Jateng

Ekonomi Jawa Tengah Tetap Tumbuh Kuat, Industri Pengolahan dan Perdagangan Jadi Penopang Utama

Arixc Ardana | 11 Agustus 2026, 13:27 WIB
Ekonomi Jawa Tengah Tetap Tumbuh Kuat, Industri Pengolahan dan Perdagangan Jadi Penopang Utama
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah Mohamad Noor Nugroho

JATENG.AKURAT.CO, Perekonomian Jawa Tengah tetap menunjukkan kinerja yang kuat pada triwulan II 2026.

Pertumbuhan ekonomi terutama ditopang oleh Konsumsi Rumah Tangga (RT) dan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi dari sisi pengeluaran.

Sementara dari sisi Lapangan Usaha (LU), sektor Industri Pengolahan dan Perdagangan menjadi sumber utama pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah Mohamad Noor Nugroho mengatakan, kinerja perekonomian Jawa Tengah pada triwulan II 2026 tetap terjaga, dengan konsumsi masyarakat dan investasi menjadi penopang utama dari sisi pengeluaran.

“Pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah tetap kuat, terutama ditopang oleh Konsumsi Rumah Tangga dan Pembentukan Modal Tetap Bruto atau investasi. Sementara dari sisi Lapangan Usaha, sumber pertumbuhan terutama berasal dari Industri Pengolahan dan Perdagangan,” kata Mohamad Noor Nugroho.

Konsumsi Rumah Tangga yang memiliki pangsa terbesar terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jawa Tengah, yakni sebesar 59,73 persen, tercatat tumbuh 4,31 persen secara tahunan (yoy).

Meski demikian, pertumbuhan tersebut mengalami perlambatan dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai 5,08 persen (yoy).

Menurut Noor Nugroho, konsumsi rumah tangga tetap terjaga seiring meningkatnya mobilitas masyarakat Jawa Tengah, terutama pada momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idul Adha 2026 dan libur panjang.

“Konsumsi Rumah Tangga tetap tumbuh kuat dan didukung oleh peningkatan mobilitas masyarakat Jawa Tengah, terutama saat HBKN Idul Adha 2026 dan libur panjang. Kinerja konsumsi masyarakat juga tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen pada triwulan II 2026 yang masih berada pada level optimis,” ujarnya.

Investasi Jawa Tengah Tetap Terjaga

Selain konsumsi masyarakat, investasi dan konsumsi pemerintah turut menjaga kinerja perekonomian Jawa Tengah.

Investasi pada triwulan II 2026 tumbuh sebesar 8,84 persen (yoy), meskipun melambat dibandingkan triwulan I 2026 yang mencapai 9,61 persen (yoy).

Kinerja investasi tersebut didukung oleh peningkatan realisasi investasi dari Rp23,73 triliun pada triwulan II 2025 menjadi Rp25,53 triliun pada triwulan II 2026.

Pembangunan kawasan industri dan Proyek Strategis Nasional (PSN) yang terus berlanjut menjadi salah satu faktor yang mendorong peningkatan investasi di Jawa Tengah.

“Kinerja investasi Jawa Tengah masih terjaga. Hal ini didukung oleh peningkatan realisasi investasi serta pembangunan kawasan industri dan Proyek Strategis Nasional yang terus berlanjut,” kata Noor Nugroho.

Sementara itu, Konsumsi Pemerintah juga tetap tumbuh kuat sebesar 15,69 persen (yoy), meskipun melambat dibandingkan triwulan I 2026 yang mencapai 19,39 persen (yoy).

Kinerja konsumsi pemerintah yang masih terjaga terutama didukung oleh akselerasi pembangunan program prioritas nasional.

Industri Pengolahan Jadi Kontributor Terbesar

Dari sisi Lapangan Usaha, Industri Pengolahan masih menjadi kontributor terbesar terhadap PDRB Jawa Tengah dengan pangsa mencapai 33,18 persen.

