Jateng

Film Vibes! Prilly Latuconsina Mengguncang Layar Perak: Bolehkah Sekali Saja Kumenangis Angkat Isu Kesehatan Mental dan Luka Masa Lalu

Theo Adi Pratama | 15 Oktober 2024, 15:41 WIB
Film Vibes! Prilly Latuconsina Mengguncang Layar Perak: Bolehkah Sekali Saja Kumenangis Angkat Isu Kesehatan Mental dan Luka Masa Lalu

JATENG.AKURAT.CO, Prilly Latuconsina kembali dengan proyek film terbarunya yang mengangkat isu sosial penting sekaligus menyentuh hati penonton.

Setelah dikenal sebagai aktris multitalenta dan aktivis yang vokal, Prilly kini terlibat dalam film bertajuk “Bolehkah Sekali Saja Kumenangis,” sebuah karya yang didedikasikan untuk menyuarakan pentingnya kesehatan mental dan pengelolaan emosi.

Menggabungkan cerita personal dengan pesan universal, film ini menjadi salah satu yang paling dinantikan tahun ini.

Film yang diangkat dari lagu viral "Runtuh" karya Feby Putri ini tidak hanya memikat dengan musiknya, tetapi juga berhasil menggali emosi terdalam para karakternya.

Dengan perpaduan tema tentang kesehatan mental dan pengaruh trauma masa lalu, “Bolehkah Sekali Saja Kumenangis” mengajak penonton untuk merenungkan kembali pentingnya dukungan emosional dalam menghadapi tantangan hidup.

Sinopsis: Menguak Luka di Balik Senyuman

Film ini berkisah tentang seorang gadis bernama Tari (diperankan oleh Prilly Latuconsina), yang hidup dalam bayang-bayang keluarga yang penuh dengan konflik.

Tari harus menghadapi ayahnya yang abusive demi melindungi ibunya, terutama setelah sang kakak meninggalkan rumah.

Kehidupannya penuh dengan kepura-puraan—Tari berusaha untuk tetap terlihat kuat di depan orang lain, sementara ia menyimpan begitu banyak luka batin yang perlahan-lahan menghancurkannya dari dalam.

Kesedihan yang terus ia pendam semakin berat, dan akhirnya Tari mencapai titik di mana ia tak sanggup lagi menahan beban itu sendirian.

Ia memutuskan untuk bergabung dengan sebuah support group, tempat di mana orang-orang dengan masalah serupa berkumpul dan saling mendukung.

Di sinilah Tari bertemu dengan Baskara (diperankan oleh Pardikta Wicaksono), seorang pria dengan sifat tempramental yang juga membawa beban emosional dari masa lalunya.

Pertemuan mereka menjadi titik balik dalam hidup Tari.

Baskara sendiri adalah sosok yang penuh dengan kontradiksi.

Di balik sikapnya yang tampak kasar dan keras, ia menyimpan trauma yang dalam, yang telah memengaruhi cara ia menghadapi dunia.

Keduanya, Tari dan Baskara, perlahan-lahan saling menemukan kenyamanan satu sama lain, dan hubungan mereka menjadi sebuah perjalanan penyembuhan emosional yang penuh liku.

Namun, apakah keduanya bisa saling membantu mengatasi luka masa lalu yang begitu dalam?

Karakter Tari dan Baskara: Pencarian Diri di Tengah Kehancuran

Tari adalah cerminan dari banyak orang yang terjebak dalam situasi di mana mereka harus berpura-pura baik-baik saja, meskipun di dalam diri mereka sedang runtuh.

Prilly Latuconsina memberikan penampilan yang emosional dan penuh kedalaman, memperlihatkan betapa kompleksnya perjuangan Tari dalam menghadapi trauma dan tekanan keluarga.

Karakter Tari menghadapi dilema emosional yang sering diabaikan di masyarakat—ia merasa terjebak antara keinginan untuk melindungi keluarganya dan kebutuhan untuk menjaga kesehatan mentalnya sendiri.

Di sisi lain, Baskara, yang diperankan dengan sempurna oleh Pardikta Wicaksono, menghadirkan dinamika berbeda dalam narasi film.

Baskara adalah karakter yang berlawanan dengan Tari dalam hal ekspresi emosional.

Jika Tari menutupi perasaannya dengan kepura-puraan, Baskara justru mengekspresikan kekecewaannya melalui kemarahan dan agresi.

