Jateng

Dari Limbah Jadi Harapan: Granubis, Inovasi Mahasiswa Undip untuk Menghidupkan Kembali Lahan Pascabanjir Semarang

Muhammad Husni Mushonifi | 28 April 2026, 21:55 WIB
Dari Limbah Jadi Harapan: Granubis, Inovasi Mahasiswa Undip untuk Menghidupkan Kembali Lahan Pascabanjir Semarang

JATENG.AKURAT.CO, Di tengah persoalan banjir yang terus menghantui Kota Semarang, lima mahasiswa muda dari Program Studi Teknologi Rekayasa Kimia Industri Fakultas Sekolah Vokasi Universitas Diponegoro memilih untuk tidak sekadar mengeluh.

Mereka turun tangan, meneliti, bereksperimen di laboratorium, hingga akhirnya melahirkan sebuah inovasi bernama Granubis, solusi untuk menghidupkan kembali lahan pascabanjir. Granubis sensiri diambil dari Singkatan Granular dan Biosilika.

Kerja keras itu berbuah manis. Tim mahasiswa Undip ini berhasil meraih Juara II Krenova dan Rise Award 2026 yang digelar Pemerintah Kota Semarang, Selasa (28/4/2026).

Tim tersebut terdiri dari Luis Ibanez Sitinjak sebagai ketua, bersama Mayada Jannati, Kholis Na’imah, Al Fariza, dan Marisha Yosepa Br Siburian, dengan bimbingan Dr. Ir. Fahmi Arifan ST, M.Eng, MM, IPM ASEAN Eng, dosen Prodi Teknologi Rekayasa Kimia Industri Fakultas Sekolah Vokasi Universitas Diponegoro.

Bagi Luis, kemenangan itu bukan sekadar trofi, melainkan pengakuan atas proses panjang yang mereka jalani.

“Jadi kami mengikuti lomba ini dengan mengusung judul Granubis, sebuah solusi inovatif untuk lahan pasca banjir di Semarang,” ujar Luis.

Ide itu lahir dari kegelisahan sederhana. Mereka melihat banyak lahan di Semarang yang terdampak banjir menjadi kurang produktif. Tanaman sulit tumbuh optimal karena kualitas tanah menurun.

“Ketika kita menanam tanaman di lahan pasca banjir itu, banyak tanaman yang kurang efektif. Maka dari itu kami menemukan solusi dengan memanfaatkan biomasa lokal atau sampah organik lokal di Semarang,” katanya.

Berangkat dari persoalan itu, mereka mengolah bahan-bahan yang selama ini kerap dipandang sebelah mata, tempurung kelapa, jerami padi, dan limbah sawit.

Tempurung kelapa dan jerami diolah menjadi biokar dan biosilika, sementara biomasa sawit dimanfaatkan sebagai sumber nutrisi organik.

Semua bahan itu diracik dengan formulasi khusus berdasarkan studi literatur dan penelitian di laboratorium hingga menjadi produk yang mereka namai Granubis.

Yang menarik, hampir seluruh bahan baku diambil dari Kota Semarang.

Luis menceritakan, timnya bahkan menemukan limbah sawit dari area Candi Golf, tempat pohon sawit ditanam sebagai tanaman hias.

“Semua bahan baku kami ambil dari Semarang. Sawit itu pun ternyata dari Semarang, karena di daerah Candi Golf ada yang menanam sawit menjadi tanaman hias. Jadi kami mengambil sampah sawit itu dari situ,” ungkapnya.

Meski kini menuai prestasi, perjalanan mereka tidak mudah. Persiapan lomba hanya dilakukan dalam waktu sekitar satu bulan. Dalam waktu singkat itu, mereka harus melakukan studi literatur, survei lapangan, mencari bahan baku, hingga berkutat di laboratorium untuk menemukan formula yang tepat.

Malam-malam panjang di laboratorium menjadi saksi bagaimana ide sederhana perlahan berubah menjadi produk nyata.

“Persiapan lomba itu kurang lebih satu bulan. Setelah mengetahui lomba ini kami mulai mengamati inovasi apa yang bisa kami lakukan,” kata Luis.

Banjir Semarang menjadi sorotan utama yang menggerakkan mereka.

Bukan hanya tentang air yang menggenang, tetapi juga tentang tanah yang kehilangan kesuburannya, petani yang kesulitan bercocok tanam, dan ancaman terhadap ketahanan pangan.

Melihat potensi itu, Luis berharap Granubis tidak berhenti sebagai karya lomba.

“Untuk penerapannya sendiri mungkin perlu bantuan pemerintah. Kami mengetahui juga kalau di Krenova ini kita mendapat fasilitas inkubasi. Terutama bagi tiga besar nanti akan diinkubasi lagi oleh Pemerintah Kota Semarang,” ujarnya penuh harap.

Di balik semangat para mahasiswa itu, ada sosok dosen pembimbing yang terus mendampingi, Dr. Fahmi Arifan.

Ia mengaku bangga karena anak didiknya mampu berprestasi di tengah waktu persiapan yang singkat.

“Alhamdulillah ikut senang karena persiapannya cukup singkat. Lomba Krenova ini diadakan setiap tahun oleh Pemkot Semarang. Makanya kita mengambil tema tentang ketahanan pangan,” katanya.

Menurut Fahmi, Granubis adalah terobosan pupuk organik berbasis limbah biomasa yang sangat relevan dengan kondisi Indonesia, khususnya di tengah isu pertanian berkelanjutan.

Ia menilai produk ini punya peluang besar untuk diterapkan langsung di masyarakat.

“Nantinya Granubis ini bisa diimplementasikan ke petani-petani, baik di perkebunan maupun di lahan pertanian seperti padi, jagung, dan beberapa tanaman lainnya,” jelasnya.

Fahmi juga menyoroti perjuangan mahasiswanya selama penelitian. Mereka harus berkali-kali mencoba formula berbeda untuk mendapatkan hasil terbaik.

“Suka dukanya memang mereka butuh waktu untuk di laboratorium. Mereka harus mencoba-coba formula yang pas,” katanya.

Baginya, kemenangan ini hanyalah awal.

Dengan adanya program inkubasi dari Pemkot Semarang, ia berharap Granubis bisa berkembang dari sekadar prototype menjadi produk yang benar-benar hadir di tangan petani.

Dari tumpukan limbah yang tak terpakai, lima mahasiswa ini berhasil menciptakan secercah harapan.

Granubis bukan hanya soal pupuk organik. Ia adalah simbol bahwa di tangan generasi muda, masalah bisa diubah menjadi peluang, limbah bisa disulap menjadi solusi, dan lahan yang pernah lumpuh karena banjir bisa kembali hidup.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.