Jateng

Trauma Dirampok Tak Bikin Menyerah, Pedagang Kurban Asal Kendal Kini Andalkan QRIS BRI demi Keamanan Transaksi

Arixc Ardana | 25 Mei 2026, 16:02 WIB
Trauma Dirampok Tak Bikin Menyerah, Pedagang Kurban Asal Kendal Kini Andalkan QRIS BRI demi Keamanan Transaksi
Pedagang hewan kurban memang memiliki risiko besar, terutama menjelang Hari Raya Iduladha ketika transaksi meningkat dan uang tunai yang beredar cukup banyak

JATENG.AKURAT.CO, Terik matahari siang di kawasan Tembalang, Semarang, Senin (25/5/2026), tak menyurutkan aktivitas Ahmad Saiku.

Di sela suara kambing yang bersahutan dan aroma rumput pakan yang khas, pria asal Kendal itu tampak sibuk melayani calon pembeli hewan kurban di lapak sederhananya.

Sudah lebih dari 30 tahun Ahmad Saiku menjalani profesi sebagai pedagang hewan kurban.

Setiap menjelang Iduladha, ia rutin membuka lapak di sejumlah wilayah Semarang.

Baginya, musim kurban bukan sekadar momen mencari keuntungan, tetapi juga bagian dari perjalanan hidup yang penuh cerita, perjuangan, sekaligus risiko.

Tidak semua perjalanan usahanya berjalan mulus.

Sekitar 10 tahun lalu, Ahmad pernah mengalami kejadian yang hingga kini masih membekas di ingatannya.

Lapak hewan kurban miliknya disatroni perampok pada malam hari.

Sejumlah kambing dibawa kabur, sementara uang hasil penjualan yang disimpan tunai juga ikut digasak pelaku.

“Waktu itu benar-benar syok. Kambing hilang, uang penjualan juga habis dibawa. Sempat takut buat jualan lagi,” kenangnya pelan.

Peristiwa itu membuat Ahmad sempat trauma cukup lama.

Ia mengaku menjadi lebih waspada setiap musim kurban tiba.

Ilustrasi (Foto AI/Arixc Ardana-Akurat Jateng)

Bahkan, dulu dirinya sering sulit tidur karena khawatir lapaknya kembali menjadi sasaran pencurian.

Menurut Ahmad Saiku, pedagang hewan kurban memang memiliki risiko besar, terutama menjelang Hari Raya Iduladha ketika transaksi meningkat dan uang tunai yang beredar cukup banyak.

Ia mencontohkan, kasus perampokan lapak hewan kurban juga pernah terjadi di wilayah lain.

Dalam kejadian itu, kawanan perampok membawa kabur delapan ekor kambing dan menyebabkan kerugian hingga puluhan juta rupiah.

Pengalaman pahit tersebut akhirnya membuat Ahmad mulai mengubah cara bertransaksi.

Kini, ia lebih memilih menggunakan pembayaran digital melalui QRIS dari Bank Rakyat Indonesia atau BRI.

Di dekat kandang kambing miliknya, tampak sebuah papan kecil berisi kode QRIS yang sengaja dipasang agar mudah terlihat pembeli.

“Sekarang lebih nyaman pakai QRIS. Pembayaran langsung masuk rekening, jadi tidak banyak pegang uang cash di lapak,” katanya.

Menurut Ahmad, penggunaan QRIS membuat dirinya merasa lebih aman.

Selain mengurangi risiko pencurian, transaksi juga menjadi lebih praktis dan cepat.

Ia mengaku sengaja memilih layanan QRIS BRI karena bank tersebut sudah lama dikenalnya dan memiliki jaringan luas hingga pelosok desa.

“BRI itu sudah terpercaya. Cabangnya banyak sampai kecamatan dan kelurahan, jadi kalau mau ambil uang gampang di mana saja,” ujarnya.

Di sisi lain, meski sudah puluhan tahun berdagang, Ahmad mengatakan usaha hewan kurban tetap penuh ketidakpastian.

