BREAKING: Sir Jim Ratcliffe Jual OGC Nice, Fokus Total ke Manchester United

JATENG.AKURAT.CO, Langkah tegas akhirnya diambil oleh miliarder asal Inggris, Sir Jim Ratcliffe.
Sang pemilik minoritas Manchester United melalui perusahaannya, INEOS, kini semakin serius melepas salah satu aset sepak bolanya, yaitu klub Ligue 1 Prancis, OGC Nice.
Menurut laporan eksklusif dari media terpercaya Prancis, L'Equipe, proses negosiasi antara pihak INEOS dan seorang pengusaha Amerika Serikat yang dirahasiakan identitasnya terus berjalan dan bahkan kian memanas jelang tengah bulan Juni.
Keputusan ini bukan tanpa alasan. Sejak resmi menjadi pemegang saham minoritas di Manchester United, fokus Ratcliffe seolah terbelah.
Namun, kini semuanya mulai terpusat ke Old Trafford. Situasi ini menyebabkan klub kebanggaan kota Nice berjalan tanpa komando yang jelas selama berbulan-bulan, bahkan nyaris terjerembab ke kasta kedua Liga Prancis.
Pertarungan sengit melawan Saint-Etienne di babak play-off degradasi hanya mampu mereka lalui dengan kemenangan agregat 4-1.
Di tengah badai ketidakpastian ini, skuad Les Aiglons (Julukan OGC Nice) juga ditinggal peran penting di bangku kepelatihan dan manajemen, membuat suasana di Allianz Riviera semakin mencekam.
Baca Juga: Debut Manis Rio Ngumoha di Timnas Inggris, Pemain Termuda Sejak Jude Bellingham
Negosiasi dengan Pengusaha Amerika Memasuki Babak Krusial
Proses penjualan OGC Nice bukanlah isapan jempol belaka. Kabar ini pertama kali mengemuka setelah Bloomberg merilis bahwa Ratcliffe telah memangkas harga jual secara signifikan agar laku di pasaran.
Setelah sempat dipatok di kisaran €250 juta (sekitar Rp4,3 triliun), nilai jual kini disebut-sebut lebih realistis.
Yang menarik adalah identitas pembeli yang masih menjadi misteri hingga saat ini.
Laporan dari Nice-Matin sebelumnya mengindikasikan adanya dua calon pembeli potensial: satu dari Eropa dan satu lagi dari Amerika Serikat.
Bahkan, grup dari Amerika tersebut dikabarkan telah mengunjungi fasilitas latihan klub didampingi oleh CEO INEOS Sport, Jean-Claude Blanc.
Dengan tenggat waktu yang diperkirakan akan menemui titik terang sebelum 15 Juni 2026, publik sepak bola Prancis kini menahan napas menyaksikan apakah kesepakatan jual beli ini akan segera terealisasi atau justru kandas di menit akhir.
Klub Tanpa Nahkoda: Pelatih dan Direktur Olahraga Masih Lowong
Salah satu dampak paling nyata dari ketidakpastian kepemilikan ini adalah lumpuhnya struktur manajerial tim.
Saat ini, OGC Nice berada dalam kondisi yang sangat rapuh karena tidak memiliki Direktur Olahraga maupun Pelatih Kepala tetap.
Florian Maurice secara resmi mengundurkan diri dari jabatan direktur olahraga pada awal Juni 2026 lalu, dan Nice memutuskan untuk tidak terburu-buru mencari pengganti.
Kondisi serupa terjadi di bangku cadangan. Semua proses perekrutan pelatih baru sengaja dihentikan (on hold) dan akan ditentukan oleh pemilik baru nanti.
Ini tentu menjadi situasi yang tidak ideal bagi persiapan tim menghadapi musim depan.
Dalam dunia sepak bola modern, keberadaan direktur olahraga sangat vital untuk menentukan arah rekrutmen pemain, sementara pelatih adalah ujung tombak taktik di lapangan.
Risiko terbesar dari kekosongan ini adalah tim bisa kehilangan start penting di bursa transfer karena tidak ada yang berwenang mengambil keputusan.
Kesalahan umum yang sering terjadi adalah ketika pemilik baru datang, mereka seringkali membawa proyek yang berbeda, yang bisa berujung pada pembongkaran skuad secara besar-besaran yang justru merugikan stabilitas tim.
Kisah Selamat dari Zona Merah: Menang Tipis di Play-Off
Mengapa Ratcliffe begitu ingin cepat-cepat melepas klub ini?
Selain fokus ke MU, performa Nice di lapangan musim lalu sangatlah mengecewakan.
Mereka hanya finis di peringkat 16 Ligue 1 dengan raihan 32 poin sepanjang musim reguler.
Padahal, Nice bukanlah tim sembarangan. Klub berjuluk Le Gym ini pernah menjadi juara Ligue 1 sebanyak empat kali (terakhir 1959) dan secara reguler bersaing di papan atas Eropa.
Musim lalu, mereka bahkan masih mentas di babak kualifikasi Liga Champions.
Bayangkan betapa tertekannya manajemen saat harus bermain di laga play-off melawan Saint-Etienne, yang notabene adalah tim divisi dua.
Pertandingan yang digelar di Allianz Riviera pada 29 Mei 2026 itu berlangsung dramatis.
Setelah hasil imbang 0-0 di leg pertama, Nice sempat dibuat cemas oleh gol penalti Davitashvili.
Namun, berkat kegigihan Kail Boudache dan dua gol dari Elye Wahi di menit akhir, mereka berhasil menang 4-1 dan mempertahankan statusnya sebagai klub kasta tertinggi.
Kemenangan ini tidak hanya menyelamatkan harga diri, tetapi juga mengamankan pendapatan sebesar £18,2 juta (sekitar Rp370 miliar) yang menjadi suntikan dana segar bagi klub sebelum proses jual beli dimuntahi.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Peringkat FIFA Oman vs Indonesia Malam Ini: Jika Menang, Seri, atau Kalah, Posisi Timnas Garuda Bisa Berubah
- 2iPhone 18 Pro Bocor di Internet, Warna Dark Cherry Jadi Daya Tarik Utama
- 3Barcelona Siapkan Siasat Licik: Tawar Rashford Rp 260 Miliar, MU Dipojokkan Demi Bebaskan Gaji
- 4Terungkap! Ini Alasan Thom Haye Tidak Diturunkan Saat Indonesia vs Oman, Ternyata Masih Jalani Sanksi FIFA
- 5Man City dan Bayern Saling Sikut Rekrut Bek Chelsea, Maresca Ingin Reuni dengan Mantan Anak Buah
- 6Terungkap! Ini Alasan Layvin Kurzawa Tinggalkan Persib Bandung! Dua Pemain Asing Lain Segera Menyusul?
- 7Shearer Buka Suara: Sandro Tonali Bisa ke MU Jika Dua Syarat Ini Terpenuhi, Bandrol £90 Juta!
- 8Morgan Rogers Siap Gabung Arsenal, Roy Keane: 'Dia Mengingatkan Saya pada Paul Gascoigne'
- 9MU Siapkan Dua Amunisi Baru: Fernandes Incar Old Trafford, Balde Alternatif Lewis Hall
- 10Bukan Sekadar Ganti Pelatih, Liverpool Siap Rekrut 5 Pemain Baru di Era Iraola



