Jateng

GILA! 10 Band Rock Legendaris Ini Ganti Genre Total: Dari Punk Maut ke Pop Komersial, Bikin Fans Garuk Kepala!

Theo Adi Pratama | 25 Oktober 2025, 06:00 WIB
GILA! 10 Band Rock Legendaris Ini Ganti Genre Total: Dari Punk Maut ke Pop Komersial, Bikin Fans Garuk Kepala!

JATENG.AKURAT.CO, Mengapa Band Papan Atas Takut Terjebak di Satu Genre? Mengupas Tuntas Transformasi Musik Paling Mengejutkan dalam Sejarah, dari The Beatles hingga Metallica

Dalam dunia musik, loyalitas penggemar adalah segalanya. Namun, apa jadinya jika band idola Anda, yang Anda kenal sebagai metalhead sangar, tiba-tiba muncul dengan lagu electronica yang ada unsur hip-hop-nya?

Perubahan sound adalah pedang bermata dua: ia bisa menghancurkan basis penggemar lama, tetapi juga membuka jalan menuju kesuksesan komersial yang jauh lebih besar. Kami mengumpulkan 10 band rock paling legendaris yang mengambil risiko gila-gilaan, menolak bermain aman, dan secara total mengubah identitas musikal mereka.

Siap-siap terkejut, karena transformasi beberapa band ini benar-benar membuat Anda berpikir, "Apakah ini band yang sama?"

1. The Beatles: Dari Yeah Yeah Yeah ke Seni Album Penuh (The Ultimate Evolution)

Jika ada satu band yang menunjukkan bahwa perubahan adalah seni, itu adalah The Beatles.

Di awal karier mereka, "Fab Four" ini dikenal dengan lagu-lagu cinta yang pendek, sederhana, dan catchy yang berorientasi pada single 45 RPM. Mereka adalah idola pop remaja murni.

Namun, seiring bertambahnya usia, band ini menjadi gelisah dengan dominasi tangga lagu pop dan mulai ingin bereksperimen di studio. Keinginan untuk mendorong musik ke depan inilah yang mematikan lagu-lagu cinta sederhana masa muda mereka.

Mereka beralih ke:

  • Komposisi yang Introspektif.
  • Penggunaan Tape Loops dan Sound Effects.
  • Akord Aneh dan Psychedelic.

Transformasi ini tidak hanya membahagiakan para anggota band, tetapi juga sukses secara masif. The Beatles secara praktis membantu menggeser fokus pasar dari single (45 RPM) ke album panjang (LP) sebagai bentuk seni utuh. Mereka tidak hanya mengubah sound mereka, mereka mengubah format industri musik secara total.

2. Bee Gees: Tuan Pop Baroque Menjadi Raja Disco Dunia

Jauh sebelum identik dengan malam disko, celana cutbrai, dan lagu tema Saturday Night Fever, Bee Gees sebenarnya memiliki sejarah musik yang panjang dan menarik.

Di era 1960-an, album-album awal mereka sangat kental dengan gerakan Pop Psychedelic dan Baroque Pop. Mereka bahkan merilis selusin album sebelum kata "funky," "night," atau "fever" masuk ke dalam kamus budaya mereka. Periode antara 1967 dan 1969, dengan album seperti Idea dan Horizontal, penuh dengan eksperimen yang menarik bagi sejarawan Prog Rock dan Psych Rock.

Perubahan drastis terjadi saat mereka sepenuhnya merangkul Disco. Mereka menjadi sinonim dengan adegan nightlife disko, menghasilkan lagu-lagu dance yang membuat dunia bergoyang dan melupakan asal-usul pop psikedelik mereka.

3. Metallica: Bencana St. Anger yang Bikin Fans Kejang

Bagi para metalhead sejati, tahun 90-an adalah masa kelam. Metallica, band metal terbesar di dunia, melakukan kesalahan yang dianggap "dosa besar" oleh sebagian penggemar.

Saat sebagian besar band metal mencoba menyederhanakan sound mereka, Metallica (yang selalu di puncak) membuat kesalahan fatal. Album Load dan Reload menampilkan band yang memotong rambut mereka dan menulis lebih banyak lagu rock alih-alih anthem Thrash Metal.

Namun, klimaksnya adalah "Bencana St. Anger” pada tahun 2003. Album ini:

  • Dipenuhi eksperimen musik yang salah.
  • Tidak menampilkan solo gitar.
  • Menampilkan suara snare drum terburuk dalam sejarah musik yang pernah direkam.

Album ini berhasil menenggelamkan impian banyak penggemar lama. Meskipun Metallica akhirnya kembali ke jalur thrash yang lebih familiar, album-album ini meninggalkan lubang besar dalam diskografi mereka, membuktikan bahwa bahkan raksasa pun bisa tersandung saat mencoba berubah.

4. Goo Goo Dolls: Dari Metalblade ke Balada Radio Pop

Tahukah Anda bahwa The Goo Goo Dolls dulunya terikat kontrak dengan label rekaman Heavy Metal, Metalblade Records?

Awalnya, band asal Buffalo ini adalah proposisi yang jauh lebih bising dan jauh lebih berat. Album debut mereka tahun 1987, Self-Titled, sangat mentah dan mewujudkan semangat Punk Rock yang sama sekali tidak ditemukan dalam rilisan komersial mereka.

