Terlalu Parah! 3 Film Indonesia dengan Rating Terendah Di Imdb! Nomor 1 Bikin Istighfar!

JATENG.AKURAT.CO, Halo para pecinta film! Tidak semua film yang diproduksi selalu sukses dan mendapat pujian.
Kali ini, kita akan membahas 3 film Indonesia yang mendapatkan rating terendah di situs IMDb, bahkan sampai membuat geleng-geleng kepala!
3. 212: The Power of Love (2018) - Rating 1.2/10kunti
Film drama religi ini menceritakan tentang seorang jurnalis bernama Mercy yang meliput aksi 212 di Jakarta pada tahun 2016.
Dibintangi oleh Fauzi Baadilla dan disutradarai oleh Jastis Arimba, film ini mendapatkan rating yang sangat rendah, yaitu 1.2 dari 10 berdasarkan penilaian dari 108 pengguna IMDb.
2. Kuntilanak Kesurupan (2011) - Rating 1.2/10
Film horor ini mengisahkan tentang sekelompok anak muda yang nekat menjelajahi sebuah rumah tua angker di pinggiran kota.
Didorong oleh rasa penasaran dan keinginan membuat konten horor, mereka mengabaikan peringatan warga setempat tentang sosok kuntilanak yang menghuni rumah tersebut.
Film yang dibintangi oleh Amanda Luscon dan disutradarai oleh Emil G. Ham ini juga mendapatkan rating yang sama rendahnya, yaitu 1.2 dari 10 berdasarkan penilaian dari 20 pengguna IMDb.
1. Business Proposal (2022) - Rating 1/10
Film yang diadaptasi dari drama Korea dengan judul yang sama ini awalnya diharapkan dapat meraih kesuksesan yang sama.
Namun, kontroversi yang melibatkan pemeran utamanya, Abidzar, justru membuat film ini mendapatkan rating terendah di IMDb, yaitu 1 dari 10 berdasarkan penilaian dari lebih dari 22.000 pengguna.
Kontroversi tersebut bermula dari pernyataan Abidzar yang mengaku tidak menonton versi asli drama Korea tersebut dan tidak membaca webtoon aslinya.
Hal ini tentu saja membuat banyak penonton kecewa dan memberikan rating rendah pada film yang juga dibintangi oleh Ariel Tatum ini.
Mengapa Film-Film Ini Mendapatkan Rating Rendah?
Ada berbagai faktor yang dapat menyebabkan sebuah film mendapatkan rating rendah di IMDb, di antaranya:
- Kualitas cerita dan skenario yang buruk.
- Akting para pemain yang kurang memuaskan.
- Penyutradaraan yang kurang efektif.
- Produksi yang tidak maksimal.
- Kontroversi yang melibatkan film atau para pemainnya.
Meskipun industri perfilman Indonesia terus berkembang, tidak semua film yang dihasilkan dapat memuaskan selera penonton.
Ketiga film di atas menjadi contoh bahwa kualitas dan kontroversi dapat memengaruhi penilaian penonton secara signifikan.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Apakah Besok Senin 24 Agustus 2026 Libur Cuti Bersama Maulud Nabi? Cek Ketentuan Resmi SKB 3 Menteri
- 2Yadea RS20 Resmi Dijual Rp16,6 Juta, Motor Listrik Retro Bisa Tempuh hingga 80 Km
- 3Angin Segar Liverpool! PSG Mulai Luluh, Dua Bintang Siap ke Anfield
- 4Arsenal Siap Korbankan Gabriel Jesus, Napoli Bergerak Cepat! Como Bidik Striker Chelsea! Bursa Transfer Eropa Memanas
- 5Persib Juara Dewata Challenge Series 2026! Bangkit dari Ketertinggalan, Obati Kegagalan di Piala Presiden
- 6Chelsea vs Manchester United: Duel Perburuan Gelandang Prancis Manu Koné
- 7Barcelona Beralih ke Gyokeres setelah Alvarez Buntu, Arsenal Siap Melepas?
- 8Jamie Gittens Diprediksi Bertahan di Chelsea Usai Roma Beralih ke Target Lain
- 9Manchester United dan Arsenal Dapat Angin Segar di Bursa Transfer Bek Brugge
- 10Bom! Al Hilal Sepakat dengan Pedro Neto, Chelsea Siap Lepas dengan Harga €60 Juta







