Jateng

Lawu Terbakar 100 Hektar, Sebangau Menyala: Peta Karhutla 18 Oktober 2026 yang Bikin Gelisah

Theo Adi Pratama | 18 Oktober 2026, 09:27 WIB
Lawu Terbakar 100 Hektar, Sebangau Menyala: Peta Karhutla 18 Oktober 2026 yang Bikin Gelisah
Foto Ilustrasi

JATENG.AKURAT.CO, Kalau kamu tinggal di Jawa Tengah dan sempat melihat langit gelap di arah timur beberapa hari terakhir, itu bukan awan mendung. Itu asap. Lereng Gunung Lawu di Kabupaten Karanganyar masih menyala sampai hari ini, dan api sudah merambah sekitar 100 hektar lahan lindung.

Sementara di ujung lain Indonesia, Taman Nasional Sebangau di Kalimantan Tengah berjuang menyelamatkan habitat orangutan dari kobaran api yang sulit dijangkau.

Per 18 Oktober 2026, karhutla di Indonesia bukan lagi cerita satu-dua titik. Ini adalah krisis yang menyebar dari Sumatra, Kalimantan, Papua, sampai merembet ke Sulawesi dan Jawa. Dan di tengah semua ini, BNPB baru saja punya kepala baru yang langsung diminta turun ke lapangan.

Baca Juga: BMKG Peringatkan Kekeringan Level Awas: 10 Tips Hemat Air yang Bisa Kamu Mulai Malam Ini

Lawu: Api di Lereng yang Bikin Tim Gabungan Ngeluh

Kebakaran di Gunung Lawu sudah masuk kategori serius. Kalakhar BPBD Karanganyar, Sugiharjo, bilang titik api bertambah dari empat menjadi lima, dan pemantauan drone thermal mendeteksi sekitar 11 titik panas pada Sabtu (17/10). Estimasi luas lahan yang terbakar sekitar 100 hektare.

Yang bikin repot, medannya bukan main. Lerengnya sangat terjal, dan tidak ada pasokan air di titik api. “Kendala utama karena lokasinya di lereng-lereng, untuk mencapainya perlu kehati-hatian dan hanya bisa manual membuat sekatan serta gebyokan karena air tidak bisa naik,” kata Sugiharjo.

Sebanyak 304 personel gabungan dari TNI, Polri, BPBD, Basarnas, Perhutani, dan relawan Solo Raya sudah dikerahkan. Sekitar 190 orang di antaranya naik langsung ke lereng untuk pemadaman manual. Opsi water bombing masih dikaji karena pemerintah daerah sudah berkoordinasi dengan pemerintah pusat.

Sugiharjo memastikan penyebabnya bukan pembakaran sampah warga. Api cepat meluas karena serasah atau tumpukan daun kering yang sangat rapuh akibat cuaca kemarau terik. Seluruh jalur pendakian ke puncak Lawu masih ditutup total.

Sebangau: Ketika Api Mengancam Rumah Orangutan

Di Kalimantan Tengah, Taman Nasional Sebangau jadi titik paling bikin hati perih. Kawasan ini bukan cuma hutan biasa. Ini habitat asli orangutan. Dan api sudah memasuki kawasan taman nasional.

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Palangka Raya, Heri Fauzi, bilang tim gabungan kesulitan karena titik api jauh dari jalan dan tidak ada akses masuk. Jarak pandang akibat kabut asap juga membuat helikopter water bombing tidak bisa terbang.

Dampaknya sudah terasa ke satwa. Sebanyak 47 orangutan di pusat rehabilitasi Yayasan Borneo Orangutan Survival (BOS) Nyaru Menteng mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat paparan kabut asap. Tim medis memberikan terapi nebulizer untuk membantu pernapasan mereka.

Pada 15 Oktober, Kementerian Kehutanan mencatat Kalimantan Tengah sebagai provinsi dengan titik panas terbanyak: 389 titik. Angka ini bagian dari 799 titik panas nasional yang terdeteksi pada hari itu, naik dari 372 titik sehari sebelumnya.

Sumatra: Riau Nihil Titik Api, Tapi Asapnya Tetap Ada

Riau sebenarnya sudah lumayan terkendali. Per 17 Oktober pukul 16.00 WIB, BMKG Stasiun Pekanbaru melaporkan titik panas di Riau terdeteksi nihil. Tapi jangan salah, kabut asap pekat masih menyelimuti sejumlah wilayah. BNPB sebelumnya menjelaskan bahwa asap di Riau masih terganggu karena kiriman dari Sumatera Selatan dan Jambi.

Sepanjang 2026, lahan terbakar di Riau sudah mencapai 20.690 hektare, tersebar di 12 kabupaten dan kota. Yang paling luas adalah Bengkalis dengan 8.573 hektare, disusul Pelalawan 6.710 hektare.

