Jateng

Wakil Rektor IV UPGRIS Ajak Peserta Didik Lebih Bijak Bermedsos: Generasi Z dan Alpha Rentan Terjebak Algoritma

Arixc Ardana | 15 Mei 2026, 15:49 WIB
Wakil Rektor IV UPGRIS Ajak Peserta Didik Lebih Bijak Bermedsos: Generasi Z dan Alpha Rentan Terjebak Algoritma

JATENG.AKURAT.CO, Perkembangan teknologi digital yang semakin pesat membawa banyak perubahan dalam kehidupan masyarakat, khususnya generasi muda.

Media sosial kini bukan hanya menjadi sarana komunikasi, tetapi juga ruang utama dalam mencari informasi, hiburan, hingga membentuk opini.

Namun di balik kemudahan tersebut, terdapat ancaman tersembunyi yang perlu diwaspadai, yakni jebakan algoritma digital yang mampu memantau dan memengaruhi perilaku manusia secara perlahan.

Hal itu menjadi perhatian utama dalam kegiatan Kelas Digital Sahabat Tunas yang digelar oleh Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia bersama Universitas PGRI Semarang pada 12 Mei 2026 di Gedung Pusat Lantai 7 UPGRIS.

Pernyataan itu disampaikan oleh Wakil Rektor IV UPGRIS, Prof. Dr. Nur Khoiri, S.Pd., M.T., M.Pd., dalam acara Kelas Digital Sahabat Tunas yang digelar oleh Komdigi dan menggaet Universitas PGRI Semarang. Acara dilaksanakan pada 12 Mei 2026 di Gedung Pusat Lantai 7.

Di hadapan para peserta didik tingkat SMA di kota Semarang, Nur Khoiri menekankan pentingnya pemahaman dan literasi atas perangkat digital. Menurutnya, melek teknologi dan memiliki literasi digital menjadi penting agar masyarakat mampu berpikir kritis terhadap informasi yang muncul di internet.

“Tanpa pemahaman yang baik, anak-anak muda bisa mudah terjebak penggiringan opini yang dilakukan secara halus melalui algoritma. Dengan literasi yang kuat, masyarakat dapat lebih sadar dalam menjaga data pribadi, memilih informasi yang terpercaya, serta menggunakan teknologi secara bijak.”

Nur Khoiri juga menekankan adanya perbedaan persepsi dari generasi lama dan gen Z dan gen alpha. “Situasi dan kondisinya berbeda. Medsoso bisa menjadi ancaman terhadap kesatuan dan disintegrasi serta lost generation. Jadi harus dimanfaatkan dengan baik. Medsos seperti mata pisau. Untuk itulah literasi menjadi sangat penting.”

Pada kesempatan yang sama, Yudi Syahrial, Ketua Tim Kelembagaan Komunikasi Strategis Ditjen Komunikasi Publik dan Media Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi), dalam sambutannay mengingatkan banyaknya jumlah pengguna internet dari kalangan anak-anak.

“Pengguna internet tahun 2025 sekitar 80 persen, 220 juta sudah menggunakan internet. 80 persennya anak-anak. Nah masalahnya ialah sering terjadi cyber bullying terhadap anak-anak dengan komentar jahat, body shaming, dsb.”

Untuk itulah, Yudi Syahrial menekankan, kelas-kelas digital ini sangat penting bagi anak-anak. Edukasi secara nyata dan komunikatif diperlukan agar anak-anak mampu memahami pentingnya memanfaatkan media sosial dengan bijak.

Dalam acara tersebut hadir pula Muhamad Ahsan (Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang), Dr Lintang Ratri Ramhiaji (Pandu Literasi Digital Semarang), Kanti Nuarisha (Psikolog Anak dan Keluarga), serta Mikail Ziva (Duta Generasi Berencana Kota Semarang 2025).

Melalui kegiatan tersebut, para peserta diajak memahami pentingnya menjaga keamanan data pribadi, mengenali potensi manipulasi algoritma, menghindari penyebaran hoaks, hingga membangun budaya bermedia sosial yang lebih sehat dan positif.

Di tengah perkembangan teknologi yang terus bergerak cepat, literasi digital kini bukan lagi sekadar kemampuan tambahan, tetapi telah menjadi kebutuhan utama agar masyarakat, khususnya generasi muda, mampu bertahan dan tetap kritis dalam menghadapi arus informasi yang semakin kompleks di dunia digital.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.