Jateng

Sepatu Olahraga Jangan Asal Kalcer: Salah Beli Bikin Cedera, Bukan Bikin Sehat

Theo Adi Pratama | 18 Oktober 2026, 13:32 WIB
Sepatu Olahraga Jangan Asal Kalcer: Salah Beli Bikin Cedera, Bukan Bikin Sehat

JATENG.AKURAT.CO, Ada satu pemandangan yang makin sering aku lihat di car free day atau trek lari GBK akhir-akhir ini. Anak muda pakai sepatu running yang desainnya kece, warnanya nyala, dan harganya jelas nggak murah.

Tapi cara jalannya aneh. Kaki seperti dipaksa, langkahnya kaku, dan nggak jarang mereka berhenti di pinggir jalan sambil megang betis atau lutut. Ada yang salah di sini. Bukan niatnya, bukan semangatnya, tapi sepatunya.

Kita hidup di era ketika sepatu olahraga sudah jadi bagian dari gaya hidup. RRI mencatat bahwa tren lari 2026 benar-benar menjelma jadi sport lifestyle buat anak muda Indonesia, bukan cuma soal sehat, tapi juga soal komunitas, outfit, dan eksistensi di media sosial.

Brand lokal seperti Ortuseight, 910, dan Specs sampai dijuluki “ghoib” karena selalu habis setiap restock. Tapi di balik euforia itu, ada satu hal mendasar yang sering dilupakan: sepatu yang bagus belum tentu bagus buat kaki kamu.

1. Kenali Dulu Jenis Aktivitasmu

Ini kesalahan paling umum. Banyak orang beli sepatu lari karena lagi tren, padahal aktivitas utamanya cuma nge-gym atau jalan santai. Padahal, sepatu untuk lari, gym, dan olahraga lapangan punya karakter yang berbeda.

ZALORA menulis dengan jelas: sepatu untuk lari tentu memiliki karakter yang berbeda dengan sepatu gym atau olahraga lapangan. Sepatu lari dirancang untuk gerakan berulang ke depan, dengan bantalan yang menyerap benturan dan sol yang mendorong langkah.

Sepatu gym butuh stabilitas lateral untuk gerakan menyamping dan angkat beban. Sepatu futsal atau basket butuh daya cengkeram dan perlindungan pergelangan kaki.

Kalau kamu pemula yang baru mau mulai lari, atlet lari Isaac Dao Riwu punya saran yang sangat praktis. “Untuk pemula, sepatu kategori super trainer cocok banget karena punya range luas, dari easy days sampai harder session, bahkan sampai racing,” ujarnya, dikutip dari Kompas.com.

Super trainer adalah sepatu yang teknologinya berada di antara daily trainer dan racing shoes. Jadi kamu nggak perlu beli tiga pasang sepatu sekaligus di awal.

2. Ukuran Bukan Sekadar Angka: Setengah Sampai Satu Nomor Lebih Besar

Ini mungkin terdengar sepele, tapi dampaknya besar. Saat berlari atau berolahraga, kaki akan membengkak. Kalau kamu beli sepatu dengan ukuran persis seperti sepatu kerja atau sepatu kasual, jari kaki akan terhimpit, kuku bisa lecet, dan sirkulasi darah terganggu.

Cobalah untuk memilih ukuran 0,5–1 lebih besar untuk menghindari sempit saat lari. Penting sekali menyisakan ruang sekitar satu sentimeter antara ujung jempol dan ujung sepatu untuk mengantisipasi pembengkakan.

Tips tambahan: coba sepatu pada sore hari. Saat itulah ukuran kaki mencapai titik maksimal setelah beraktivitas seharian. Dan pakai kaus kaki lari saat mencoba, bukan kaus kaki tipis yang biasa kamu pakai kerja.

3. Kenali Bentuk Kaki: Neutral, Flat, atau High Arch

Ini bagian yang sering bikin orang malas, tapi justru paling penting. Setiap kaki punya bentuk lengkungan yang berbeda, dan sepatu yang salah bisa memicu cedera.

Dr. Aris Setiawan, Spesialis Kedokteran Olahraga, menjelaskan bahwa pelari dengan kaki rata memerlukan sepatu tipe stability untuk menjaga keseimbangan posisi kaki saat mendarat. Sementara itu, pemilik kaki dengan lengkungan tinggi biasanya lebih cocok dengan sepatu neutral yang bantalannya empuk.

Cara paling gampang mengenali bentuk kaki adalah dengan gait analysis, yang sekarang banyak tersedia di toko-toko sepatu olahraga atau klinik fisioterapi.

Kalau belum sempat, coba basahi telapak kaki dan injak kertas. Jejak yang terlihat penuh berarti kaki datar, jejak yang cuma bagian tumit dan ujung berarti lengkungan tinggi.

