Jateng

Penguatan Sinergi Dorong Ekonomi Jawa Tengah Tumbuh 5,71 Persen

Arixc Ardana | 14 Agustus 2026, 14:01 WIB
Penguatan Sinergi Dorong Ekonomi Jawa Tengah Tumbuh 5,71 Persen
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, M. Noor Nugroho

JATENG.AKURAT.CO, Perekonomian Jawa Tengah kembali menunjukkan ketahanan yang kuat di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih berlangsung.

Pada triwulan II 2026, ekonomi Jawa Tengah tumbuh sebesar 5,71 persen secara tahunan (year on year/yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi Pulau Jawa yang mencapai 5,65 persen maupun pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,29 persen.

Perkembangan tersebut mengemuka dalam Media Briefing Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) se-Jawa Tengah yang diikuti KPwBI Provinsi Jawa Tengah, KPwBI Solo, KPwBI Tegal, dan KPwBI Purwokerto, yang digelar di Pekalongn, Kamis (13/8/2026).

Kegiatan ini menjadi bagian dari penguatan sinergi komunikasi kebijakan Bank Indonesia sekaligus penyampaian perkembangan ekonomi dan berbagai langkah strategis yang dilakukan untuk menjaga momentum pertumbuhan daerah.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, Mohamad Noor Nugroho, mengatakan bahwa capaian tersebut menunjukkan daya tahan ekonomi daerah yang tetap kuat di tengah berbagai tantangan eksternal.

“Perekonomian Jawa Tengah tetap menunjukkan resiliensi di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi. Pada triwulan II 2026, ekonomi Jawa Tengah tumbuh kuat sebesar 5,71 persen, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi Pulau Jawa sebesar 5,65 persen dan nasional sebesar 5,29 persen. Kinerja tersebut didukung oleh tetap kuatnya permintaan domestik, berlanjutnya investasi, serta kinerja sektor utama daerah yang terjaga,” ujar Noor Nugroho.

Dari sisi permintaan, pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang tumbuh sebesar 4,31 persen (yoy). Kinerja tersebut didorong meningkatnya mobilitas masyarakat selama periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Iduladha dan libur panjang.

Sementara itu, investasi mencatat pertumbuhan yang lebih tinggi, yakni sebesar 8,84 persen (yoy), seiring berlanjutnya pembangunan kawasan industri dan berbagai Proyek Strategis Nasional (PSN).

Konsumsi pemerintah juga masih tumbuh kuat sebesar 15,69 persen (yoy), memberikan dorongan tambahan bagi aktivitas ekonomi daerah.

Dari sisi lapangan usaha, sektor Industri Pengolahan masih menjadi penopang utama dengan pertumbuhan 5,03 persen (yoy). Kinerja positif juga terlihat pada sektor Perdagangan yang tumbuh 7,52 persen (yoy), serta sektor Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum yang melesat hingga 12,80 persen (yoy), sejalan dengan meningkatnya aktivitas masyarakat dan sektor pariwisata.

Di tengah pertumbuhan ekonomi yang terjaga, stabilitas harga di Jawa Tengah juga tetap terkendali.

Pada Juli 2026, inflasi Jawa Tengah tercatat sebesar 2,60 persen (yoy), berada dalam rentang sasaran inflasi nasional sebesar 2,5±1 persen dan lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang mencapai 2,88 persen (yoy).

Menurut Noor Nugroho, capaian tersebut merupakan hasil sinergi erat antara Bank Indonesia dan pemerintah daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di tingkat provinsi maupun seluruh kabupaten dan kota di Jawa Tengah.

“Bank Indonesia bersama Pemerintah Daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah terus berkoordinasi dan bersinergi memperkuat pengendalian inflasi secara end-to-end, terutama pada komoditas pangan strategis. Implementasi strategi 4K diarahkan tidak hanya untuk merespons gejolak harga dalam jangka pendek, tetapi juga memperkuat struktur pasokan dan distribusi,” kata Noor.

Strategi 4K yang diterapkan meliputi Keterjangkauan Harga, Ketersediaan Pasokan, Kelancaran Distribusi, dan Komunikasi Efektif. Implementasi strategi tersebut dilakukan melalui peningkatan produktivitas komoditas pangan strategis, perluasan Kerja Sama Antar Daerah (KAD) antara wilayah surplus dan defisit, penguatan outlet pangan dan BUMD sebagai offtaker, serta penguatan dan digitalisasi data untuk mendukung sistem peringatan dini atau early warning system.

Meski demikian, Bank Indonesia mengingatkan bahwa sejumlah risiko masih perlu diantisipasi.

Hasil liaison Bank Indonesia kepada pelaku usaha pada triwulan II 2026 menunjukkan optimisme dunia usaha masih terjaga, namun terdapat beberapa tantangan yang perlu mendapat perhatian, seperti kenaikan biaya produksi, pembiayaan, keandalan energi, hingga dinamika perdagangan global.

Karena itu, penguatan permintaan domestik, keberlanjutan investasi, serta penciptaan iklim usaha dan pembiayaan yang kondusif dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah ke depan.

Selain melakukan asesmen dan pemantauan ekonomi secara rutin, KPwBI se-Jawa Tengah juga terus menjalankan berbagai program strategis.

Program tersebut meliputi penyusunan riset daya saing kawasan industri, ketahanan pasokan telur dan daging ayam, pengembangan sumber pertumbuhan ekonomi baru, serta quick survey terkait isu-isu strategis seperti dampak El Nino terhadap inflasi pangan dan pemanfaatan Local Currency Transaction (LCT).

Bank Indonesia juga memperkuat pengembangan Komoditas/Produk/Jenis Usaha Unggulan (KPJU), mendorong pengembangan UMKM dan ekonomi syariah, memperluas digitalisasi daerah melalui elektronifikasi transaksi pemerintah daerah (ETPD) dan ekosistem QRIS, serta menjaga kualitas pengelolaan uang Rupiah hingga wilayah terluar melalui pelaksanaan Ekspedisi Rupiah Berdaulat (ERB) 2026 di Kepulauan Karimunjawa.

“Sinergi yang semakin kuat antara Bank Indonesia, pemerintah daerah, dunia usaha, dan seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci untuk menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah yang inklusif dan berkelanjutan,” pungkas Noor Nugroho.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.