Jateng

Tidak Sengaja Bikin Kue Semprong, Tak Disangka Yuta Sukses Meniti Usaha Hingga Pasar Internasional

Theo Adi Pratama | 15 April 2025, 10:34 WIB
Tidak Sengaja Bikin Kue Semprong, Tak Disangka Yuta Sukses Meniti Usaha Hingga Pasar Internasional

JATENG.AKURAT.CO, Terkadang sukses dalam membangun usaha dimulai dari ketidaksengajaan. Hal itu dilakukan oleh Yuta Endang Pujiastuti (61), Owner Semprong Yuta Semarang.

Yuta yang hanya seorang ibu rumah tangga tak menyangka kue semprong yang dibuatnya saat berkunjung ke rumah saudaranya bisa dipasarkan hingga ke beberapa negara.

Yuta sendiri tak begitu mengerti bagaimana cara memasarkan produk, akhirnya di awal tahun 2000 di mana Yuta mencoba usahanya tak meneruskannya lagi. Meski begitu, kemampuan membuat kue semprong tidak hilang.

“Waktu itu saya bikin buat saudara, dia bilang kok enak. Terus disarankan dijual, ternyata laku. Jualannya tahun 2000 awal. Tapi gak serius, akhirnya berhenti,” ujar Yuta saat diwawancara pada Selasa (15/4/2025).

Yuta sendiri baru benar-benar serius membangun usaha setelah 18 tahun kemudian. Pada tahun 2018, Yuta masuk ke komunitas UMKM yang membuatnya bersemangat.

“Mulai lagi tahun 2018 waktu saya masuk ke komunitas UKM, jadi saya dapat temen satu profesi. Nah karena ada temen satu profesi kita jadi semangat,” ucapnya.

Pada saat itu, Yuta mengikuti lomba ketahanan pangan di tingkat Kota Semarang yang membawanya meraih juara satu. Kemudian dia naik ke tingkat provinsi dan meraih juara tiga.

“Kebetulan tahun 2018 ada lomba ketahanan pangan, lalu kebetulan semprong ini juara satu. Terus naik ke provinsi saya dapat juara 3. Juara tiga kan gak bisa masuk ke nasional,” tuturnya.

Beda Bahan

Bahan semprong Yuta beda dengan semprong yang lain. Yuta mengatakan bahwa bahan semprong yang dia buat berasal dari tepung mokaf yang sempat dicanangkan pemerintah sebagai subtitusi tepung gandum.

“Nah komposisi bahannya gak sengaja beda juga. Waktu Pak Jokowi jadi presiden awal, menghimbau supaya Indonesia tidak mengimport gandum. Nah sebagai subtitusinya gandum itu adalah tepung mokaf. Terus akhirnya jadi saya pakai tepung mokaf yang saya dapat dari komunitas Jogja yang komunitas sana udah pakai tepung ini duluan,” paparnya.

Tak mudah bagi Yuta mencari tepung mokaf, selain barangnya langka di pasaran, harganya juga cukup mahal yang membuat harga jual kue semprongnya juga melambung.

“Waktu itu saya sempat kesulitan mencari tepung mokaf. Terus saya dikirimi temen dari Jogja, namanya Bu Aisyah, akhirnya saya trial. Nah itu juga bikin bingung lagi setelah trial, karena saya gak tau nyari tepung mokaf di mana. Terus ada temen nyaranin ke Gunungpati, ternyata ada di sana,” tuturnya.

Tapi, saat ini Yuta mengatakan sudah tidak kesulitan lagi mencari tepung mokaf. Pasalnya dia sudah berlanggan dengan sebuah pabrik di Malang untuk mengirim tepung dengan harga terjangkau.

“Kalau sekarang saya langsung beli dari pabrik mokaf yang ada di malang, karena harganya lebih terjangkau termasuk ongkirnya. Tapi beli dari pabrik harus langusng banyak, minimal 150 Kg sekali kirim, tapi itu gak apa-apa sih kan pembelinya sekarang sudah makin banyak gak kaya dulu yang ngecer-ngecer,” bebernya.

Varian

Yuta saat ini memproduksi lima varian kue semprong yang menyesuaikan selera konsumen dan menyesuaikan manfaatnya dengan kebutuhan konsumen yang ada.

