Jateng

Kemarau Berpotensi Tekan Produksi Padi, BI Jateng Perkuat Intervensi di Sektor Pertanian, Bangun Sumur Dangkal di Wilayah Terdampak Kekeringan

Arixc Ardana | 14 Agustus 2026, 14:23 WIB
Kemarau Berpotensi Tekan Produksi Padi, BI Jateng Perkuat Intervensi di Sektor Pertanian, Bangun Sumur Dangkal di Wilayah Terdampak Kekeringan

JATENG.AKURAT.CO, Bank Indonesia (BI) Provinsi Jawa Tengah meningkatkan langkah antisipasi menghadapi musim kemarau yang berpotensi memengaruhi produksi pangan dan stabilitas harga bahan pokok.

Upaya tersebut dilakukan melalui sinergi bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), pemerintah daerah, serta berbagai pemangku kepentingan di sektor pertanian.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, Mohamad Noor Nugroho, mengatakan ancaman kekeringan akibat musim kemarau dan fenomena El Nino perlu diwaspadai karena dapat berdampak langsung terhadap produksi komoditas pangan strategis, terutama padi.

"Yang paling terdampak adalah padi atau beras. Karena itu fokus kami saat ini adalah bagaimana membantu petani agar kebutuhan air untuk irigasi tetap terpenuhi sehingga produksi tetap terjaga," kata Noor Nugroho.

Sebagai langkah konkret, BI bersama TPID telah menyalurkan bantuan pembangunan sumur dangkal di sejumlah wilayah yang terdampak kekeringan.

Hingga saat ini, sedikitnya 10 titik sumur dangkal telah dibangun, terutama di Kabupaten Demak yang menjadi salah satu daerah prioritas.

Selain itu, BI juga menjalin kerja sama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk memperbaiki saluran irigasi yang mengalami sedimentasi tinggi.

Kondisi tersebut dinilai menghambat distribusi air ke lahan pertanian sehingga perlu segera ditangani agar pasokan air bagi petani tetap tersedia.

"Kami juga berkoordinasi untuk normalisasi saluran irigasi yang mengalami pendangkalan. Dengan begitu, aliran air bisa kembali optimal dan membantu petani menghadapi musim kemarau," ujarnya.

Tidak hanya dari sisi infrastruktur pengairan, BI turut mendukung petani melalui penyediaan benih padi Gamagora yang lebih tahan terhadap kondisi kering dan membutuhkan air lebih sedikit dibandingkan varietas padi pada umumnya.

Menurut Noor, langkah-langkah tersebut penting untuk menjaga produktivitas pertanian sekaligus mengendalikan tekanan inflasi pangan yang berpotensi muncul akibat penurunan hasil panen.

Meski sejumlah wilayah mengalami kekeringan, BI menilai kondisi pasokan pangan di Jawa Tengah masih relatif aman.

Hal ini karena beberapa daerah lain masih memasuki masa panen sehingga mampu menopang kebutuhan wilayah yang produksinya menurun.

"Masih ada daerah yang panen. Sepanjang Pantura kemarin juga masih banyak wilayah yang melakukan panen padi. Mudah-mudahan persediaan pangan aman dan antar daerah bisa saling menutupi kebutuhan," katanya.

Berdasarkan koordinasi dengan Bulog, stok beras untuk beberapa bulan ke depan juga masih dalam kondisi mencukupi.

Namun demikian, BI tetap memantau perkembangan cuaca dan produksi pangan secara intensif agar potensi gangguan pasokan dapat diantisipasi lebih dini.

Noor Nugroho menegaskan, BI bersama TPID akan terus berupaya menjaga inflasi kelompok volatile food, terutama beras dan komoditas hortikultura, agar tetap terkendali.

"Kami mengupayakan inflasi volatile food tetap di bawah 5 persen dan inflasi secara keseluruhan berada dalam sasaran 2,5 persen plus minus 1 persen. Karena itu berbagai langkah pengamanan produksi pangan terus kami lakukan sejak sekarang," tegasnya.

Selain beras, komoditas cabai merah dan cabai rawit juga menjadi perhatian.

BI telah memberikan dukungan sarana distribusi bagi kelompok tani serta membangun greenhouse, termasuk greenhouse komunal di lingkungan pondok pesantren, guna menjaga ketersediaan pasokan dan mengurangi risiko gejolak harga.

Ke depan, BI Jawa Tengah akan terus memetakan wilayah yang membutuhkan dukungan pengairan, termasuk optimalisasi sekitar 12 ribu pompa air yang tersebar di berbagai daerah.

Langkah ini diharapkan mampu menyelamatkan tanaman padi yang masih berada di lahan serta menjaga kelancaran musim tanam berikutnya agar tidak terganggu oleh kekeringan berkepanjangan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.