Jateng

Fakta Unik Intimate Wedding: Gaya Nikah Gen Z yang Bikin Orang Tua Geleng-Geleng Kepala

Theo Adi Pratama | 23 Juni 2026, 19:30 WIB
Fakta Unik Intimate Wedding: Gaya Nikah Gen Z yang Bikin Orang Tua Geleng-Geleng Kepala
foto ilustrasi Intimate Wedding (generated by copilot AI)

JATENG.AKURAT.CO, Pernikahan impian bagi generasi muda saat ini tak lagi diukur dari jumlah undangan yang membludak atau kemewahan gedung resepsi.

Sebuah pergeseran fundamental sedang terjadi di tengah masyarakat Indonesia, di mana konsep intimate wedding—pernikahan dengan tamu terbatas dan suasana hangat—kini menjadi primadona di kalangan milenial dan Gen Z.

Berdasarkan riset Jakpat bertajuk Dream Wedding Among Youth Nowadays terhadap lebih dari 1.000 responden berusia 16 hingga 39 tahun, sebanyak 41 persen memilih konsep pernikahan intim yang hanya dihadiri keluarga inti dan orang-orang terdekat.

Angka ini kontras dengan hanya 19 persen responden yang masih menginginkan pernikahan tradisional dan mewah.

Tren pernikahan kecil ini bukan sekadar gaya hidup semata, melainkan cerminan kesadaran finansial generasi muda yang semakin cermat dalam mengelola keuangan, terutama untuk membiayai pesta pernikahan dengan uang sendiri.

Namun di balik popularitasnya, konsep intimate wedding justru memicu perdebatan panas antara anak dan orang tua.

Banyak orang tua menganggap pesta besar sebagai bentuk penghormatan terhadap tamu dan simbol kebanggaan keluarga, sementara generasi muda melihat pernikahan intim sebagai cara untuk menciptakan momen yang lebih personal dan bermakna.

Konflik nilai inilah yang menjadikan intimate wedding sebagai fenomena sosial yang menarik untuk dikupas lebih dalam.

Baca Juga: 5 Alasan Orang Tua Menolak Intimate Wedding: Bukan Sekadar Soal Gengsi!

Mengapa Gen Z dan Milenial Berbondong-bondong Memilih Intimate Wedding?

Faktor Finansial: Nikah Hemat, Masa Depan Terjamin

Alasan paling mendasar di balik tren pernikahan intim adalah faktor ekonomi.

Riset Jakpat mengungkapkan bahwa setelah pandemi COVID-19 terjadi peningkatan kesadaran finansial pada generasi milenial dan Gen Z.

Mereka semakin cermat dalam mengelola keuangan dan tidak keberatan melewatkan beberapa bagian dari rangkaian pesta pernikahan tradisional yang besar dan mewah demi menyesuaikan dengan anggaran yang tersedia.

Bahkan, 83 persen dari milenial dan Gen Z telah membuat tabungan khusus untuk pernikahan mereka.

Manager Tiara Wedding Organizer, Arief Kurniawan, menyebut intimate wedding bisa diwujudkan dengan anggaran di bawah Rp200 juta, tergantung konsep dan kebutuhan masing-masing pasangan.

Bagi generasi muda, menghabiskan ratusan juta rupiah untuk pesta sehari semalam dinilai kurang efisien.

Mereka lebih memilih mengalokasikan dana tersebut untuk kebutuhan jangka panjang seperti membeli rumah, membuka bisnis, atau berlibur ke luar negeri.

Konsep "budget minimal, estetik maksimal" kini dianggap lebih realistis sekaligus lebih dekat dengan gaya hidup anak muda masa sekarang.

Makna yang Lebih Mendalam: Kehangatan vs Kemewahan

Selain soal uang, pernikahan intim menawarkan pengalaman emosional yang berbeda.

Bagi Gen Z dan milenial, pernikahan sederhana dengan tamu terbatas justru memberikan makna dan kehangatan yang lebih mendalam dibanding pesta besar penuh kemewahan.

Fokusnya bukan lagi seberapa ramai undangan, melainkan siapa saja yang benar-benar hadir di momen sakral itu.

Konsep intimate wedding memberikan kesempatan bagi pengantin untuk menikmati acara secara utuh.

Tidak hanya berdiri di pelaminan dan bersalaman dengan tamu, mereka bisa berbincang santai, tertawa, bahkan makan bersama keluarga dan sahabat dekat.

Suasana yang lebih tenang dan akrab membuat momen tersebut terasa lebih pribadi dan berkesan.

Seperti yang diungkapkan Arief Kurniawan, "Generasi sekarang ingin punya gaya sendiri.

Mereka ingin acara yang dihadiri orang-orang terdekat, yang benar-benar mereka sayangi. Bukan soal banyaknya tamu, tapi kedekatan".

Personalisasi: Pernikahan sebagai Cerminan Diri

Gen Z dikenal sebagai generasi yang mengutamakan keaslian dan personalisasi.

Mereka ingin pernikahan yang memperlihatkan karakter, hobi, maupun kepribadian mereka sebagai pasangan.

Head of Content Bridestory, Noel Monique Renzita, menjelaskan bahwa Gen Z menyukai sesuatu yang personalize—apa pun yang menunjukkan karakter mereka, entah dari foto prewedding atau konsep acara yang tidak template dan monoton.