Ada masa ketika penjualan sangat ramai dan keuntungan cukup besar, tetapi ada pula tahun-tahun sulit ketika pembeli sepi.

Menurutnya, keuntungan berjualan hewan kurban sebenarnya tidak selalu besar seperti yang dibayangkan banyak orang.

Pedagang harus menanggung biaya pakan, transportasi, tenaga pekerja, hingga risiko hewan sakit atau tidak laku terjual.

“Kalau ramai ya alhamdulillah bisa untung. Tapi kalau sepi, biaya makan kambing tiap hari juga besar,” katanya sambil tersenyum tipis.

Dalam sehari, dirinya bisa menghabiskan biaya cukup besar hanya untuk membeli rumput dan pakan tambahan bagi puluhan kambing yang dipelihara sementara di lapak.

Belum lagi jika turun hujan terus-menerus, kondisi kandang menjadi lembap dan hewan rentan sakit.

Jika ada kambing mati sebelum terjual, kerugian harus ditanggung sendiri.

Namun bagi Ahmad, berdagang hewan kurban bukan sekadar soal hitung-hitungan untung rugi.

Ada kepuasan tersendiri ketika melihat pembeli pulang dengan senyum karena mendapatkan hewan kurban yang sesuai harapan.

“Namanya usaha ya dijalani saja. Yang penting jujur sama pembeli dan tetap hati-hati,” tuturnya.

Kini, setelah lebih dari tiga dekade berjualan, Ahmad memilih beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Dari yang dulu hanya mengandalkan transaksi tunai, kini ia mulai akrab dengan pembayaran digital.

Trauma akibat perampokan memang belum sepenuhnya hilang dari ingatannya. Namun kini dengan adanya QRIS, membuatnya lebih tenang untuk terus menjalani usaha yang telah menjadi bagian besar dari hidupnya itu.

Di sisi lain, dengan adanya fasilitas QRIS tersebut , juga memudahkan bagi calon pembeli.

Widiyanti, pembeli asal Semarang, mengaku senang ada lapak hewan kurban yang sudah menerapkan sistem QRIS.

"Saya sebagai pembeli juga dimudahkan, karena tidak perlu bawa uang tunai yang cukup banyak, apalagi saya rencananya mau beli 2-3 ekor kambing untuk kurban tahun ini," terangnya,

Selain itu juga lebih praktis dan dijamin sesuai dengan nominal.

"Terkadang kalau salah hitung, suka ada selisih uang Rp 100 ribu atau Rp 50 ribu, kalau pakai QRIS ini kan sudah pasti angkanya, karena transaksi langsung ke bank," tandasnya lagi.

Dalam kesempatan berbeda, Bank Indonesia telah mengembangkan QR Code Indonesian Standard (QRIS) sebagai sistem pembayaran digital nasional.

Deputi Kepala Perwakilan BI Provinsi Jawa Tengah, Nita Rachmenia mengatakan penggunaan QRIS memberikan keamanan lebih bagi masyarakat karena mampu mengurangi risiko pencurian maupun peredaran uang palsu, baik saat bertransaksi di dalam maupun luar negeri.

“Aman sudah pasti dan juga dengan QRIS ini bisa mengurangi risiko pencurian dan penipuan uang palsu, karena ini sangat membantu bagi masyarakat,” ungkapnya.

Nita menjelaskan pengembangan QRIS dilakukan dengan prinsip cepat, mudah, murah, aman, dan handal atau dikenal dengan istilah Cemumuah.

Dengan sistem tersebut, masyarakat diharapkan semakin mudah dalam melakukan transaksi digital di berbagai sektor, termasuk perdagangan hewan kurban.

Dengan menggunakan QRIS BRI, pelaku usaha dinilai lebih mudah mengelola transaksi karena pembayaran langsung masuk ke rekening.

Selain itu, sistem pembayaran digital juga membantu mengurangi risiko penyimpanan uang tunai dalam jumlah besar di tempat usaha.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.