Konflik Iran-AS Picu Lonjakan Harga Energi, Emas Justru Melemah 0,4 Persen

JATENG.AKURAT.CO, Harga emas dunia kembali tertekan pada perdagangan Selasa (24/3/2026) waktu setempat atau Rabu (25/3/2026) pagi WIB.
Di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah yang justru memicu kenaikan harga energi, emas justru menunjukkan pelemahan.
Harga emas di pasar spot turun 0,4 persen ke level 4.389,26 dollar AS per ons, setelah sebelumnya sempat menyentuh level terendah sejak November pada perdagangan Senin.
Kontrak emas berjangka AS untuk pengiriman April juga ditutup melemah 0,1 persen ke posisi 4.402,00 dollar AS per ons.
Penurunan ini terjadi di saat kekhawatiran inflasi akibat kenaikan harga energi meningkat.
Konflik antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran telah mengganggu sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair global yang melewati Selat Hormuz.
Namun, alih-alih melonjak sebagai aset aman (safe haven), emas justru kehilangan daya tarik karena ekspektasi bahwa bank sentral global akan mempertahankan suku bunga tinggi untuk menekan inflasi.
Emas yang tidak memberikan imbal hasil cenderung kurang diminati dalam lingkungan suku bunga tinggi.
Baca Juga: Harga Emas Antam Hari Ini Rabu 25 Maret 2026, Naik Rp7.000 Jadi Rp2.850.000 per Gram
Emas Tertekan Suku Bunga Tinggi di Tengah Konflik
Kepala Strategi Komoditas Global TD Securities, Bart Melek, menjelaskan bahwa konflik berkepanjangan dan kenaikan harga energi justru menjadi kabar buruk bagi emas.
"Emas kemungkinan akan berada di bawah tekanan pada kuartal kedua, tetapi pada akhir tahun prospeknya bisa kembali sangat menarik, karena kami berharap bank sentral seperti The Fed memiliki ruang lebih besar dan kita bisa melihat dollar melemah serta suku bunga turun," ujarnya.
Secara fundamental, emas memang memiliki hubungan terbalik dengan suku bunga.
Ketika suku bunga naik, biaya oportunitas memegang emas (yang tidak memberikan bunga) meningkat, sehingga investor cenderung beralih ke aset yang memberikan imbal hasil.
Kondisi ini diperparah dengan penguatan dolar AS yang membuat emas lebih mahal bagi pemegang mata uang lain.
Upaya Diplomasi Mulai Muncul
Di sisi lain, ada secercah harapan diplomatik. Perdana Menteri Pakistan menyatakan kesediaannya menjadi tuan rumah perundingan antara Amerika Serikat dan Iran untuk mengakhiri perang.
Pernyataan ini disampaikan sehari setelah Presiden AS Donald Trump menunda ancaman serangan terhadap fasilitas listrik Iran.
Jika upaya ini membuahkan hasil, tekanan geopolitik yang mendorong kenaikan harga energi bisa mereda, dan secara tidak langsung juga akan mempengaruhi pergerakan emas.
Penurunan Berlebihan? Analis Commerzbank Buka Suara
Analis Commerzbank menilai penurunan harga emas saat ini kemungkinan merupakan reaksi berlebihan, setelah sebelumnya mengalami lonjakan tajam di awal tahun.
"Penurunan harga baru-baru ini kemungkinan sama berlebihannya dengan kenaikan besar di awal tahun. Dalam arti tertentu, bandul telah berayun dari satu ekstrem ke ekstrem lainnya untuk emas," tulis analis Commerzbank dalam catatannya.
Sejak mencapai puncaknya pada 29 Januari 2026 di level 5.594,82 dollar AS per ons, harga emas spot kini telah turun lebih dari 21 persen.
Bahkan sejak perang antara AS-Israel dan Iran dimulai pada 28 Februari 2026, emas telah melemah hampir 17 persen.
Pergerakan Logam Mulia Lainnya
Di tengah pelemahan emas, logam mulia lainnya menunjukkan pergerakan yang beragam:
Perak di pasar spot naik 0,4 persen menjadi 69,43 dollar AS per ons
Platinum menguat 1 persen ke 1.900,13 dollar AS per ons
Palladium turun 2,1 persen menjadi 1.403,75 dollar AS per ons
Definisi dan Istilah Penting
Safe Haven: Aset yang dianggap aman dan cenderung stabil atau naik nilainya di tengah ketidakpastian ekonomi dan geopolitik. Emas adalah salah satu safe haven utama.
Suku Bunga Tinggi: Kebijakan bank sentral untuk menaikkan suku bunga acuan guna mengendalikan inflasi, yang berdampak pada penguatan mata uang dan pelemahan harga komoditas seperti emas.
Selat Hormuz: Jalur perairan strategis di Timur Tengah yang menjadi lintasan utama pengiriman minyak dunia. Gangguan di jalur ini dapat memicu lonjakan harga energi.
Spot Price: Harga emas untuk transaksi tunai dan pengiriman segera, berbeda dengan harga kontrak berjangka.
FAQ Seputar Harga Emas
Q: Mengapa emas turun padahal konflik Timur Tengah memanas?
A: Emas cenderung kehilangan daya tarik dalam lingkungan suku bunga tinggi karena tidak memberikan imbal hasil. Kekhawatiran inflasi justru mendorong ekspektasi bank sentral menaikkan suku bunga, yang menjadi tekanan utama bagi emas.
Q: Apakah emas masih merupakan aset safe haven?
A: Ya, emas tetap menjadi safe haven jangka panjang. Namun, dalam jangka pendek, pergerakannya sangat dipengaruhi oleh ekspektasi suku bunga dan penguatan dolar AS.
Q: Berapa proyeksi harga emas ke depan?
A: Bart Melek dari TD Securities memperkirakan emas masih akan tertekan di kuartal kedua, tetapi prospek akhir tahun bisa kembali menarik jika bank sentral mulai menurunkan suku bunga.
Q: Apakah penurunan emas saat ini sudah mencapai titik terendah?
A: Analis Commerzbank menilai penurunan ini kemungkinan berlebihan. Namun, belum ada kepastian apakah harga akan segera berbalik naik mengingat masih tingginya ketidakpastian geopolitik dan kebijakan moneter.
Q: Apakah logam mulia lain juga ikut turun?
A: Tidak. Perak dan platinum justru menguat, menunjukkan bahwa penurunan emas tidak serta-merta diikuti oleh semua logam mulia.
Pelemahan harga emas di tengah konflik Timur Tengah menunjukkan kompleksitas dinamika pasar komoditas.
Ekspektasi suku bunga tinggi ternyata lebih dominan dalam menentukan arah harga emas dibandingkan faktor geopolitik.
Investor disarankan untuk terus memantau perkembangan kebijakan bank sentral dan upaya diplomatik di Timur Tengah yang dapat menjadi katalis perubahan arah harga emas dalam beberapa pekan ke depan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.








