Nyaris Jadi Korban Penipuan KUR Online, Pedagang Mie Ayam di Semarang Pilih Datang Langsung ke Kantor BRI: Lebih Aman

JATENG.AKURAT.CO, Suara ketukan mangkuk dan aroma kuah hangat menyambut pembeli di gerobak mie ayam milik Supriyadi di kawasan Ngesrep Semarang.
Di bawah tenda sederhana, pria 34 tahun itu tampak sibuk meracik mie, menata mangkok, lalu menuangkan kuah panas untuk pelanggan yang datang silih berganti.
Sudah enam bulan terakhir Supriyadi menjalani usaha mie ayam yang dirintisnya secara mandiri.
Meski belum besar, usaha tersebut perlahan mulai dikenal warga sekitar.
Namun seperti kebanyakan pelaku UMKM lain, dirinya masih menghadapi persoalan klasik, yakni keterbatasan modal usaha.
Ia ingin mengembangkan usahanya agar lebih nyaman bagi pelanggan.
Mulai dari membeli meja tambahan, memperbaiki gerobak, menambah stok bahan baku, hingga membuat tempat berjualan lebih layak.
“Kalau ada tambahan modal pengin bikin lebih bagus lagi. Biar pembeli makin nyaman dan usaha bisa berkembang,” ujarnya.
Keinginan untuk mengembangkan usaha itulah yang membuat Supriyadi mulai mencari informasi terkait Kredit Usaha Rakyat (KUR).
Ia mendengar program pinjaman dari Bank Rakyat Indonesia atau BRI cukup banyak dimanfaatkan pelaku usaha kecil karena bunganya ringan dan prosesnya mudah.
Di sela waktu berjualan, Supriyadi mulai mencari informasi melalui media sosial.
Hingga suatu saat, dirinya menemukan sebuah akun Instagram yang menawarkan layanan pengajuan KUR BRI secara online.
Tampilan akun tersebut terlihat sangat meyakinkan. Mulai dari logo BRI, desain unggahan, hingga berbagai testimoni pencairan pinjaman dibuat menyerupai akun resmi perbankan.
“Awalnya saya percaya karena tampilannya seperti resmi. Ada logo BRI, ada informasi pinjaman juga,” katanya.
Karena sedang membutuhkan tambahan modal, Supriyadi sempat tertarik mencoba mengajukan pinjaman melalui akun tersebut.
Ia bahkan mulai membaca prosedur pengajuan yang ditawarkan.
Ilustrasi awas modus penipuan baru dengan mengatasnamakan BRI melalui KUR online (Foto AI/Arixc Ardana/Akurat Jateng)
Namun sebelum melanjutkan proses, dirinya menunjukkan akun tersebut kepada seorang teman. Dari situlah ia mulai sadar ada hal yang janggal.
Temannya menilai akun tersebut kemungkinan palsu karena meminta proses pengajuan dilakukan melalui pesan media sosial serta mengarahkan ke tautan tertentu.
“Saya langsung batal lanjut. Takut nanti malah jadi penipuan,” ujarnya.
Supriyadi akhirnya memilih datang langsung ke kantor BRI terdekat di kawasan Ngesrep, Semarang. Menurutnya, cara tersebut jauh lebih aman karena bisa memperoleh penjelasan langsung dari petugas resmi.
Di kantor BRI, dirinya mendapatkan informasi lengkap terkait prosedur pengajuan KUR, syarat administrasi, hingga proses survei usaha.
“Kalau datang langsung lebih jelas dan lebih tenang karena petugasnya resmi,” katanya.
Petugas BRI juga menjelaskan beberapa pilihan layanan KUR yang dapat dimanfaatkan pelaku UMKM sesuai kebutuhan usaha.
Untuk pelaku usaha kecil yang baru merintis, tersedia KUR Super Mikro dengan plafon pinjaman hingga Rp10 juta dan bunga spesial hanya 3 persen per tahun.
Sementara bagi pelaku usaha yang membutuhkan modal lebih besar, tersedia KUR Mikro dengan plafon mulai Rp10 juta hingga Rp100 juta tanpa agunan tambahan.
Menurut Supriyadi, informasi tersebut membuat dirinya semakin yakin untuk mengajukan pinjaman melalui jalur resmi dibanding mengikuti penawaran di media sosial yang belum jelas kebenarannya.
Menanggapi hal tersebut, Bank Rakyat Indonesia menegaskan bahwa seluruh proses pengajuan Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI tidak pernah dilakukan melalui penawaran online menggunakan tautan tidak resmi maupun akun media sosial pribadi.
Corporate Secretary BRI, Dhanny mengatakan belakangan marak muncul modus penipuan yang mengatasnamakan BRI melalui pesan singkat, media sosial, hingga tautan digital palsu.
