Jateng

Menganyam Harapan dari Enceng Gondok, Cerita Bengok Craft Dibawa Terbang Mendunia dari Rawa Pening

Arixc Ardana | 25 Mei 2026, 09:18 WIB
Menganyam Harapan dari Enceng Gondok, Cerita Bengok Craft Dibawa Terbang Mendunia dari Rawa Pening
Beragam produk anyaman dari Enceng Gondok karya Bengok Craft. (Foto dok/IG @bengokcraft)

JATENG.AKURAT.CO, Di tangan sebagian orang, enceng gondok mungkin hanya dianggap gulma pengganggu yang memenuhi permukaan air.

Namun bagi Firman Setiaji, tanaman liar itu justru memiliki potensi besar untuk diolah menjadi produk bernilai ekonomi sekaligus membawa dampak lingkungan yang positif.

Berangkat dari keyakinan tersebut, Firman mendirikan Bengok Craft pada 2019, sebuah usaha kerajinan berbasis keberlanjutan yang kini berhasil menembus pasar internasional.

Berlokasi tak jauh dari kawasan wisata Rawa Pening, Kabupaten Semarang, Bengok Craft lahir dengan misi yang lebih besar daripada sekadar bisnis kerajinan.

Usaha ini dibangun untuk menjawab persoalan lingkungan sekaligus menciptakan peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar danau.

Sejak awal berdiri, Bengok Craft konsisten menjalankan prinsip keberlanjutan dalam setiap proses bisnisnya.

Konsep yang diterapkan tidak hanya fokus pada keuntungan, tetapi juga menyentuh aspek lingkungan dan sosial, mulai dari penerapan zero waste, pengembangan masyarakat lokal hingga kontribusi terhadap isu perubahan iklim.

Ilustrasi Selama tiga tahun pertama, Firman mendapatkan pendampingan usaha melalui kolaborasi dengan BRI Research untuk memperkuat fondasi bisnis. (Foto AI/Arixc Ardana/Akurat Jateng)

Firman menjelaskan, Bengok Craft memosisikan diri sebagai “Upcycle Craft Made From Water Hyacinth”, yakni brand kerajinan yang mengolah enceng gondok menjadi berbagai produk kreatif yang fungsional dan ramah lingkungan.

“Bengok Craft menghasilkan produk dari enceng gondok yang diolah menjadi berbagai kerajinan berguna sekaligus eco-friendly,” ujarnya, saat dihubungi beberapa waktu lalu.

Berbagai produk seperti tas, dompet, topi, dekorasi rumah hingga aksesori fesyen dibuat secara handmade dengan sentuhan etnik dan rustic yang menjadi ciri khas tersendiri.

Selain tampil unik, produk Bengok Craft juga mengedepankan inovasi dan praktik perdagangan yang adil (fair trade) bagi masyarakat yang terlibat dalam proses produksi.

Keunggulan lain Bengok Craft terletak pada sistem produksinya yang hampir tanpa limbah.

Seluruh proses dilakukan dengan memaksimalkan pemanfaatan bahan sehingga sejalan dengan semangat pelestarian lingkungan.

Tak hanya itu, usaha ini juga mendorong pemberdayaan warga sekitar melalui model produksi berbasis komunitas.

Saat ini sekitar 15 warga di kawasan Rawa Pening ikut terlibat dalam berbagai tahapan produksi, mulai dari pengolahan bahan baku, penganyaman hingga penyelesaian akhir produk.

Firman membangun sistem kerja berbentuk klaster di sejumlah wilayah seperti Tuntang, Banyubiru dan kawasan sekitar Rawa Pening.

Masing-masing warga memiliki peran sesuai keterampilan yang dimiliki.

“Ada yang mengerjakan bahan setengah jadi, merakit sampai menjahit. Semua punya tugas masing-masing,” jelasnya.

Kini hasil kerajinan Bengok Craft tidak hanya diminati pasar lokal.

Produk berbahan enceng gondok tersebut telah banyak dikirim ke kota-kota besar seperti Jabodetabek, Surabaya dan Bandung. Bahkan secara rutin juga dipasarkan ke sejumlah negara seperti Jepang, Singapura, Italia dan Spanyol.

Penjualan dilakukan melalui toko offline maupun platform digital.

Bengok Craft aktif memanfaatkan media sosial untuk memperluas pasar sekaligus mengedukasi masyarakat tentang pentingnya produk ramah lingkungan.

“Kami menjual secara online dan offline. Di Instagram Bengok Craft tersedia akses pemesanan, bahkan kami mulai membuat majalah online untuk mengenalkan produk,” kata Firman.

Perjalanan Bengok Craft bermula dari kegelisahan Firman melihat kondisi Danau Rawa Pening yang semakin tertutup enceng gondok.

Saat itu, tanaman air tersebut tumbuh sangat masif hingga membuat warna danau yang semestinya biru berubah menjadi hijau.

Dampaknya tidak sederhana.

Habitat ikan terganggu, jumlah hasil tangkapan nelayan menurun, dan sebagian warga kehilangan sumber mata pencaharian akibat sulitnya mencari ikan.

Alih-alih melihat enceng gondok sebagai persoalan semata, Firman justru memandangnya sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan.

Dari situlah lahir ide untuk menyulap gulma menjadi produk kreatif sekaligus membantu membersihkan area perairan.

Menurutnya, pemanfaatan enceng gondok turut membantu membuka akses bagi nelayan untuk kembali mencari ikan, sementara sebagian warga lain memperoleh sumber penghasilan baru melalui produksi kerajinan.

Di balik perkembangan Bengok Craft, terdapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk Bank Rakyat Indonesia (BRI).

Selama tiga tahun pertama, Firman mendapatkan pendampingan usaha melalui kolaborasi dengan BRI Research untuk memperkuat fondasi bisnis.

Pendampingan tersebut meliputi pengembangan usaha, bantuan sarana promosi, dukungan CSR hingga penyediaan perlengkapan display produk untuk kebutuhan galeri maupun pameran.

“Kami mendapat support pendampingan usaha, alat display sampai media promosi saat mengikuti event,” ungkap Firman.

Tak hanya itu, Firman juga menjadi penerima manfaat program Brilianpreneur 2022 yang membawanya ke Jakarta dalam ajang branding produk sekaligus memperluas pasar.

Momentum tersebut menjadi salah satu faktor meningkatnya ketertarikan konsumen dari berbagai kota besar terhadap produk Bengok Craft.

Firman juga masuk dalam jajaran Top 75 Pengusaha Muda BRIlian, yang memberinya kesempatan memperdalam inovasi produk, pengembangan bisnis dan manajemen usaha.

“Banyak ilmu yang kami terapkan untuk perkembangan Bengok Craft, mulai dari skill bisnis hingga inovasi produk,” katanya.

Bagi Bengok Craft, setiap lembar anyaman enceng gondok bukan hanya tentang produk, melainkan bagian dari gerakan kecil menjaga bumi.

Hal itu tergambar dalam tagline yang terus mereka pegang: “Turn Waste, To Save The Planet” — mengubah limbah demi menyelamatkan planet.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.