4. Jangan Langsung Beli Sepatu Pelat Karbon

Ini pesan tegas dari Triyaningsih, pelari nasional, yang dikutip dari Kompas.com. “Kalau masih pemula, jangan langsung pakai sepatu dengan pelat karbon karena bisa membuat otot dan tendon bekerja lebih berat dan berisiko cedera,” ujarnya.

Sepatu dengan pelat karbon memang dirancang untuk kecepatan. Tapi teknologi itu menuntut otot dan tendon yang sudah terlatih.

Kalau kamu baru mulai lari, sepatu dengan cushioning empuk dan stabilitas yang cukup justru lebih aman. “Beginner sebaiknya pilih sepatu yang stabil dan cushioning-nya empuk,” kata Triyaningsih.

5. Bantalan dan Sirkulasi Udara: Dua Hal yang Bikin Betah

Indonesia itu tropis. Kaki yang kepanasan di dalam sepatu bukan cuma nggak nyaman, tapi juga bikin cepat lelah dan rentan lecet. Media Indonesia menyebut bahwa material mesh berteknologi tinggi bikin kaki nggak mudah panas meskipun dipakai lari di iklim tropis.

Untuk bantalan, jangan cuma lihat tebal-tipisnya. Coba tekan midsole dengan jempol. Kalau terlalu keras, kurang nyaman untuk jarak jauh. Kalau terlalu lembek, kaki bisa “tenggelam” dan nggak dapat dorongan balik. Foam yang baik memberikan pantulan saat kaki menapak dan terasa ringan.

6. Jangan Terlena Harga Murah, Tapi Jangan Gengsi Sama Brand Lokal

Di tengah tren sepatu lokal yang makin naik kelas, sebenarnya nggak ada alasan buat gengsi. Ortuseight Hyperblast, misalnya, dikenal sebagai “raja kenyamanan harian” dengan bantalan empuk yang cocok buat pelari pemula dan pemilik berat badan berlebih. Harganya sekitar Rp675 ribu. Ada juga UNERD Performance Sombra yang cuma Rp348 ribu tapi durabilitasnya mengejutkan untuk kelas entry-level.

Yang penting, beli di toko resmi. Dilansir dari Pikiran-Rakyat.com membeli di toko resmi agar terhindar dari produk palsu. Sepatu palsu bukan cuma nggak nyaman, tapi juga nggak melindungi kaki dengan benar.

7. Rawat Biar Awet: Jangan Cuci Pakai Mesin, Jangan Jemur di Bawah Matahari

Sepatu olahraga yang bagus itu investasi. Sayangnya, banyak orang merusaknya sendiri dengan cara mencuci yang salah.

RRI merangkum tips perawatan yang bisa langsung kamu praktikkan:

  • Bersihkan rutin, tapi jangan terlalu keras. Pakai kain lembap atau sikat berbulu lembut. Jangan digosok dengan sikat kawat atau sabun keras.

  • Hindari mesin cuci dan pengering. Putaran mesin bisa merusak struktur midsole dan lem pada sepatu.

  • Jangan jemur langsung di bawah matahari. Sinar UV bikin material cepat getas dan warna pudar. Angin-anginkan di tempat teduh.

  • Isi dengan kertas atau kain kering setelah terkena air untuk menyerap kelembapan dan menjaga bentuk sepatu.

  • Longgarkan tali dan tarik lidah sepatu setelah dipakai agar sirkulasi udara di dalam sepatu lebih baik.

8. Ganti Sepatu Setelah 600–800 Kilometer

Ini angka yang jarang diketahui orang. Sepatu lari punya masa pakai. Setelah sekitar 600–800 kilometer, bantalan mulai mengempis dan kemampuan menyerap benturan menurun. Kalau kamu lari 20 kilometer seminggu, artinya sepatu itu perlu diganti dalam waktu sekitar 7–10 bulan.

Tanda-tandanya sederhana: sol mulai tipis di bagian tertentu, bantalan terasa lebih keras dari sebelumnya, atau kamu mulai merasakan nyeri di lutut dan tulang kering yang biasanya nggak ada.

Sepatu yang Tepat Bikin Kamu Mau Terus Bergerak

Pada akhirnya, sepatu olahraga bukan soal gaya-gayaan. Ini soal bagaimana kamu memperlakukan tubuhmu. Salah beli sepatu bisa bikin cedera yang bikin kamu berhenti olahraga selama berminggu-minggu. Sepatu yang tepat, sebaliknya, bikin kamu pengen terus bergerak.

Tren 2026 memang mengarah ke desain yang lebih minimalis dan fungsional, bukan lagi sepatu chunky yang berat. Brand lokal makin kompetitif.

Pilihannya makin banyak. Tapi di tengah semua pilihan itu, satu hal nggak berubah: sepatu terbaik adalah yang cocok dengan kakimu, bukan yang paling banyak di-like di media sosial.

Jadi sebelum kamu checkout sepatu yang lagi viral, cek dulu jenis kakimu, ukur kakimu di sore hari, dan tanyakan pada diri sendiri: sepatu ini buat olahraga apa?

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.