Jateng

Bukan Film Komik Terburuk? Zack Snyder Angkat Bicara soal Backlash Batman v Superman

Theo Adi Pratama | 20 April 2026, 19:54 WIB
Bukan Film Komik Terburuk? Zack Snyder Angkat Bicara soal Backlash Batman v Superman

JATENG.AKURAT.CO, Lebih dari satu dekade sejak dirilis pada tahun 2016, Batman v Superman: Dawn of Justice masih menjadi topik perdebatan sengit di kalangan penggemar film komik.

Ada yang menganggapnya sebagai mahakarya visual yang keliru dipahami, ada pula yang menyebutnya sebagai salah satu adaptasi Batman terburuk yang pernah dibuat.

Di tengah polarisasi opini yang ekstrem ini, sang sutradara, Zack Snyder, akhirnya angkat bicara.

Dalam wawancara terbaru, ia tidak hanya mengakui bahwa filmnya memang "memecah belah" (divisive), tetapi juga menjelaskan alasan di balik pilihan-pilihan kreatifnya yang kontroversial.

Snyder menegaskan bahwa ia tidak pernah bermaksud membuat film komik arus utama yang aman; ia ingin menciptakan versinya sendiri tentang para pahlawan ikonik tersebut.

Kini, setelah bertahun-tahun, ia menanggapi kecaman dengan kepala tegak, dan menyebut bahwa jika versi Extended Cut dirilis sejak awal, mungkin sejarah akan menulis cerita yang berbeda.

Tanggapan Snyder: Saya Mengapa Film Ini Ditolak

Zack Snyder tidak buta terhadap kritik. Ia mengaku sepenuhnya memahami mengapa Batman v Superman menuai reaksi beragam dari penonton dan kritikus.

Namun, alih-alih menyesali keputusannya, ia justru memilih untuk membelanya.

"Pada akhirnya saya bangga dengan film yang saya rilis, baik versi bioskop maupun Extended," ujar Snyder.

Ia juga menyoroti satu poin penting: jika saja pihak studio merilis Extended Cut sejak awal, mungkin banyak kecaman yang tidak akan terjadi sehebat itu.

Versi Extended dianggap lebih mampu menyampaikan visi utuhnya secara koheren dan mendalam.

Kebebasan Kreatif: Membuat Versi Sendiri Batman dan Superman

Salah satu sumber utama ketidakpuasan penggemar adalah penggambaran Batman dan Superman yang kelam, murung, dan jauh dari idealisme karakter di komik. Namun bagi Snyder, itu adalah pilihan sadar.

"Saya mencoba melakukan sesuatu yang berbeda. Saya tidak ingin membuat film yang sama dengan yang lain di luar sana," tegasnya.

Ia bersyukur karena studio memberikan kontrol penuh kepadanya untuk membuat film sesuai keinginannya.

"Apakah karakter-karakter itu sesuai dengan keinginan Anda atau tidak, itu kembali lagi kepada penonton," tambahnya.

Snyder mengakui bahwa visinya memang tidak akan diterima oleh semua orang, dan itulah risiko dari mengambil jalur kreatif yang tidak konvensional.

Warisan yang Tetap Hidup: Antara Cinta dan Kebencian

Menariknya, meskipun sudah bertahun-tahun berlalu, Batman v Superman masih menjadi topik diskusi yang hangat.

Snyder mengamati bahwa orang-orang terus membicarakan filmnya hingga hari ini.

"Ada yang mencintainya, ada yang membencinya," katanya.

Baginya, fakta bahwa filmnya masih relevan untuk diperdebatkan adalah sebuah pencapaian tersendiri.

Ia mengakui bahwa film tersebut "sangat memecah belah," tetapi ia tidak akan mengubah pendekatannya.

"Penghormatan untuknya, karena dia ingin membuat versi spesifik dari karakter-karakter ini dan dia berhasil mewujudkannya."

Apakah itu sesuai dengan keinginan penonton atau tidak, itu adalah urusan subjektif.

Yang pasti, Snyder telah meninggalkan jejak yang tak terlupakan dalam genre superhero, baik sebagai kemenangan artistik maupun pelajaran tentang risiko kebebasan kreatif.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.