“Semprong yang saya buat ada 5 varian, original, ginger, maxsugar yang gulanya saya Ganti gula merah, terus ada dari campuran kelapa, dan chees untuk konsumen anak-anak. Kemungkinan saya akan bikin varian baru, kalau jadi saya bikin semprong lapis entah pakai coklat atau keju,” tuturnya.

Dia pernah mengikuti kurasi untuk stock produk di Indomaret namun dinilai tidak memenuhi kebutuhan pasar jadi produknya urung tampil di display Indomaret.

“Saya juga sempat ikut kurasi Indomaret, tapi kurang berkembang karena level pasarnya beda,” tuturnya.

Rumah BUMN

Dirinya mulai bergabung dengan komunitas UMKM di Rumah BUMN pada tahun 2018 saat mengikuti pameran di UMKM Centre di Banyumanik Semarang. Dia diajak oleh seorang pengajar untuk menyempurnakan kemasan dan pemasaran agar diterima lebih baik oleh pasar.

“Saya gabung Rumah BUMN pas pertama kali mengembangkan usaha saya ini. Pertama kenal Mbak Tia itu pas di UMKM Centre Banyumank di acara ngucing akhir tahun 2018. Dia kan ngajar di sini ya, ya saya ikut untuk pelatihan marketing, pengemasan, dan lain-lain,” bebernya.

Akhirnya pada tahun 2019, dirinya mengikuti pameran pertama kali yang digelar oleh Rumah BUMN hingga mengikuti pameran di Changi Singapura.

“Terus dari Rumah BUMN saya ikut pameran pertama kali di Jakarta tahun 2019. Sebelumnya saya juga dapat pameran di Changi Singapura juga dari BI,” jelasnya.

Saat ini, Yuta mematok harga kue Semprongnya berkisar antara 45 ribu hingga 55 ribu rupiah perbungkus. Selain itu, keunggulan produknya adalah rendah gluten yang membuat produknya aman dikonsumsi oleh anak autis.

“Paket semprong Yuta ini harganya 45 ribu rupiah sampai 55 ribu rupiah. Keunggulan produk saya ini rendah gluten yang aman dikonsumsi anak yang autis,” ucapnya.

Fasilitas dari BRI

Yuta sendiri mendapatkan banyak bantuan dari Bak Rakyat Indonesia (BRI)dalam mengembangkan usahanya. Dia menjelaskan BRI rutin mengadakan bazar, pelatihan, membantu jika ada pesanan, hingga membantu permodalan.

“Ada bazar, pelatihan, membantu jika ada pesenanan, terus ada permodalan, kemudian kegiatan BRIliant Preuner untuk mempertemukan buyer atau pemodal,” tuturnya.

“BRI membantu banget memperkenalkan produk saya ini. Produk saya ini kan gluten free ya, bukan rendah gula. Pas saya jelaskan ke konsumen di beberapa pameran mereka masih bingung karena rasanya manis,” ujarnya.

“Nah saya jelaskan, gluten free itu rendah protein bukan rendah gula. Manfaatnya itu aman dimakan oleh penderita autis dan kangker. Nah BRI membantu saya menjelaskan itu ke konsumen,” tuturnya.

Yuta mengaku tiap kali pameran dirinya harus mengedukasi konsumen kandungannya apa dan manfaatnya apa. Edukasi tersebut dibantu oleh kru dari BRI saat pameran.

Sementara itu, Endang Sulistyaningsih yang merupakan koordinator Rumah BUMN Semarang yang merupakan tangan Panjang BRI dalam membina UMKM mengatakan, Rumah BUMN bukan hanya sekedar sebagai tempat untuk memperkenalkan produk.

Di sini para member bisa saling bercerita, curhat, atau melampiaskan isi hatinya dengan kegiatan yang positif sekaligus produktif.

“Rata-rata orang yang mau masuk ke sini itu karena ada masalah ekonomi keluarga. Akhirnya di sini kita harus memastikan produk UMKM yang dibawa member harus terjual,” tuturnya.

Tia sendiri memfasilitasi para member dalam pelatihan, bazar, dan mengakomodir pengunjung.

“Nah di rumah BUMN sendiri menyediakan pelatihan marketing gratis dan member bisa mendisplay produknya ke sini sehingga pengunjung bisa membeli. Selain itu rumah BUMN juga membuatkan event, bazar, dan lain-lain,” ujar Tia menjabarkan tanggungjawab utamanya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.