Pada triwulan II 2026, sektor Industri Pengolahan tumbuh sebesar 5,03 persen (yoy), meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh 4,04 persen (yoy).

Peningkatan kinerja Industri Pengolahan terutama dipengaruhi oleh peningkatan kinerja ekspor barang industri yang tumbuh 41,26 persen (yoy) pada periode laporan.

Peningkatan ekspor didorong oleh kinerja sejumlah komoditas, antara lain Tekstil dan Produk Tekstil (TPT), kayu furnitur, alas kaki, serta bahan makanan.

“Industri Pengolahan masih menjadi kontributor utama PDRB Jawa Tengah. Peningkatan kinerjanya terutama dipengaruhi oleh meningkatnya ekspor barang industri, khususnya komoditas TPT, kayu furnitur, alas kaki, dan bahan makanan,” ujar Noor Nugroho.

Peningkatan kinerja Industri Pengolahan juga tercermin dari perbaikan Saldo Bersih Tertimbang (SBT) Industri Pengolahan berdasarkan hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) pada triwulan II 2026.

Perdagangan Tumbuh 7,52 Persen

Sumber pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah berikutnya berasal dari Lapangan Usaha Perdagangan. Sektor ini tumbuh sebesar 7,52 persen (yoy) pada triwulan II 2026, lebih tinggi dibandingkan triwulan I 2026 yang mencapai 5,22 persen (yoy).

Pertumbuhan perdagangan didorong oleh konsumsi masyarakat yang masih terjaga, terutama pada momentum HBKN Idul Adha 2026 dan libur panjang.

Peningkatan aktivitas tersebut sejalan dengan mobilitas masyarakat Jawa Tengah yang meningkat 5,09 persen (yoy) dibandingkan tahun sebelumnya.

Selain konsumsi dan mobilitas masyarakat, event Piala Dunia 2026 yang berlangsung pada triwulan II 2026 turut mendorong penjualan berbagai produk, seperti jersey, aksesori, maupun produk terkait lainnya.

“Kinerja sektor Perdagangan juga meningkat, didorong konsumsi masyarakat yang tetap terjaga dan meningkatnya mobilitas masyarakat pada momentum Idul Adha serta libur panjang. Event Piala Dunia 2026 juga turut mendorong penjualan produk jersey, aksesori, dan produk terkait lainnya,” jelas Noor Nugroho.

Sektor Akmamin Tumbuh Paling Tinggi

Sektor Penyediaan Akomodasi dan Makan-Minum (Akmamin) juga menjadi salah satu sumber pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah terbesar sekaligus mencatat pertumbuhan tertinggi.

Pada triwulan II 2026, sektor Akmamin tumbuh sebesar 12,80 persen (yoy), meskipun melambat dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai 14,14 persen (yoy).

Kinerja sektor akomodasi dan makan-minum tetap terjaga terutama karena meningkatnya aktivitas masyarakat selama HBKN Idul Adha dan libur panjang.

Peningkatan mobilitas masyarakat memberikan dampak positif terhadap aktivitas akomodasi serta konsumsi makanan dan minuman.

Selain itu, keberlanjutan berbagai program prioritas nasional turut menopang kinerja sektor Penyediaan Akomodasi dan Makan-Minum di Jawa Tengah pada triwulan II 2026.

“Penyediaan Akomodasi dan Makan-Minum menjadi salah satu sumber pertumbuhan ekonomi terbesar sekaligus mencatat pertumbuhan tertinggi. Kinerjanya tetap terjaga karena peningkatan aktivitas masyarakat saat HBKN Idul Adha dan libur panjang serta berlanjutnya program prioritas nasional,” tutur Noor Nugroho.

Dengan dukungan konsumsi rumah tangga, investasi, konsumsi pemerintah, Industri Pengolahan, Perdagangan, serta Penyediaan Akomodasi dan Makan-Minum, perekonomian Jawa Tengah pada triwulan II 2026 tetap menunjukkan kinerja yang kuat.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.