Transisi mereka tidak instan, tetapi akhirnya mereka sepenuhnya meninggalkan noise indie demi Pop Rock komersial yang menghasilkan kesuksesan platinum melalui lagu-lagu balada yang kita kenal sekarang. Sulit dipercaya bahwa band yang menyanyikan Iris ini dulunya berisik dan raw layaknya band metal.

5. Bring Me The Horizon (BMTH): Pergi dari Deathcore ke Genre-bending Gila

Di ranah musik yang lebih modern, tidak ada perubahan yang lebih berani daripada yang dilakukan oleh Bring Me The Horizon (BMTH).

Di album debut mereka, Count Your Blessings, BMTH mendiami sudut Deathcore yang populer namun dianggap tidak orisinal. Mereka dikenal dengan vokal guttural dan sensibilitas breakdown ala Metalcore.

Namun, band ini segera merasa bosan dan memutuskan untuk bereksperimen habis-habisan. Album-album berikutnya melihat BMTH meninggalkan Deathcore demi campuran yang semakin sulit dikategorikan, mencakup: Electronica, Hip-Hop, dan Metal. Perubahan ini menciptakan identitas baru yang unik, meskipun banyak penggemar deathcore lama yang merasa dikhianati.

6. Pantera: Menghapus Jejak Glam Metal

Warisan Pantera saat ini adalah sebagai salah satu band paling berat di Amerika, ikon Groove Metal yang melegenda. Namun, saudara-saudara Abbott (Dimebag Darrell dan Vinnie Paul) memiliki kecintaan yang terkenal pada KISS dan Van Halen, dan itu terlihat jelas di masa-masa awal mereka.

Album-album awal mereka, terutama saat bersama vokalis lama Terry Glaze, didominasi oleh Hair Metal atau Glam Metal. Era ini kini sebagian besar hanya ada dalam rilis pasar gelap (bootlegs) karena band ini secara efektif menghapus identitas glam mereka demi sound yang lebih berat dengan masuknya Phil Anselmo.

7. Radiohead: Muak dengan Status Bintang Pop Post-Grunge

Radiohead adalah band yang bangga dengan progresivitas mereka, dan mereka merasa terganggu dengan identitas post-grunge yang diberikan para kritikus setelah kesuksesan single Creep dari album debut Pablo Honey.

Band ini merasa tidak nyaman menjadi kesayangan komersial dan segera memperluas penulisan lagu mereka dengan album epik yang diakui secara kritis, OK Computer. Namun, mereka tidak berhenti. Album-album masa depan seperti Kid A dan In Rainbows menjadi semakin tidak dapat dikategorikan, menolak status bintang pop demi Eksperimental/Elektronika Progresif.

8. Journey: Menjadi Band Arena Rock dari Fusi Jazz

Sebelum Steve Perry bergabung dan membuat mereka menjadi raksasa Arena Rock yang dikenal dengan balada-balada epik, Journey adalah band yang sama sekali berbeda.

Di tahun 70-an, Journey adalah bagian dari gerakan Jazz Fusion, dengan fokus berat pada permainan gitar Neil Schon, keyboard runs dari Greg Raleigh, dan dynamic drumming. Di tiga album debut mereka, vokal hampir menjadi side note atau afterthought, dan lagu-lagunya dipenuhi dengan bagian-bagian instrumental yang panjang. Penambahan Perry mengubah mereka menjadi pembangkit tenaga listrik Pop/Rock yang kita kenal.

9. Fleetwood Mac: Kebangkitan dari Blues Rock Inggris

Fleetwood Mac sebelum era Rumours (1977) adalah band yang berbeda. Mereka awalnya dikenal karena brand British Blues Rock yang hard-edged dan dipengaruhi psychedelic. Mereka menikmati ketenaran cult dengan anggota berbakat seperti Peter Green dan Jeremy Spencer.

Namun, kekuatan suntikan darah segar tidak bisa diremehkan. Kolaborasi mereka dengan Lindsey Buckingham dan Stevie Nicks menghasilkan Fleetwood Mac yang baru—sebuah band yang merangkul penulisan lagu pop komersial di samping akar blues mereka. Hasilnya? Album Rumours yang memecahkan rekor, mengubah mereka menjadi superstar global dalam genre Pop/Rock.

10. Beastie Boys: Dari Moshpit ke Mic Drop

Meskipun Beastie Boys dikenal sebagai trio hip-hop, semangat punk tidak pernah hilang dari mereka. Sebelum menjadi ikon Hip-Hop, Beastie Boys berawal sebagai band Hardcore Punk sejati. EP mereka, Polliwog Stew, adalah warisan rekaman utama dari era ini—sepotong musik yang pendek dan sengit.

Meskipun kemudian mereka bertransisi menjadi crossover Hip-Hop/Rock dan akhirnya sepenuhnya merangkul jalur Hip-Hop, energi dan semangat anti-kompromi dari punk awal mereka tetap menjiwai karya-karya mereka hingga akhir.

Perubahan adalah sifat alami dari seni, tetapi ketika band-band besar ini memutuskan untuk berputar 180 derajat, dampaknya selalu menggetarkan. Mana transformasi yang paling mengejutkan bagi Anda? Apakah artis harus selalu berpegang teguh pada genre awal mereka, atau haruskah mereka bebas bereksperimen demi evolusi musik?

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.