Jateng

Perjalanan Stasiun Tanggung: Kesaksian Sejarah Perkeretaapian Indonesia di Grobogan

Theo Adi Pratama | 30 Desember 2023, 06:00 WIB
Perjalanan Stasiun Tanggung: Kesaksian Sejarah Perkeretaapian Indonesia di Grobogan

AKURAT.CO Sejarah, Stasiun Tanggung (TGG) di Tanggungharjo, Grobogan, Jawa Tengah, bukan sekadar stasiun kereta api biasa.

Dengan ketinggian +20 m dpl, stasiun yang terletak di Daerah Operasi IV Semarang ini menggambarkan keindahan arsitektur dan menyimpan kisah panjang perkembangan perkeretaapian di Indonesia.

Baca Juga: Mengenang Kembali Peradaban di Kampung Kapitan: Pemangku Sejarah yang Terlupakan

Pembangunan dan Peresmian Stasiun Tanggung

Stasiun Tanggung, yang pembangunannya dimulai pada tahun 1864 dan mengalami renovasi pada tahun 1910, menjadi saksi penting dalam sejarah perkeretaapian Indonesia.

Pada 10 Agustus 1867, stasiun ini menyaksikan peresmian jalur kereta api pertama antara Tanggung dan Kemijen sepanjang 25 km oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda Ludolph Anne Jan Wilt Baron Sloet van de Beele.

Arsitektur Swiss Chalet yang Memukau

Stasiun Tanggung memukau dengan gaya arsitektur Swiss Chalet yang terinspirasi dari Swiss.

Hal ini terlihat pada bagian atap pelana yang dihiasi dekorasi dan ekspose tiang konstruksi.

Keindahan arsitektur ini menjadikan Stasiun Tanggung tidak hanya sebagai tempat transit, tetapi juga sebagai destinasi yang memikat para pengunjung.

Baca Juga: Sejarah Hadirnya Mi Ayam Indonesia: Jejak Kuliner Nusantara yang Berawal Mula dari China

Ruang Fungsional dengan Sentuhan Klasik

Bangunan stasiun ini tidak hanya memancarkan keindahan dari luar, tetapi juga menyimpan fungsionalitas yang baik di dalamnya.

Dengan empat ruang yang melayani berbagai keperluan, seperti ruang kepala stasiun (yang juga berfungsi sebagai loket), gudang, ruang tunggu, dan ruang PPKA, Stasiun Tanggung dirancang dengan konsep yang memadukan fungsi dan keindahan.

Tugu Peringatan: "Di Bumi Inilah Kita Bermula"

Keunikan lain Stasiun Tanggung adalah adanya tugu peringatan dengan tulisan “Di Bumi Inilah Kita Bermula”.

Tugu ini menjadi pengingat bersejarah atas awal mula perjalanan kereta api di Indonesia.

Pesan singkat namun berarti ini menggambarkan pentingnya peran stasiun ini dalam membuka babak baru dalam sejarah transportasi di tanah air.

Baca Juga: Sejarah Rumah Bagas Godang: Keindahan yang Terukir Dari Rumah Adat Suku Mandailing di Sumatra Utara

Rumah Panggung Kepala Stasiun yang Eksotis

Di belakang stasiun, terdapat rumah panggung yang terbuat dari kayu.

Rumah ini diperkirakan adalah kediaman Kepala Stasiun Tanggung.

Keberadaan rumah panggung ini memberikan nuansa eksotis dan memperkaya panorama sejarah yang masih dapat dinikmati hingga saat ini.

Stasiun Bersejarah yang Dilindungi Undang-Undang

Kini, Stasiun Tanggung bukan hanya berfungsi sebagai stasiun pemantau, tetapi juga sebagai stasiun bersejarah yang dilindungi oleh UU No. 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.

Keberadaannya menjadi bagian tak terpisahkan dari cagar budaya Indonesia, menawarkan pengalaman unik kepada setiap pengunjung yang ingin merasakan atmosfer masa lalu.

Stasiun Tanggung tetap menjadi jendela yang membuka kisah masa lalu, memberikan apresiasi terhadap estetika arsitektur, dan menyimpan kenangan indah sepanjang perjalanan panjang perkeretaapian di negeri ini.

Sebuah destinasi yang mengajak kita berjalan melintasi rel sejarah, merasakan getaran perjalanan kereta api, dan menyatu dengan pesona nostalgia yang masih terasa kuat di Stasiun Tanggung.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.