Jateng

Pernah Ditipu Puluhan Juta, Norma Avantin Tak Menyerah Hingga Sukses Membangun Brand Jamu ISNA

Theo Adi Pratama | 9 Maret 2025, 12:40 WIB
Pernah Ditipu Puluhan Juta, Norma Avantin Tak Menyerah Hingga Sukses Membangun Brand Jamu ISNA

JATENG.AKURAT.CO, Norma Avantin sudah berusia 60 tahun, namun semangatnya tak kendor. Visiknya terlihat kuat meskipun setiap hari berkeliling toko mengecek produk jamu tradisional ‘ISNA’ di sekitar Kota Semarang.

Yang menakjubkan, Norma Avantin pernah ditipu oleh sebuah instansi hingga merugi 20 juta rupiah.

“Aku pernah ketipu sekali nilainya modal aku yang keluar 20 juta gak balik. Waktu itu ada instansi yang bawa produk aku ekspor ke Malaysia. Lama gak ada kabar aku cek produkku ternyata udah ada di toko-toko Malaysia, tapi pimpinan instansi ini aku tagih gak ada respon. Ternyata instansi ini malah kena masalah hukum. Jadi ya udah, 20 jutaku itu melayang,” beber Wanita yang akrab disapa ISNA sesuai nama produknya.

Hikmah yang bisa diambil dari kejadian itu membuat Norma belajar banyak mengenai pencatatan keuangan, manajemen Perusahaan, pembukuan, hingga manajemen pemesanan dan manajemen komplain yang membuat kualitas produknya meningkat serta sasaran pemasaran produk yang lebih terarah sehingga tak gampang ditipu.

“Jadi gara-gara itu (penipuan) sekarang kalau ada orang yang mesen, aku selalu minta DP biar gak ketipu lagi. Jadi kalau dia membatalkan aku gak rugi. Jadi setelah kasus itu aku hati-hati. Pas kasus penipuan itu ternyata gak Cuma aku. Ada banyak UMKM yang ketipu. Jadi aku ngerentes di hatiku yang bikin aku harus lebih hati-hati lagi,” bebernya.

Awal Mula

Norma kemudian menceritakan pekerjaan yang pernah dia lakukan hingga memutuskan untuk fokus dalam memproduksi jamu.

“Awalnya ya kita punya usaha macem-macem. Aku nyoba di catering juga, tapi ya mungkin passionnya aku ke jamu karena aku pengin bikin masyarakat sehat,” ujarnya.

Norma membuka usaha jamu ini di tahun 2016, tapi baru mulai eksis tahun 2018 setelah perijinan UMKM selesai semua. Dirinya saat ini memiliki delapan varian produk dari bahan temu lawak, kunyit putih, kunyit, sari kedelai, dan jahe ori sama kopi jahe.

“Favorit pelanggan aku itu jahe ori karena instan. Pokoknya yang instan-instan itu yang jadi favorit pelanggan aku. Jadi minuman yang murni dari jahe itu yang lagi booming,” ungkapnya.

Bergabung dengan Rumah BUMN

Brand ISNA sudah bergabung di Rumah BUMN itu sudah lama sejak 2018. Bergabungnya ‘ISNA’ berawal dari kelolosannya dalam program BRIncubator. Sejak saat itu produk jamu tradisional instan ini berkembang sampai sekarang.

“Aku ikut dua kali di awal tapi tidak lolos. Tapi kemudian lolos malah ada covid-19. Terus sempet agak tersendat bisnis aku pas covid-19 itu. Dulu aku sempat ke Jakarta ikut-ikut pameran dari program itu. Aku juga lolos BRIliant Preneur pas covid-19 juga. Jadi aku lolos beberapa program BRI malah pas covid-19,” ungkapnya.

Nah Norma meningkatkan manajemen dan pemasaran brand ISNA itu di BRIncubator. Dirinya mendapat banyak manfaat dari pengembangan manajemen dan pemasaran di sana.

“Ya sampai sejauh ini aku tetep aktif ikut program BRI walaupun udah 60 tahun ya. Mudah-mudahan semangatnya terjaga,” ungkapnya.

Berawal dari Jualan di Lingkungan RT

Sebelum Norma ikut di BRI dirinya hanya berjualan di lingkungan RT, arisan, dan di kelurahan.  

