Hui Lan lahir pada 2 Desember 1889 di Semarang. Sejak kecil, ia hidup dalam kemewahan di istana luas milik ayahnya yang mencakup 9,2 hektare.
Bersama kakak perempuannya, Oei Tjong Lan, Hui Lan merasakan kehidupan sebagai anak dari seorang Raja Gula yang juga merupakan orang terkaya di Asia Tenggara.
Baca Juga: Hotel Grand Inna Samudera Beach Sukabumi: Antara Kemewahan dan Misteri yang Menggoda
Meski hidup dalam kemewahan, kehidupan masa kecil Hui Lan kurang begitu bahagia.
Ia lebih sering diasuh oleh pembantu dan guru-guru pribadi dari Eropa dan Australia, daripada bersama keluarganya.
Kesepiannya semakin terasa karena hubungan Hui Lan dengan ibunya tidak begitu dekat, begitu juga dengan kakak perempuannya.
Ayahnya, yang memiliki selir karena keinginan untuk memiliki anak laki-laki, turut menambah kerumitan kehidupan keluarga ini.
Pernikahan ibunya dengan Goei Bing Nio, meski sering bertengkar, tidak berujung pada perceraian.
Baca Juga: Misteri Hotel Niagara Malang: Dibalik Cerita Sejarah yang Mampu Membuat Merinding di Setiap Sudut
Tiong Ham menganggap Bing Nio sebagai istri yang membawa keberuntungan, sementara Bing Nio menikmati kekayaan suaminya.
Hui Lan juga mengisahkan sering diajak oleh ayahnya ke rumah selir-selirnya, tanpa menyadari bahwa mereka adalah selir-selir ayahnya.
Masa remaja Hui Lan diwarnai dengan peristiwa pahit pada hari ulang tahunnya.
Meskipun diharapkan menjadi pesta megah, tamu yang diundang tidak hadir, termasuk ayahnya.
Semua harapan indah itu runtuh, dan itu menjadi pesta kelabu terakhir dalam masa remajanya.
Baca Juga: Misteri Hotel Grand Aquila Bandung: Keindahan yang Diselimuti Kisah Mistis
Ketika dewasa, Hui Lan pindah ke Eropa bersama ibu dan kakaknya.
Di sana, ia diperkenalkan kepada Wellington Koo, seorang pejabat tinggi dari Tiongkok yang tengah berupaya melobi negara-negara Eropa.
Pada tahun 1921, Hui Lan dan Wellington menikah dan memiliki dua anak.
Meski hidup dalam kemewahan dan bergaul dengan kalangan jetset, Hui Lan tidak merasa bahagia.
Renovasi rumah dinas, pembelian mobil mewah, dan gaya hidup boros menjadi bagian dari kehidupannya.
Baca Juga: Misteri 9 Hotel Angker di Indonesia: Kisah dan Aura Mistis yang Kuat di Balik Kemewahan Penginapan
Hubungannya dengan Wellington semakin dingin, dan setelah kunjungan terakhir ke Singapura, keluarga ini tidak pernah bertemu lagi.
Kematian ayahnya, Tiong Ham, memicu sengketa warisan di keluarganya.
Hui Lan, meski mendapatkan warisan terbesar, tidak menemukan kebahagiaan sejati.
Kesepian dan kehilangan orang-orang terdekatnya mengiringi masa tua Hui Lan.
Ia meninggal pada tahun 1992 dalam usia 103 tahun.
Hui Lan, seorang wanita kuat dengan kemauan yang teguh, meninggalkan pesan bahwa kekayaan dan pergaulan dengan kalangan atas tidak selalu membawa kebahagiaan.
Kesederhanaan, kejujuran, dan kepribadian yang baik lebih penting daripada haus akan kekuasaan.
Kehidupannya yang penuh liku dan perjuangan menjadi kisah yang membangkitkan pemikiran tentang arti sejati dari kebahagiaan.***