Jateng

Gus Rozin: NU Perlu Lebih Banyak Mendengar Suara dari Jamaah di Luar Jawa

Arixc Ardana | 15 Agustus 2026, 11:51 WIB
Gus Rozin: NU Perlu Lebih Banyak Mendengar Suara dari Jamaah di Luar Jawa
Pertemuan Gus Rozin dengan PWNU dan PCNU di Gorontalo pada 11 Agustus 2026)

JATENG.AKURAT.CO, Calon Ketua Umum PBNU, KH. Abdul Ghaffar Rozin (Gus Rozin), menilai penguatan Nahdlatul Ulama ke depan perlu lebih banyak bertumpu pada kebutuhan jamaah dan kondisi daerah, terutama di luar Pulau Jawa.

Menurut Gus Rozin, NU memiliki karakter yang khas. Jamaah telah tumbuh di tengah masyarakat sebelum struktur jam’iyyah terbentuk. Karena itu, pengembangan organisasi tidak selalu harus dimulai dari pusat.

Ini merupakan pesan yang perlu diperhatikan dalam menyambut Muktamar PBNU ke-35 di Jombang, Jawa Timur, nanti.

“NU itu jamaah ada duluan, baru jam’iyyahnya,” kata Ketua PWNU Jawa Tengah ini dalam salah satu pertemuan dengan pengurus NU di daerah.

Pandangan tersebut muncul dalam sejumlah silaturahmi Gus Rozin bersama PWNU dan PCNU dalam beberapa waktu terakhir. 

Dalam pertemuan di berbagai wilayah seperti Lampung, Sulawesi Selatan dan Utara, Gorontalo, Bali, NTT, sampai Kalimantan Timur dan Utara, Gus Rozin menilai persoalan yang disampaikan pengurus daerah begitu khas dan berbeda-beda.

Pengurus NU di luar Jawa, misalnya, banyak menyampaikan persoalan keterbatasan pesantren, kaderisasi, sumber daya manusia, hingga akses terhadap pendampingan organisasi.

Kondisi geografis juga membuat kebutuhan NU di luar Jawa tidak selalu sama dengan yang dihadapi NU di Jawa. 

Karena itu, Gus Rozin mendorong agar penguatan NU dilakukan dari akar rumput.

PWNU dan PCNU perlu diberi ruang yang cukup untuk mengembangkan organisasi berdasarkan kebutuhan masing-masing daerah.

“Penguatan NU perlu dilakukan melalui pendekatan dari bawah ke atas, bukan hanya dari tingkat atas,” jelas Gus Rozin.

Ia juga menilai pesantren harus mendapat perhatian serius. Pesantren, kata Gus Rozin, merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari sejarah NU.

Penguatan pesantren karena itu tidak hanya berkaitan dengan pendidikan, tetapi juga dengan masa depan NU sendiri. 

Dalam pertemuan dengan pengurus NU di sejumlah daerah, persoalan pesantren menjadi salah satu pembahasan yang berulang.

Di beberapa wilayah luar Jawa, bahkan masih terdapat daerah yang belum memiliki pesantren yang cukup representatif.

Bagi Gus Rozin, kondisi seperti itu membutuhkan kehadiran organisasi yang lebih praktis dan dekat.

PBNU tidak harus mengambil alih semua urusan daerah, tetapi dapat membantu menghubungkan kebutuhan daerah agar bisa mendapat perhatian pusat.

Gagasan tersebut berjalan beriringan dengan pandangannya mengenai hubungan antara jamaah dan jam’iyyah.

Penguatan struktur organisasi, menurut Gus Rozin, harus berjalan bersama dengan penguatan masyarakat yang menjadi basis NU.

Dalam suasana NU yang sedang menghadapi dinamika internal, ia juga mengingatkan pentingnya komunikasi dan ukhuwah.

Perbedaan pendapat, menurutnya, perlu dikelola melalui ruang dialog agar tidak berkembang menjadi persoalan yang lebih besar. 

Bagi Gus Rozin, membangun NU bukan hanya pekerjaan pengurus di tingkat pusat.

Ada pekerjaan besar di pesantren, PWNU, PCNU, hingga masyarakat yang selama ini menjadi basis kehidupan Nahdlatul Ulama. 

Karena NU yang kuat, menurutnya, adalah NU yang tumbuh bersama dan mampu mendengar kebutuhan jamaah.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.