Jateng

Inflasi Jawa Tengah Tetap Rendah Ditengah Kenaikan Harga Emas akibat Tekanan Geopolitik

Arixc Ardana | 6 Mei 2026, 12:11 WIB
Inflasi Jawa Tengah Tetap Rendah Ditengah Kenaikan Harga Emas akibat Tekanan Geopolitik
Kenaikan harga emas ini tidak terlepas dari meningkatnya tensi geopolitik global, khususnya konflik di kawasan Timur Tengah yang mendorong lonjakan harga emas dunia sebagai aset lindung nilai

JATENG.AKURAT.CO, Kondisi inflasi di Provinsi Jawa Tengah pada April 2026 menunjukkan stabilitas yang cukup terjaga di tengah dinamika global dan domestik.

Secara tahunan, inflasi Jawa Tengah tercatat sebesar 2,11 persen (year on year/yoy), lebih rendah dibandingkan capaian nasional yang berada di angka 2,42 persen (yoy), bahkan menjadi salah satu yang terendah di Pulau Jawa.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, M. Noor Nugoho, menegaskan bahwa inflasi yang terkendali ini mencerminkan sinergi kuat antara berbagai pihak dalam menjaga stabilitas harga di daerah.

“Secara tahunan, Provinsi Jawa Tengah mengalami inflasi sebesar 2,11 persen (yoy) pada April 2026, lebih rendah dibandingkan inflasi nasional sebesar 2,42 persen (yoy) maupun provinsi lain di Pulau Jawa,” ujar M. Noor Nugoho.

Ia menjelaskan, tekanan inflasi di Jawa Tengah terutama berasal dari komoditas emas perhiasan yang memberikan andil terbesar, yakni 0,63 persen (yoy).

Kenaikan harga emas ini tidak terlepas dari meningkatnya tensi geopolitik global, khususnya konflik di kawasan Timur Tengah yang mendorong lonjakan harga emas dunia sebagai aset lindung nilai.

Selain emas perhiasan, sejumlah komoditas lain juga turut menyumbang inflasi, di antaranya beras, daging ayam ras, minyak goreng, serta sigaret kretek mesin (SKM).

Komoditas-komoditas tersebut memiliki bobot konsumsi yang cukup besar dalam struktur pengeluaran masyarakat, sehingga pergerakan harganya cukup berpengaruh terhadap inflasi secara keseluruhan.

Namun demikian, laju inflasi di Jawa Tengah tidak meningkat lebih tinggi karena tertahan oleh penurunan harga sejumlah komoditas strategis.

Di antaranya adalah bawang putih, bawang merah, cabai merah, kelapa, serta tarif angkutan antar kota yang mengalami koreksi harga.

Penurunan harga komoditas pangan ini menjadi faktor penting dalam menjaga keseimbangan inflasi, terutama setelah periode tekanan harga pada bulan-bulan sebelumnya.

Dari sisi spasial, dinamika harga di Jawa Tengah juga menunjukkan variasi antar wilayah.

Sejalan dengan kondisi deflasi secara bulanan di tingkat provinsi, sejumlah kota Indeks Harga Konsumen (IHK) turut mengalami deflasi pada April 2026.

Deflasi terdalam tercatat di Kabupaten Wonogiri sebesar 0,25 persen (mtm), disusul Kabupaten Wonosobo sebesar 0,23 persen (mtm), Cilacap sebesar 0,21 persen (mtm), Kota Surakarta sebesar 0,10 persen (mtm), Kota Tegal sebesar 0,09 persen (mtm), Purwokerto sebesar 0,07 persen (mtm), serta Kabupaten Rembang sebesar 0,07 persen (mtm).

Sementara itu, beberapa wilayah masih mencatat inflasi secara bulanan, yakni Kota Semarang sebesar 0,17 persen (mtm) dan Kudus sebesar 0,02 persen (mtm).

Meski terdapat variasi secara bulanan, secara tahunan seluruh kota IHK di Jawa Tengah tetap mengalami inflasi. Kota Tegal mencatat inflasi tertinggi sebesar 2,30 persen (yoy), diikuti Kota Surakarta 2,27 persen (yoy), Cilacap 2,23 persen (yoy), Kota Semarang 2,19 persen (yoy), Kabupaten Wonogiri 2,16 persen (yoy), Purwokerto 2,12 persen (yoy), Kudus 1,90 persen (yoy), Kabupaten Rembang 1,79 persen (yoy), dan Kabupaten Wonosobo 1,76 persen (yoy).

Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun terjadi penurunan harga dalam jangka pendek di beberapa wilayah, tren inflasi tahunan masih tetap terjaga dalam kisaran yang sehat.

Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus menjaga stabilitas inflasi ke depan. Melalui sinergi bersama pemerintah daerah dan pemangku kepentingan yang tergabung dalam Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), berbagai langkah strategis terus diperkuat.

“Ke depan, untuk menjaga inflasi tetap berada pada rentang sasaran, Bank Indonesia bersama para pemangku kepentingan dalam TPID Provinsi Jawa Tengah dan TPID kabupaten/kota akan terus memperkuat koordinasi dan kerja sama dalam melaksanakan program pengendalian inflasi,” jelas M. Noor Nugoho.

Program pengendalian tersebut difokuskan pada upaya menjaga kecukupan pasokan serta kelancaran distribusi barang dan komoditas di seluruh wilayah Jawa Tengah.

Langkah ini dinilai krusial untuk memastikan inflasi tetap berada dalam target yang telah ditetapkan, yakni 2,5 persen plus minus 1 persen.

Dengan inflasi yang tetap terkendali di tengah tekanan global, Jawa Tengah menunjukkan ketahanan ekonomi daerah yang cukup solid.

Keberhasilan ini tidak hanya menjadi indikator stabilitas, tetapi juga menjadi fondasi penting dalam menjaga daya beli masyarakat serta mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.