“Ya jualan di tetangga-tetangga aja. Tapi setelah dapet pelatihan aku tambah berani buat pemasaran yak arena produknya juga nambah terus. Dari pelatihan itu aku dapet ilmu pembukuan, pengelolaan keuangan, digital marketing, dan lain-lain yang aku belum bisa. Pokoknya sesuatu yang aku belum bisa aku ikut pelatihannya,” bebernya.

Norma  sendiri latar belakangnya adalah ibu rumah tangga, almarhum suaminya adalah pensiunan dosen di Politeknik Kesehatan (Poltekes) Semarang.

“Nah dari situ suami saya mendampingi praktek mahasiswanya yang membuat minuman bergizi instan. Nah dari situ saya ikut belajar karena suami aku selalu bawa pulang hasil olahan mahasiswanya,” ungkapnya.

Visi Norma adalah memperkenalkan jamu yang berkhasiat namun enak. Hal itu dia lakukan karena kebanyakan jamu murni rasanya pahit dan jarang yang suka.

“Setelah saya olah ternyata banyak orang yang suka. Pemikirannya orang kan minum jamu itu pahit, saya merubah cara berpikir itu,” ungkapnya.

Norma semakin giat memproduksi brand jamunya hingga memiliki mesin produksi yang cukup canggih setelah suaminya meninggal karena terpapar Covid-19 pada tahun 2022.

“Suami saya sendiri meninggal tahun 2022 karena covid-19. Sekarang saya berjuang untuk mencari nafkah,” ujarnya.

“Saya sendiri sudah memproduksi menggunakan mesin, jadi walaupun sendirian saya nggak repot. Apalagi aku udah ada karyawan sekarang,” tambahnya.

Norma mengatakan dirinya sudah memiliki 4 orang anak dan berhasil membantu menyelsaikan Pendidikan keempat anaknya melalui usahanya ini.

“Anak-anak aku sendiri ada 4, yang pertama sudah S3 terus yang bungsu udah mau selesai. Aku sendiri Cuma lulusan SMA karena pas mau kuliah nggak bisa. Alhamdulillah perkembangan bisnis lancar sampai bisa nyekolahin anak bahkan produksi jamu aku berkembang terus sampe punya mesin sendiri, bebernya.

Baru-baru ini Norma mendapatkan bantuan mesin produksi lagi dari Politeknik Negeri Semarang (Polinnes). Sebelumnya dia juga mendapat bantuan dari BRI.

“Aku baru dapet bantuan juga mesin dari Polines, jadi aku udah punya alat dua terus dapet bantuan satu jadi sekarang punya tiga alat. Bantuan dari BRI tentunya pelatihan, permodalan, dan alat juga,” ujarnya.

“BRI juga memfasilitasi pemasaran, bazar, pelatihan, memasok ke took-toko, bahkan sampai ekspor,” ungkapnya.

Norma mengatakan hamper tidak pernah menemukan produknya ekspierd karena tidak laku. Namun dia pernah mengalaminya sekali karena menitipkan di rest area jalan tol.

“Kalau ekspierd karena gak laku hampir gak pernah. Pernah sekali ekspierd 10 bungkus di rest area karena ibu susah untuk ngecek atau nanya-nanya ke pengelola rest areanya,” bebernya.

Norma menjelaskan kuantitas produksinya dalam satu minggu itu dua kali masing-masing 50 kilogram.

“Berarti dalam satu minggu bisa 100 kilo saya buat,” ucapnya.

Produk ISNA sudah tersebar di toko-toko Semarang. Termasuk di tokonya cik Memei, toko oleh-oleh Pandanaran, Bandara dan lain sebagainya.

“Mungkin udah kesebar di 37 toko,” tandasnya.

“Kalau harga jahe yang pakai gula itu perbungkus 35 ribu rupiah. Kalau yang tanpa gula lebih mahal karena kalau aku memproduksi 10 kilo jahe mentah paling jadinya 1 kilo karena pengeringannya pakai microwave. Produk non gula sendiri baru aku luncurkan tahun ini karena kebanyakan konsumen suka buat campuran kopi atau susu,” tutupnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.