Pakuwon Group Siap Perbaiki Rumah Warga Gombel Lama, 14 Aduan Masuk
JATENG.AKURAT.CO, Pakuwon Group kembali melakukan silaturahmi dengan warga di kawasan Gombel Lama, Kota Semarang, untuk menindaklanjuti laporan kerusakan rumah yang disampaikan masyarakat di sekitar proyek pembangunan.
Head of General Affair Pakuwon Group, Iful Novianto, mengatakan pihaknya membuka kesempatan bagi warga untuk menentukan waktu perbaikan rumah masing-masing. Menurutnya, perbaikan dapat dilakukan segera apabila warga sudah menyatakan siap.
“Setelah satu bulan selesai, kemudian hari ini kita kembali silaturahmi ke warga dalam rangka mandorku siap. Sekarang kapan warga ini siap untuk diperbaiki. Ya tujuh hari lagi, empat bulan lagi, saya tunggu. Tapi mungkin ada warga yang besok siap, ya sudah saya perbaiki,” kata Iful.
Dalam pertemuan tersebut, terdapat empat warga yang hadir dan menyampaikan kondisi rumahnya. Dari laporan yang masuk, Pakuwon Group mencatat ada 14 rumah yang perlu mendapatkan penanganan sesuai dengan aduan warga.
Iful menjelaskan, tingkat kerusakan rumah dibedakan menjadi kategori minor dan major. Kerusakan major, menurutnya, berkaitan dengan bagian struktur rumah dan membutuhkan penanganan lebih cepat.
“Kalau dari sisi proyek kan ada minor, ada major. Kalau minor itu sebenarnya hal-hal yang berkaitan dengan aksesori, dalam artian tidak ada struktur. Kalau struktur sudah major,” jelasnya.
Ia mencontohkan kerusakan seperti lantai yang bergerak atau pintu yang tidak dapat dibuka sebagai kondisi yang masuk kategori major dan harus segera diperbaiki.
“Misalkan lantai bergerak, pintu nggak bisa dibuka, itu major sebenarnya. Itu harus segera,” ujarnya.
Sementara itu, sebagian kondisi yang ditemukan pada rumah warga saat ini masih tergolong minor, meski terdapat beberapa keretakan yang dinilai cukup besar. Iful menyebut kerusakan tersebut perlu ditangani agar tidak berkembang menjadi lebih parah.
“Kalau beberapa tadi masih minor, tapi sudah agak besar. Kalau dibiarkan, dia akan major. Karena ada yang sudah tetap agak buka,” katanya.
Menurut Iful, sebagian besar kerusakan yang dilaporkan berupa retakan kecil pada sejumlah bagian rumah. Kondisi tersebut juga perlu dilihat dengan mempertimbangkan karakteristik wilayah Gombel yang merupakan kawasan dengan pergerakan tanah.
“Lebih ke minor sih sebenarnya. Retaknya kecil-kecil, tapi mungkin ada beberapa tempat. Memang karena ini daerah gerak,” ungkapnya.
Sudah Lakukan Survei Awal Bersama ITS
Iful menegaskan, Pakuwon Group sebelumnya telah melakukan survei kondisi bangunan sebelum proyek pembangunan dimulai. Survei tersebut dilakukan bekerja sama dengan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).
Menurut dia, survei awal dilakukan dengan memetakan rumah-rumah warga dalam radius sekitar 150 meter dari area proyek. Kondisi setiap rumah didokumentasikan melalui survei dan foto sebagai bagian dari data awal.
“Jauh hari sebelum proyek ini kita kerjakan, kita kerja sama dengan ITS untuk melakukan preliminary survey atau survei awal. Dari tempat kita itu dipetakan 150 meter. Rumah-rumah itu disurvei, difoto,” jelasnya.
Pakuwon Group, lanjut Iful, juga memiliki panduan mengenai kondisi rumah dalam radius tersebut. Data awal itu menjadi salah satu acuan ketika menerima laporan kerusakan dari masyarakat.
Ia mengatakan pihaknya tidak ingin memperdebatkan apakah suatu kerusakan sepenuhnya disebabkan proyek atau sudah ada sebelumnya. Bagi Pakuwon Group, laporan warga menjadi dasar untuk turun dan melakukan penanganan.
“Enggak usah memperdebatkan siapa yang benar, siapa yang salah. Pokoknya ada keluhan warga, kami turun. Itu sih konsepnya,” tegas Iful.
Namun, ia menjelaskan bahwa mekanisme penanganan dilakukan berdasarkan aduan warga. Setelah laporan diterima, tim kemudian diturunkan untuk melakukan pemeriksaan terhadap kondisi rumah.
“Trigger-nya itu harus aduan. Mengadu dulu, setelah mengadu, baru kita turunkan tim,” katanya.
Hal itu dilakukan karena tidak semua retakan pada rumah secara otomatis berkaitan dengan aktivitas proyek. Menurut Iful, perubahan kondisi cuaca maupun karakteristik material bangunan juga dapat menyebabkan munculnya retakan atau perubahan pada bagian rumah.
“Namanya retak itu kan tidak selalu berhubungan dengan proyek,” ujarnya.
Ia mencontohkan perubahan suhu dari hujan ke panas yang dapat memengaruhi material seperti ubin. Karena itu, menurutnya, kondisi awal rumah dan penyebab kerusakan perlu dilihat secara menyeluruh.
“Kalau dari hujan ke panas, apa yang terjadi dengan ubin kita biasanya? Meletak. Nah itu sebenarnya si pemilik rumah sudah tahu sendiri, oh iya ini sebenarnya meletak, bukan karena pembangunan. Nah itu mungkin menjadi bagian yang mereka tidak laporkan,” pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Angin Segar Liverpool! PSG Mulai Luluh, Dua Bintang Siap ke Anfield
- 2Yadea RS20 Resmi Dijual Rp16,6 Juta, Motor Listrik Retro Bisa Tempuh hingga 80 Km
- 3Arsenal Siap Korbankan Gabriel Jesus, Napoli Bergerak Cepat! Como Bidik Striker Chelsea! Bursa Transfer Eropa Memanas
- 4Chelsea vs Manchester United: Duel Perburuan Gelandang Prancis Manu Koné
- 5Barcelona Beralih ke Gyokeres setelah Alvarez Buntu, Arsenal Siap Melepas?
- 6Persib Juara Dewata Challenge Series 2026! Bangkit dari Ketertinggalan, Obati Kegagalan di Piala Presiden
- 7Manchester United dan Arsenal Dapat Angin Segar di Bursa Transfer Bek Brugge
- 8Bom! Al Hilal Sepakat dengan Pedro Neto, Chelsea Siap Lepas dengan Harga €60 Juta
- 9Bukan Batal! Fabrizio Romano: Barcola ke Liverpool Masih Hidup dan Kian Menggembirakan
- 10Jamie Gittens Diprediksi Bertahan di Chelsea Usai Roma Beralih ke Target Lain




