Jateng

Bangunan Bersejarah di Yogyakarta: Mengungkap Keberadaan dan Sejarah Misterius di Situs Candi Genjahan, Gunungkidul

Theo Adi Pratama | 27 Januari 2024, 15:00 WIB
Bangunan Bersejarah di Yogyakarta: Mengungkap Keberadaan dan Sejarah Misterius di Situs Candi Genjahan, Gunungkidul

AKURAT.CO Sejarah, Situs Candi Genjahan, sebuah lokasi yang tersembunyi di lereng Gunungkidul, menjadi saksi bisu dari masa lalu yang kaya sejarah.

Reruntuhan batu candi dan Yoni yang ditemukan di tempat ini telah memberikan petunjuk tentang pengaruh Hindu di daerah tersebut, meski banyak misteri dan pertanyaan yang belum terjawab.

Baca Juga: Sejarah dan Perjalanan Sebuah Kesenian: Angklung, Memahami Keajaiban Alat Musik Tradisional Indonesia

Pencarian Awal dan Pengenalan Situs

Sejarah Situs Candi Genjahan mulai terungkap pada tahun 1986 saat Kator Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala DIY mengadakan Sosialisasi Kepurbakalaan di Kecamatan Ponjong, Gunungkidul.

Temuan reruntuhan batu candi dan Yoni di padukuhan Susukan 2, Desa Genjahan, menjadi sorotan arkeolog dan peminat sejarah.

Eksplorasi dan Inventarisasi

Pada tahun 1987, Kecamatan Ponjong menjadi fokus kegiatan Inventarisasi Kepurbakalaan.

Situs Candi Genjahan mendapat perhatian khusus, dan pembersihan lokasi dilakukan untuk menginventarisasi semua temuan purbakala.

Yoni diberi nomor inventaris D140, sedangkan reruntuhan batu candi mendapatkan nomor inventaris D141.

Lebih jauh, ditemukan pula batu candi berukuran 28 cm x 28 cm x 11 cm, mendapat nomor inventaris D142.

Baca Juga: Hari Ini Dalam Sejarah: Ulang Tahun ke-74 Garuda Indonesia, Perjalanan Panjang Burung Garuda di Udara

Pemberian Arti dan Kepercayaan Lokal

Masyarakat Padukuhan Susukan 2 menganggap lokasi tempat ditemukannya batu candi D142 sebagai Pundung, tempat petilasan pelarian dari Majapahit.

Meskipun arti pasti istilah "Pundung" tidak diketahui, kepercayaan lokal ini menjadi bagian dari warisan budaya dan mitos yang dilestarikan oleh masyarakat setempat.

Kondisi Situs Saat Ini

Sayangnya, kondisi reruntuhan batu candi dan Yoni D140 di Situs Candi Genjahan saat ini menunjukkan bahwa area tersebut digunakan untuk kegiatan pertanian.

Seorang perangkat desa di Desa Genjahan, Bapak Retanto Edi Wibowo, bertanggung jawab atas lahan tersebut.

Meskipun menjadi lahan terbuka yang subur, pelestarian dan perlindungan terhadap benda-benda cagar budaya di situs ini menjadi kebutuhan mendesak.

Baca Juga: Hari Ini Dalam Sejarah: Hari Bhakti Imigrasi, Menghormati Pengabdian Para Petugas Imigrasi di Indonesia

Keberlanjutan Penelitian dan Pelestarian

Meskipun belum ada kegiatan penelitian lebih lanjut atau ekskavasi di Situs Candi Genjahan, penting untuk melanjutkan penelitian dan pelestarian.

Temuan-temuan ini adalah peninggalan berharga dari masa Klasik, di mana benda-benda cagar budaya pada periode ini sangatlah langka.

Dengan keberlanjutan penelitian, mungkin akan terungkap lebih banyak misteri dan cerita dari masa lalu Gunungkidul.

Situs Candi Genjahan bukan hanya sekadar reruntuhan batu candi dan Yoni; ini adalah pintu gerbang menuju pengetahuan lebih dalam tentang sejarah Gunungkidul.

Keberadaan dan pelestarian situs ini menjadi tanggung jawab bersama untuk memastikan bahwa warisan berharga ini dapat diteruskan kepada generasi mendatang.

Dengan mengungkap lebih banyak misteri di sekitar Situs Candi Genjahan, kita dapat memahami dan menghargai akar budaya yang melandasi wilayah ini.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.