Kasus Bunuh Diri Merebak, Faktor Depresi yang Tinggi dan Upaya Penanganannya Bagi Remaja

AKURAT.CO Kesehatan, Kasus bunuh diri akhir-akhir ini banyak terjadi dan semakin meningkat di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.
Dari data Kepolisian RI (Polri), ada 640 kasus bunuh diri yang sudah terjadi sejak Januari hingga Juli 2023.
Jumlah ini ternyata telah meningkat sebesar 31,7% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak 486 kasus.
Baca Juga: Mahasiswi Udinus Ditemukan Bunuh Diri di Kos, Tinggalkan 5 Surat Wasiat
Salah satu kasus bunuh diri yang terjadi yaitu di kota Semarang yaitu seorang mahasiswi dari sebuah perguruan tinggi di Semarang yang ditemukan meninggal di salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Semarang.
Mahasiswi ini diduga kuat mengakhiri hidupnya dengan melompat dari lantai 4 Mall.
Saat dilakukan pemeriksaan ditemukan sepucuk surat yang ditujukan untuk orang tua korban yang memang isinya sangat menyayat hati sekali.
Baca Juga: Banyaknya Kasus Bunuh Diri yang Terjadi di Seluruh Dunia, Ternyata Ini 6 Penyebabnya
Kejadian ini semakin membuat bertanya mengapa banyak sekali orang yang semakin nekat mengakhiri hidupnya dengan cara tragis seperti ini, terutama dikalangan anak muda dan remaja yang memang memerlukan perhatian?
Ternyata bila dilihat dari sisi psikologis, mereka yang berusia 15 hingga 29 tahun masih dalam tahap belum tenang.
Ditambah lagi, apabila mereka merasa tidak ada wadah untuk menyampaikan perasaannya apapun bisa terjadi termasuk salah satunya adalah bunuh diri ini.
Baca Juga: Mengulas Gedung Marabunta, Bangunan Tua di Kawasan Kota Lama Semarang yang Menyimpan Nuansa Mistis
Banyak kasus bunuh diri juga berawal dari adanya depresi yang membuat tidak menemukan jalan keluar, baik karena masalah asmara, keluarga, kuliah atau pertemanan.
Bisa kita lihat pada contoh kasus lain yaitu pada September 2022, di Semarang setidaknya ada dua mahasiswa bunuh diri dan satu mencoba bunuh diri, dengan dua kasus disebabkan putus cinta.
Organisasi kesehatan dunia (WHO) juga memprediksi depresi menjadi masalah gangguan kesehatan utama.
Bunuh diri, yang menjadi isu ikutan, menjadi topik kesehatan serius.
Pada 2019 diperkirakan ada 800 ribu orang meninggal akibat bunuh diri di seluruh dunia.
WHO memang mengaitkan perilaku bunuh diri, baik itu ide, rencana, dan tindakan bunuh diri, dengan berbagai gangguan jiwa, seperti depresi.
Ada 55 persen orang depresi yang memiliki ide untuk bunuh diri.
Menurut beberapa pakar psikolog ada beberapa penyebab mengapa remaja lebih menyukai bunuh diri sebagai solusi akhir problematika permasalahannya.
Masa remaja adalah masa yang sangat berat dan rentan akan depresi dikarenakan masa ini adalah fase penuh perubahan, baik anatomis, fisik, emosional, intelegensi, maupun hubungan sosial.
Ada beberapa masalah yang dihadapi oleh mahasiswa yang dapat mengakibatkan depresi tinggi hingga berpikir untuk bunuh diri.
Di antaranya adalah keuangan, masalah dengan dosen, hubungan akademis, permasalahan dengan teman, masalah percintaan, dan gangguan kesehatan.
Apabila menghadapi seseorang yang berkeinginan untuk mengakhiri hidupnya, bentuk bantuan yang bisa dilakukan adalah dengan hadir di sisi individu dan memberikan dukungan, baik secara langsung (tatap muka) maupun tidak langsung (telepon).
Baca Juga: Memilih Profesi Sebagai Dosen PNS, Ternyata Segini Besaran Gaji Serta Tunjangan yang Akan Didapatkan
Tunjukkan bahwa kita peduli dengan orang tersebut, seperti menanyakan kondisinya. Kemudian mendengarkan ceritanya secara aktif.
Lalu arahkan yang bersangkutan untuk segera mendapatkan bantuan dari tenaga profesional.
Kita bisa membantu individu untuk mencari tenaga profesional yang tersedia di lingkungan sekitar seperti psikolog atau psikiater, juga dapat menawarkan untuk menemani individu tersebut ketika bertemu dengan tenaga profesional.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