Menurutnya, pelaku biasanya membuat akun menyerupai layanan resmi BRI untuk menarik calon korban yang sedang mencari pinjaman usaha.
“BRI tidak pernah menawarkan ataupun memproses pengajuan KUR secara online melalui tautan tidak resmi, akun pribadi, maupun pihak yang tidak memiliki keterkaitan dengan BRI. Seluruh proses pengajuan KUR hanya dilakukan melalui unit kerja resmi BRI dan diproses langsung oleh petugas BRI resmi,” ujar Dhanny.
Ia menegaskan, masyarakat yang ingin mengajukan KUR sebaiknya langsung mendatangi unit kerja resmi BRI agar memperoleh informasi yang benar dan aman.
Dhanny menjelaskan layanan pengajuan KUR dapat diakses melalui Kantor Cabang, Kantor Cabang Pembantu, BRI Unit, Teras BRI, AgenBRILink, hingga tenaga pemasar resmi BRI yang tersebar di seluruh Indonesia.
Selain itu, BRI juga memastikan seluruh proses pengajuan KUR tidak dipungut biaya apa pun di awal.
Karena itu, masyarakat diminta waspada apabila ada pihak yang menjanjikan pencairan cepat dengan meminta transfer uang, biaya administrasi, ataupun syarat tidak wajar lainnya.
“Jika ada pihak yang meminta biaya di awal, meminta transfer sejumlah uang, atau meminta data pribadi secara tidak wajar, masyarakat harus curiga karena itu bisa menjadi indikasi penipuan,” katanya.
Dhanny juga mengingatkan masyarakat untuk tidak pernah memberikan data pribadi maupun data perbankan yang bersifat rahasia kepada siapa pun.
Data seperti PIN, password, kode OTP, CVV kartu, hingga informasi rekening tidak boleh dibagikan meskipun pihak tersebut mengaku sebagai petugas bank.
“Setiap permintaan data rahasia nasabah dapat dipastikan merupakan indikasi penipuan. Masyarakat diharapkan selalu melakukan verifikasi informasi melalui kanal resmi BRI,” tambahnya.
Sebagai langkah pencegahan, BRI mengimbau masyarakat hanya mengakses informasi melalui website resmi BRI, akun media sosial resmi yang telah terverifikasi, maupun layanan Contact BRI di nomor 14017 atau 1500017.
Dhanny mengatakan BRI juga terus memperkuat edukasi literasi keuangan dan keamanan digital kepada masyarakat agar semakin memahami berbagai modus kejahatan perbankan yang berkembang di era digital.
“Sebagai bagian dari komitmen meningkatkan keamanan layanan perbankan, BRI terus memperkuat edukasi literasi keuangan dan kewaspadaan masyarakat, sekaligus berkoordinasi dengan pihak terkait dalam menindaklanjuti berbagai modus penipuan yang menyalahgunakan nama perusahaan,” pungkasnya.
Bagi Supriyadi, pengalaman tersebut menjadi pelajaran penting di tengah maraknya penipuan digital. Ia kini lebih berhati-hati setiap kali menemukan penawaran pinjaman melalui media sosial.
Sebab dari gerobak mie ayam sederhana yang dijalaninya setiap hari, ada harapan besar yang sedang diperjuangkannya untuk masa depan keluarga.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Peringkat FIFA Oman vs Indonesia Malam Ini: Jika Menang, Seri, atau Kalah, Posisi Timnas Garuda Bisa Berubah
- 2iPhone 18 Pro Bocor di Internet, Warna Dark Cherry Jadi Daya Tarik Utama
- 3Barcelona Siapkan Siasat Licik: Tawar Rashford Rp 260 Miliar, MU Dipojokkan Demi Bebaskan Gaji
- 4Tanda Bansos Kamu Sudah Diterima dan Siap Diambil! Lakukan Cek dengan 3 Cara Mudah Ini
- 5Terungkap! Ini Alasan Thom Haye Tidak Diturunkan Saat Indonesia vs Oman, Ternyata Masih Jalani Sanksi FIFA
- 6Man City dan Bayern Saling Sikut Rekrut Bek Chelsea, Maresca Ingin Reuni dengan Mantan Anak Buah
- 7Terungkap! Ini Alasan Layvin Kurzawa Tinggalkan Persib Bandung! Dua Pemain Asing Lain Segera Menyusul?
- 8Shearer Buka Suara: Sandro Tonali Bisa ke MU Jika Dua Syarat Ini Terpenuhi, Bandrol £90 Juta!
- 9Gagal Move On, Manchester United Siap Bajak Elliot Anderson dari Bawah Hidung City
- 10Morgan Rogers Siap Gabung Arsenal, Roy Keane: 'Dia Mengingatkan Saya pada Paul Gascoigne'