Namun, di balik semua itu, Baskara juga seseorang yang terluka oleh masa lalunya, dan Tari melihat sisi lembut dari pria ini yang berusaha memperbaiki dirinya.

Hubungan antara Tari dan Baskara di film ini bukanlah kisah cinta klise, tetapi lebih merupakan perjalanan menuju pemahaman diri dan penyembuhan dari trauma masa lalu.

Keduanya menjadi simbol bagaimana dukungan emosional dan keterbukaan bisa membantu seseorang keluar dari kegelapan mental yang menghancurkan.

Isu Kesehatan Mental dalam Karya Seni

Prilly Latuconsina selama ini dikenal sebagai sosok yang peduli dengan berbagai isu sosial, termasuk kesehatan mental.

Dalam berbagai wawancara, ia kerap menekankan pentingnya membicarakan masalah mental secara terbuka dan menghilangkan stigma yang masih melekat dalam masyarakat kita.

Lewat film ini, Prilly tidak hanya memberikan penampilan luar biasa, tetapi juga menyampaikan pesan penting bahwa mencari bantuan untuk kesehatan mental bukanlah tanda kelemahan, melainkan langkah penting dalam proses penyembuhan.

Banyak orang di sekitar kita mungkin menghadapi masalah yang sama seperti yang dialami oleh karakter Tari—menyimpan kesedihan, beban, dan trauma, namun tidak tahu bagaimana atau ke mana harus mencari pertolongan.

Film ini mengangkat hal itu secara nyata, dengan menunjukkan bagaimana support group bisa menjadi tempat yang aman bagi seseorang untuk berbicara dan membagikan beban emosional mereka.

Selain itu, film ini juga mengajak penonton untuk melihat lebih dekat pada isu abusive relationships, baik itu dalam keluarga maupun hubungan pribadi.

Trauma yang ditimbulkan oleh kekerasan dalam rumah tangga sering kali menyisakan luka yang sulit diatasi, dan film ini menggambarkan perjalanan seorang individu dalam mencari jalan keluar dari situasi tersebut.

Inspirasi dari Lagu Viral: “Runtuh”

Salah satu aspek menarik dari film ini adalah inspirasinya yang berasal dari lagu populer "Runtuh" yang dibawakan oleh Feby Putri.

Lagu ini sempat viral di media sosial karena liriknya yang kuat dan menyentuh, menggambarkan rasa sakit dan kehancuran yang dirasakan oleh seseorang yang mencoba untuk bertahan di tengah kesulitan hidup.

Liriknya yang penuh dengan emosi menjadi sangat relevan dengan kisah yang diangkat dalam film ini.

Film “Bolehkah Sekali Saja Kumenangis” berhasil membawa elemen-elemen dari lagu ini ke dalam cerita film, menghadirkan visualisasi dari perasaan yang tertuang dalam lirik tersebut.

Bagi penonton yang pernah merasakan beban mental yang berat, film ini akan terasa begitu personal dan menggugah.

Kenapa Anda Harus Menonton Film Ini?

Film ini bukan sekadar hiburan. "Bolehkah Sekali Saja Kumenangis" memberikan ruang bagi isu-isu yang jarang dibahas di film-film Indonesia, seperti kesehatan mental, trauma masa lalu, dan pentingnya dukungan sosial.

Dengan narasi yang kuat dan penampilan yang mengesankan dari Prilly Latuconsina dan Pardikta Wicaksono, film ini akan membawa Anda pada perjalanan emosional yang mendalam.

Bagi Anda yang mencari film yang tidak hanya menghibur tetapi juga memberikan makna dan pemikiran mendalam, “Bolehkah Sekali Saja Kumenangis” adalah tontonan wajib.

Ajak teman, keluarga, atau siapa pun yang Anda cintai untuk menonton film ini pada 17 Oktober 2024, dan bersama-sama renungkan pesan yang disampaikan tentang pentingnya menjaga kesehatan mental dan mencari dukungan ketika dibutuhkan.

Jadi, jangan lewatkan kesempatan untuk menyaksikan kisah yang menyentuh hati ini di bioskop mulai bulan ini.

“Bolehkah Sekali Saja Kumenangis” siap mengajak Anda masuk ke dalam dunia Tari dan Baskara, di mana mereka berusaha menyembuhkan diri dari luka yang tak terlihat oleh mata, namun sangat terasa di hati.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.