Jual Cinta, Panen Miliaran: Kantor Konsultan di Solo Baru Diduga Pabrik Penipuan Berkedok Investasi

JATENG.AKURAT.CO, Di balik rayuan manis, foto perempuan cantik, dan janji keuntungan fantastis, tersimpan mesin penipuan raksasa yang diduga berhasil menguras uang korban hingga lebih dari Rp41 miliar.
Ironisnya, operasi tersebut bukan dijalankan dari markas rahasia di luar negeri, melainkan dari sebuah kantor yang tampak biasa di Solo Baru, Kabupaten Sukoharjo.
Direktorat Reserse Siber Polda Jawa Tengah mengungkap kasus dugaan penipuan online berkedok investasi atau yang dikenal dengan istilah pig butchering (love scam), Senin (1/6/2026).
Sebanyak 39 orang ditetapkan sebagai tersangka setelah polisi membongkar jaringan yang diduga secara sistematis membangun hubungan asmara palsu demi menguras rekening para korbannya.
Kasus ini terungkap berawal dari patroli siber yang dilakukan Ditressiber Polda Jateng. Dari hasil penyelidikan, polisi menemukan aktivitas mencurigakan yang mengarah pada praktik penipuan daring terorganisir di wilayah Sukoharjo dan Surakarta.
Pusat operasional jaringan tersebut diketahui berada di PT Digi Global Konsultan yang berlokasi di Solo Baru. Tempat itu diduga bukan hanya menjadi lokasi perekrutan pekerja, tetapi juga markas utama pengendalian aksi penipuan yang menyasar warga negara Amerika Serikat.
Modus yang digunakan tergolong licik dan terencana. Para pelaku membuat identitas palsu di berbagai aplikasi pencarian jodoh seperti Tinder, Puf, dan Boo, serta memanfaatkan Facebook untuk mencari target. Korban yang berhasil diajak berkenalan kemudian dibangun kedekatan emosional secara intensif melalui percakapan harian.
Agar semakin meyakinkan, para pelaku menyiapkan foto dan video perempuan menarik sebagai umpan. Bahkan, jaringan ini disebut memiliki model asli yang bertugas melakukan panggilan video langsung dengan korban. Tujuannya satu: membuat korban percaya bahwa hubungan yang terjalin adalah nyata.
Ketika korban mulai larut dalam hubungan tersebut, pelaku perlahan mengarahkan mereka untuk berinvestasi pada platform perdagangan kripto yang sebenarnya telah dimanipulasi. Melalui situs trading palsu, korban dijanjikan keuntungan besar dan terus didorong untuk menambah setoran dana.
Namun, seluruh sistem dikendalikan jaringan pelaku. Uang yang masuk tidak pernah benar-benar diinvestasikan, melainkan diduga langsung dikuasai kelompok tersebut. Saat korban ingin menarik dana, akses mereka dibatasi atau ditutup.
Dari hasil penyelidikan, polisi mencatat sejak Juli 2025 hingga Mei 2026 jaringan ini memperoleh keuntungan mencapai USD 2.327.625,85 atau setara sekitar Rp41,1 miliar. Sedikitnya 133 warga negara asing menjadi korban dalam kurun waktu tersebut.
Dalam penggerebekan di tujuh lokasi berbeda di Sukoharjo dan Surakarta, polisi mengamankan berbagai barang bukti yang menggambarkan skala operasi jaringan ini. Sebanyak 140 unit telepon seluler, 123 komputer, 78 monitor, dua laptop, puluhan perangkat pendukung lainnya hingga dokumen operasional berhasil disita.
Penyidik juga mengungkap adanya struktur organisasi yang rapi layaknya perusahaan profesional. Mulai dari kepala, supervisor, leader, marketing, asisten marketing hingga model yang bertugas melayani panggilan video korban.
Setiap bagian memiliki target dan fungsi masing-masing untuk memastikan korban tetap terjebak dalam skenario yang telah disusun.
Dari total 39 tersangka yang diamankan, terdiri atas 28 warga negara Indonesia, tujuh warga negara Nepal, dan empat warga negara Myanmar. Selain itu, penyidik juga menetapkan seorang tersangka lain berinisial ASC yang diduga berperan menyediakan tempat dan sarana operasional.
Para tersangka dijerat dengan sejumlah pasal dalam Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), KUHP, serta ketentuan pidana lainnya yang berlaku. Polisi memastikan penyidikan masih terus berkembang untuk mengungkap kemungkinan keterlibatan pihak lain dan menelusuri aliran dana hasil kejahatan tersebut.
Kasus ini menjadi pengingat keras bahwa di era digital, cinta bisa dijadikan komoditas dan kepercayaan dapat berubah menjadi jebakan. Saat korban mengira sedang menemukan pasangan hidup, yang menunggu di ujung percakapan justru jaringan penipu yang siap memanen miliaran rupiah dari rasa percaya yang mereka tanam sendiri.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Peringkat FIFA Oman vs Indonesia Malam Ini: Jika Menang, Seri, atau Kalah, Posisi Timnas Garuda Bisa Berubah
- 2iPhone 18 Pro Bocor di Internet, Warna Dark Cherry Jadi Daya Tarik Utama
- 3Barcelona Siapkan Siasat Licik: Tawar Rashford Rp 260 Miliar, MU Dipojokkan Demi Bebaskan Gaji
- 4Tanda Bansos Kamu Sudah Diterima dan Siap Diambil! Lakukan Cek dengan 3 Cara Mudah Ini
- 5Terungkap! Ini Alasan Thom Haye Tidak Diturunkan Saat Indonesia vs Oman, Ternyata Masih Jalani Sanksi FIFA
- 6Man City dan Bayern Saling Sikut Rekrut Bek Chelsea, Maresca Ingin Reuni dengan Mantan Anak Buah
- 7Terungkap! Ini Alasan Layvin Kurzawa Tinggalkan Persib Bandung! Dua Pemain Asing Lain Segera Menyusul?
- 8Shearer Buka Suara: Sandro Tonali Bisa ke MU Jika Dua Syarat Ini Terpenuhi, Bandrol £90 Juta!
- 9Gagal Move On, Manchester United Siap Bajak Elliot Anderson dari Bawah Hidung City
- 10Morgan Rogers Siap Gabung Arsenal, Roy Keane: 'Dia Mengingatkan Saya pada Paul Gascoigne'





