Jateng

Sejarah Perjalanan Seni Gaok: Kesenian Tradisional yang Mencerahkan Kabupaten Majalengka

Theo Adi Pratama | 25 Januari 2024, 16:00 WIB
Sejarah Perjalanan Seni Gaok: Kesenian Tradisional yang Mencerahkan Kabupaten Majalengka

AKURAT.CO Sejarah, Gaok, sebuah kesenian tradisional di Kabupaten Majalengka, khususnya di Desa Kulur dan Burujul, memegang erat unsur budaya Islam dalam setiap pementasannya.

Perjalanan seni ini dimulai melalui Kabupaten Cirebon, ketika ajaran agama Islam diperkenalkan oleh Pangeran Muhamad dari Cirebon.

Baca Juga: Film Indonesia: Glenn Fredly The Movie, Menyelami Kehidupan Sang Legenda Musik Indonesia

Asal Mula dan Unsur Budaya Islam dalam Gaok

Gaok menonjolkan unsur vokal atau tembang, menjadi ciri khas utama.

Pertunjukan ini umumnya mengisahkan cerita dari kesusastraan Jawa, terutama wawacan, dan sering kali dipentaskan pada acara syukuran 40 hari kelahiran bayi.

Meskipun berkembang sejak masa lampau, Gaok kini mengalami kemunduran.

Pada awalnya, istilah "gaok" berasal dari kesenian Beluk di daerah Majalengka.

Masyarakat pada masa itu, yang banyak berkecimpung dalam pertanian, secara tidak sengaja menciptakan keindahan suara saat berkomunikasi dari satu huma ke huma lainnya di hutan belantara.

Beluk kemudian dianggap sebagai seni suara atau vokal yang hanya dilakukan oleh laki-laki dengan menggunakan wawacan pada selamatan bayi.

Baca Juga: Bangunan Bersejarah di Yogyakarta: Pesanggrahan Ambarbinangun, Ruang Sejarah yang Hidup di Bawah Bayang Sultan Hamengkubuwono VI

Perkembangan dan Pengaruh Wawacan dalam Gaok

Secara historis, Gaok muncul setelah pengaruh Wawacan dari kesusastraan Jawa masuk ke wilayah Sunda.

Pengaruh ini membawa ajaran Islam ke daerah Majalengka, khususnya setelah Pangeran Muhammad membawa agama Islam dari Cirebon pada abad ke-17.

Wawacan, yang awalnya mencerminkan ajaran Islam, kemudian diolah menjadi variasi lagu dalam pertunjukan Gaok.

Engkos Wangsadihardja mengungkapkan bahwa kehadiran Kesenian Gaok di Desa Kulur Kecamatan Majalengka dapat ditelusuri sejak datangnya pengaruh agama Islam ke daerah tersebut.

Seni Gaok menjadi media penyebaran ajaran Islam dengan memanfaatkan naskah Wawacan yang mengandung nilai-nilai keagamaan.

Baca Juga: Peninggalan Bangunan Sejarah Yogyakarta: Kotagede, Jejak Bersejarah Mataram Islam di Bawah Naungan Masjid Makam

Pelaksanaan dan Unsur Budaya dalam Gaok

Gaok merupakan seni tradisional yang menggabungkan unsur budaya Islam dengan tradisi Sunda.

Pertunjukan Gaok selalu diawali dengan bacaan Basmalah, dan bahasa yang digunakan adalah bahasa Sunda.

Gaya penyampaian seringkali menyerupai adzan, menambah kesan religius dalam kesenian ini.

Kata "gaok" sendiri berasal dari "ngagorowok," yang artinya 'berteriak.'

Para pemain Gaok melantunkan pupuh seperti Kinanti, Sinom, Asmarandana, dan Dangdanggula dengan suara keras, menyerupai cara mengumandangkan adzan.

Para pemain mengenakan pakaian khas Sunda, seperti baju kampret dan ikat kepala.

Peran dan Pengaruh Islam dalam Gaok

Gaok menjadi simbiosis antara nilai budaya etnis Sunda Buhun dengan nuansa Islam yang dibawa dari Cirebon.

Dalam pertunjukan Gaok, selalu terdapat upacara persembahan sesajen kepada leluhur sebelum memulai pertunjukan.

Naskah wawacan yang digunakan mencakup Wawacan Manakab, Ahmad Muhammad, Samawi, Sulanjana, Sejarah Ambiya, Babad Talaga Manggung, dan Babad Majalengka.

Baca Juga: Peninggalan Bangunan Bersejarah Yogyakarta: Kompleks Pantja Dharma UGM, Melangkah Sejarah Pendidikan dan Konferensi Internasional

Perlengkapan dan Pemain dalam Gaok

Perlengkapan dalam pertunjukan Gaok melibatkan naskah wawacan, sesajen, dan waditra pengiring.

Para pemain Gaok terdiri dari tukang meuli, tukang naekkeun, dan juru mamaos.

Waktu penyajiannya memakan waktu semalam suntuk, dimulai pukul 20.00 hingga 04.00.

Gaok memiliki aturan-aturan tertentu, seperti larangan berbicara, merokok, dan makan selama pertunjukan.

Para penonton diharapkan mendengarkan dengan saksama jalan cerita dalam wawacan. Sesajen yang disajikan harus lengkap, mencakup makanan kesukaan leluhur.

Peninggalan Budaya yang Perlu Diapresiasi

Kesenian Gaok di Desa Kulur Kecamatan Majalengka, Majalengka, Jawa Barat, merupakan warisan budaya yang mencerminkan keragaman dan kekayaan tradisi Indonesia.

Melalui perpaduan antara nilai budaya Sunda Buhun dan Islam, Gaok tidak hanya menjadi hiburan tetapi juga sarana penyampaian nilai-nilai keagamaan.

Penting untuk terus mendukung dan melestarikan kesenian tradisional seperti Gaok agar dapat diapresiasi oleh generasi mendatang.***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.