Di Jambi, Satgas Karhutla masih berjibaku. Satu helikopter MI-17 dari TNI-AD diterjunkan untuk membantu pemadaman di Taman Nasional Berbak dan Tahura Orang Kayo Hitam. “Hari ini, MI-17 yang dikirim dari Semarang sudah sampai di sini dan rencana besok pagi kita operasionalkan,” kata Plh Satgas Karhutla Jambi Brigjen TNI Nyamin, Sabtu (17/10).

Satgas mengerahkan 148 personel gabungan, dengan kendala akses menuju lokasi kebakaran yang sulit dijangkau. Water bombing jadi andalan, meski untuk lahan gambut, air dari udara biasanya hanya membasahi permukaan, sementara bara di bawah tetap menyala. Total lahan terbakar di Jambi sejak 1 Januari hingga 16 Oktober 2026 tercatat 4.363,86 hektare.

Sumatera Selatan masih jadi penyumbang titik panas tertinggi. Pada 17 Oktober, BMKG mencatat Sumatra Selatan mendominasi dengan 2.558 titik panas. Di Banyuasin, kebakaran di Desa Karang Anyar sudah memasuki hari ke-47, sementara di OKI, kebakaran di Desa Sungai Bungin memasuki hari ke-38.

BNPB bahkan menguji coba dry ice untuk modifikasi cuaca di Sumsel. Metode ini bertujuan mengubah kondisi atmosfer agar asap yang terperangkap lapisan inversi bisa bergerak naik dan menyebar. Uji coba berlangsung hingga 18 Oktober 2026.

Papua: 6.702 Titik Panas dan Bandara yang Terganggu

Kalau kamu pikir Papua aman, coba lihat angka ini: 6.702 titik panas terpantau di Papua Selatan hingga 11 Oktober 2026. Titik-titik itu tersebar di perbatasan Indonesia dan Papua Niugini, khususnya di Boven Digoel, Mappi, dan Merauke.

Di Merauke, karhutla meluas ke 10 distrik dengan luas terbakar sekitar 63 hektare di sembilan lokasi. Kebakaran terbesar ada di Desa Bumun, Distrik Eli Kobel, sekitar 20 hektare.

Dampaknya bukan cuma asap. Kementerian Perhubungan memantau dampak karhutla terhadap operasional 16 bandara di Papua.

Sebanyak 2.021 penerbangan berjadwal dalam negeri terdampak karhutla sejak 11 Agustus 2026. Kabut asap dari Merauke bahkan dilaporkan terbawa angin hingga ke Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara.

yang Baru, Masalah yang Sama

Di tengah situasi yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda, Presiden Prabowo Subianto melantik Letjen TNI Kristomei Sianturi sebagai Kepala BNPB baru pada Kamis (15/10), menggantikan Letjen TNI Suharyanto.

Anggota Komisi VIII DPR RI, Matindas J Rumambi, langsung memberi tugas berat. “Kami meminta Kepala BNPB baru untuk langsung turun ke lapangan, memastikan operasi satgas darat maupun udara,” katanya, Sabtu (17/10).

Matindas juga menyoroti bahwa dampak karhutla sudah memicu krisis kesehatan akibat kabut asap, mengganggu aktivitas ekonomi, dan bahkan memicu keluhan lintas negara.

Ia menyinggung pentingnya pembenahan tata kelola internal BNPB, terutama karena ada kasus korupsi yang tengah ditangani KPK.

Kerugian yang Tidak Kecil

Data yang dihimpun hingga 17 Oktober menyebutkan karhutla sudah meluas ke 26 provinsi dengan jumlah titik panas nasional melampaui 20.000 titik. Kerugian ekonomi ditaksir mencapai Rp29,54 triliun.

Angka itu belum termasuk biaya kesehatan jangka panjang akibat paparan asap, kerusakan ekosistem gambut, dan hilangnya keanekaragaman hayati.

Di Sebangau, 47 orangutan yang sedang dirawat adalah pengingat bahwa dampak karhutla tidak berhenti pada manusia.

Jadi, Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Karhutla bukan bencana yang datang tiba-tiba seperti gempa atau tsunami. Sebagian besar dipicu oleh manusia, baik sengaja maupun tidak.

Cuaca kemarau ekstrem memperparah, tapi akar masalahnya sering kali adalah kelalaian dan pembukaan lahan yang tidak bertanggung jawab.

Kalau kamu tinggal di wilayah terdampak asap, batasi aktivitas luar ruangan, pakai masker, dan jaga kesehatan kelompok rentan di sekitarmu.

Kalau kamu punya lahan, jangan pernah membakar untuk membersihkan. Dan kalau kamu melihat titik api kecil, laporkan. Api sekecil apa pun bisa jadi Lawu berikutnya.

Sampai hari ini, 18 Oktober 2026, api belum padam di banyak tempat. Tim gabungan masih di lapangan. Dan BNPB yang baru punya PR besar yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan rapat koordinasi.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.