid saat ini, kecuali mustaka masjid yang terbuat dari gerabah.
Peran dalam Kehidupan Kauman Babadan
Kauman Babadan, yang dulunya dikenal kuat dalam menjalankan agama, kini telah menjadi permukiman yang padat.
Meskipun demikian, masyarakat Kauman Babadan tetap menjaga tradisi keagamaan dan kekayaan kesenian terbangan serta salawatan.
Masjid Pathok Negara Babadan, meskipun bukan pusat keagamaan, tetap menjadi pusat spiritual dan tempat berkumpulnya warga Kauman Babadan.
Pada tahun 1994, abdi dalem yang bertugas di Masjid Pathok Negara Babadan memainkan peran penting dalam pengelolaan masjid.
Saat ini, pengelolaan masjid berada di bawah takmir yang diketuai oleh Drs. H. Harsoyo, M.Si, dan wakil ketua Hari.
Baca Juga: Gedung Bersejarah: Omah Demamit, Jejak Sejarah di Pekarangan Bapak Agus Subiyanto
Masjid Pathok Negara Babadan bukan hanya sebuah bangunan bersejarah tetapi juga simbol kehidupan beragama dan spiritualitas masyarakat Kauman Babadan.
Dengan perubahan struktural dan pemeliharaan yang dilakukan selama bertahun-tahun, masjid ini tetap menjadi tempat bersejarah dan pusat kehidupan keagamaan yang kaya akan tradisi.***