Pergeseran ini turut diperkuat oleh pengaruh media sosial dan para publik figur yang lebih dulu menerapkan konsep serupa.

Banyak selebritas muda memilih pernikahan kecil dengan atmosfer hangat, yang kemudian menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya.

Mengapa Orang Tua Sering Tidak Setuju dengan Intimate Wedding?

Pesta Besar sebagai Simbol Kebanggaan dan Penghormatan

Di sisi lain, banyak orang tua masih memegang teguh pandangan tradisional bahwa pernikahan adalah peristiwa sosial yang melibatkan keluarga besar dan masyarakat sekitar.

Dalam tradisi Nusantara, prosesi adat seperti siraman, sungkeman, hingga resepsi besar memiliki fungsi simbolik: mempererat hubungan antargenerasi dan menegaskan identitas budaya keluarga.

Beberapa orang tua menganggap pesta besar sebagai bentuk penghormatan terhadap tamu sekaligus simbol kebanggaan keluarga.

Ketika konsep intimate wedding dipilih, sering kali muncul perdebatan antara generasi muda dan orang tua tentang makna "pantas" dalam sebuah pernikahan.

Ada anggapan bahwa pernikahan tanpa perayaan besar tidak sesuai dengan nilai sosial yang telah diwariskan turun-temurun.

Ketakutan akan Pudarnya Tradisi

Kekhawatiran lain yang muncul adalah bahwa tren intimate wedding dapat menggeser nilai budaya tradisional.

Karena pernikahan bukan hanya tentang pasangan, tetapi juga tentang menyatukan dua komunitas sosial.

Dalam budaya yang sangat menjunjung tinggi gotong royong dan kebersamaan, membatasi undangan hanya pada keluarga inti dan sahabat terdekat sering dianggap sebagai bentuk pengucilan terhadap kerabat jauh dan tetangga.

Namun, sosiolog Universitas Indonesia, Devie Rahmawati, menilai bahwa tren ini bukan bentuk penolakan terhadap budaya, melainkan penyesuaian terhadap zaman.

Dr Sumarlin Rengko dari Universitas Hasanuddin juga menegaskan bahwa intimate wedding bukanlah ancaman bagi budaya, melainkan bentuk adaptasi budaya yang dinamis.

"Budaya itu solusi untuk bertahan hidup. Selama adat dihormati dan hakikat pernikahan dijaga, formatnya bisa fleksibel," ujarnya.

Menjembatani Dua Dunia: Kompromi Antara Keinginan Anak dan Ekspektasi Orang Tua

Meskipun perbedaan pandangan ini terasa tajam, bukan berarti tidak ada jalan tengah.

Banyak pasangan muda yang berhasil menemukan kompromi dengan orang tua mereka.

Salah satu caranya adalah dengan tetap memasukkan unsur-unsur tradisi ke dalam konsep pernikahan intim.

Misalnya, akad atau pemberkatan dibuat intim dengan busana adat, sementara resepsi dikemas dalam gaya internasional, baik indoor maupun outdoor. Kombinasi ini ternyata banyak diminati.

Komunikasi terbuka juga menjadi kunci utama. Penting bagi calon pengantin untuk mengomunikasikan nilai-nilai yang terkandung dalam pernikahan intim, seperti kedekatan emosional dan kesempatan untuk berbagi momen spesial bersama orang-orang yang benar-benar berarti.

Setelah mendapat pemahaman yang cukup, banyak orang tua akhirnya menyadari bahwa kebahagiaan anak-anak mereka lebih penting daripada sekadar pandangan orang lain.

Menariknya, Head of Content Bridestory Noel Monique Renzita mengungkapkan bahwa tren intimate wedding kini semakin diterima oleh keluarga besar.

"Kalau dulu kan kayaknya intimate tuh kayak sesuatu yang nggak banget kawin kecil-kecilan gitu. Sekarang tuh sesuatu yang lumrah, sesuatu yang dimaklumi juga sama orang-orang tuanya, keluarganya," ujarnya.

Intimate Wedding: Tren atau Pergeseran Budaya yang Tak Terelakkan?

Fenomena intimate wedding di kalangan milenial dan Gen Z bukanlah sekadar tren sesaat.

Ini adalah cerminan pergeseran nilai yang lebih luas—dari "merayakan pernikahan secara besar-besaran" menjadi "memaknai pernikahan secara mendalam".

Bagi generasi muda, yang terpenting bukan seberapa meriah acaranya, tetapi seberapa tulus dan siap mereka menjalani kehidupan bersama setelahnya.

Data dari The Knot menunjukkan bahwa rata-rata anggota pesta pernikahan (bridal party) telah menyusut dari 10 orang pada 2019 menjadi 8 orang pada 2026.

Bagi Gen Z, pergeseran ini terutama tentang "melakukan sesuatu dengan cara mereka sendiri" dan menentang tradisi.

Tren ini juga terlihat secara global—di Italia, untuk pertama kalinya generasi Z mewakili 51 persen pasangan yang bertunangan, melampaui milenial.

Meski sederhana, intimate wedding tetap menonjol dari sisi estetika.

Dekorasi minimalis, pencahayaan lembut, dan lokasi yang natural membuat suasana terlihat elegan dan hangat.

Bagi Gen Z yang tumbuh di era digital, konsep ini juga tetap memenuhi standar visual untuk diabadikan di media sosial tanpa harus berlebihan.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.