Sebuah Sejarah: Makam Johannes van der Steur di Kota Magelang, Menjaga Warisan Kemanusiaan yang Hampir Satu Abad

AKURAT.CO Sejarah, Di pusat Kota Magelang, tepatnya di Jalan Iklas, terdapat sebuah makam yang telah menyaksikan hampir satu abad sejarah.
Meskipun terletak di tengah kota, banyak orang mungkin tidak menyadari keberadaan makam yang terawat baik ini. Namun, makam ini bukan sembarang makam.
Di sini, terbaring seorang tokoh kemanusiaan asal Belanda, Johannes van der Steur, yang dengan penuh dedikasi merawat 7.000 anak yatim dari berbagai suku dan kalangan saat masa kolonial.
Asal Usul dan Perjuangan Awal Johannes van der Steur
Johannes van der Steur, lahir pada 10 Juli 1865 di Rozenprieel, Haarlem, Belanda, bukan berasal dari keluarga berkecukupan.
Kehidupan masa kecilnya dipenuhi dengan tantangan ekonomi, di mana ia harus membantu ekonomi keluarganya dengan bekerja di kedai roti.
Meskipun hidup pas-pasan bersama sepuluh saudara, keluarga van der Steur tetap teguh pada nilai-nilai Kristen Protestan yang taat.
Menurut Chandra Gusta Wisuwardana, pakar sejarah, ketaatan keluarga van der Steur pada agama memotivasi Johannes sejak kecil untuk bercita-cita menjadi seorang penginjil.
Nilai-nilai protestanisme dan kemanusiaan ini tumbuh di lingkungan tempat tinggalnya, yang mayoritas dihuni oleh kelas pekerja.
Perjalanan ke Hindia Belanda dan Misi Kemanusiaan
Peningkatan upaya penguasaan wilayah Nusantara oleh Belanda setelah Parlemen Belanda dikuasai oleh orang-orang liberal dan humanis turut memotivasi Johannes van der Steur.
Setelah bertemu dengan seorang serdadu yang baru kembali dari Hindia Timur di Kota Harderwijk, Johannes merasa terdorong untuk mengunjungi Hindia Belanda secara langsung dan melihat kondisi masyarakat di sana.
Gusta menjelaskan bahwa Johanes van der Steur tiba di Garnisun Magelang pada tahun 1892 dengan misi membimbing para serdadu untuk mengenal dan kembali kepada jalan Tuhan.
Ia memulai misinya dengan bekerja sebagai pembantu di dalam tangsi militer, membagikan renungan injil di atas tempat tidur para serdadu.
Selama bertahun-tahun, Johannes van der Steur terlibat dalam berbagai upaya kemanusiaan.
Ia menentang praktik pergundikan yang merugikan anak-anak, berjuang melawan penyakit kelamin menular di kalangan serdadu, dan bahkan mengirim surat kepada pejabat pemerintah untuk mendesak peningkatan pernikahan di kalangan warga Eropa agar praktik pergundikan dapat ditekan.
Panti Asuhan dan Militair Tehuis: Merawat dan Mendidik Anak-anak Terlantar
Pada tahun 1893, Johannes van der Steur secara tak terduga dihadapkan pada tantangan baru ketika seorang serdadu mabuk menantangnya untuk merawat empat anak terlantar.
Dengan tekad yang kuat, Johannes menerima tantangan tersebut, dan sejak saat itu, ia dikenal dengan panggilan "Pa" oleh anak-anak yang dirawatnya.
Meskipun tahun pertama adalah tahun tersulit bagi Pa van der Steur, yang harus membiayai operasional Militair Tehuis dan Panti Asuhan sendiri, ia mendapatkan dukungan dari keluarganya dan pemerintah Hindia Belanda.
Subsidi dan sumbangan dari berbagai pihak membantu Pa van der Steur memperluas panti asuhan dan meningkatkan kapasitasnya untuk merawat lebih banyak anak.
Baca Juga: Jejak Peninggalan Sejarah Kota Salatiga: Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat (GPIB) Tamansari
Warisan dan Penghormatan untuk Pa Johannes van der Steur
Hingga akhir hayatnya pada 16 September 1945 di Magelang, Johannes Van de Steur telah merawat tidak kurang dari 7.000 anak yatim piatu dan terlantar dari berbagai kalangan.
Eks penghuni panti, yang disebut "Steurtjes," tidak hanya diberi perawatan fisik, tetapi juga mendidik dan diberi bekal untuk menjalani kehidupan setelah keluar dari panti.
Makam Johannes Van De Steur, yang terletak di pusat Kota Magelang, menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi pejuang kemanusiaan ini.
Makam tersebut telah mengalami dua kali pemugaran oleh Pemerintah Hindia Belanda dan komunitas pegiat sejarah Kota Toewa Magelang yang dipimpin oleh Bagus Priyatna.
Baca Juga: Sejarah dan Perjalanan Gedung Papak: Jejak Peninggalan Bersejarah di Kantor Wali Kota Salatiga
Setiap tahun, di hari ulang tahun Johannes Van De Steur, Bagus Priyatna melaksanakan pengecatan makam dan menggelar pameran.
Saat ini, kompleks pemakaman Johannes Van De Steur sedang diajukan untuk dijadikan Cagar Budaya sebagai bentuk penghargaan dan pelestarian terhadap warisan kemanusiaan yang berharga ini.
Dengan demikian, Makam Johannes van der Steur tetap menjadi saksi bisu perjuangan dan dedikasi seorang pejuang kemanusiaan di tengah zaman penjajahan kolonial.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










