Jateng

CJIBF 2026 Hasilkan Minat Investasi Rp16 Triliun, Jawa Tengah Tawarkan 17 Proyek Strategis dan 4 Kawasan Industri Unggulan

Arixc Ardana | 11 Mei 2026, 15:08 WIB
CJIBF 2026 Hasilkan Minat Investasi Rp16 Triliun, Jawa Tengah Tawarkan 17 Proyek Strategis dan 4 Kawasan Industri Unggulan
Gelaran Central Java Investment Business Forum (CJIBF) 2026 kembali menjadi panggung penting bagi promosi investasi di Jawa Tengah

JATENG.AKURAT.CO, Gelaran Central Java Investment Business Forum (CJIBF) 2026 kembali menjadi panggung penting bagi promosi investasi di Jawa Tengah.

Forum yang merupakan kolaborasi antara Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Bank Indonesia ini berhasil menarik perhatian investor dalam dan luar negeri dengan capaian awal yang cukup signifikan.

Baru sehari setelah resmi dibuka oleh Gubernur Jateng Ahmad Luthfi, CJIBF 2026 telah menghasilkan sebanyak 40 Letter of Intent (LOI) atau nota minat investasi dengan total nilai mencapai Rp16 triliun.

Capaian tersebut diperoleh melalui rangkaian pertemuan bisnis atau one on one meeting antara calon investor dengan pemerintah daerah, pengelola kawasan industri, hingga pelaku usaha di Jawa Tengah.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, M. Noor Nugroho mengatakan, pada penyelenggaraan CJIBF tahun ini sebanyak 17 proyek investasi unggulan atau Investment Project Ready to Offer (IPRO) dipromosikan kepada para calon investor.

"Proyek-proyek tersebut mencakup berbagai sektor strategis mulai dari renewable energy, pertanian dan hilirisasi pangan, pariwisata, hingga pertambangan yang tersebar di sejumlah daerah di Jawa Tengah," paparnya.

Proyek Energi Terbarukan Jadi Daya Tarik Utama

Salah satu sektor yang paling banyak menarik perhatian investor adalah renewable energy atau energi terbarukan.

Jawa Tengah menawarkan sejumlah proyek potensial yang dinilai sejalan dengan tren investasi hijau dan pembangunan berkelanjutan.

Beberapa proyek unggulan yang dipromosikan antara lain:

  • Candi Umbul Telomoyo Geothermal Power Plant milik Geo Dipa Energy

  • Logawa Minihydro Power Plant di Banyumas

  • Agricultural Waste Utilization for Biomass Energy di Grobogan

  • Waste to Refuse Derived Fuel di Demak dan Pati

Proyek-proyek tersebut dinilai memiliki prospek besar karena mendukung transisi energi bersih sekaligus mendorong pemanfaatan sumber daya lokal secara optimal.

Selain sektor energi, Jawa Tengah juga menawarkan berbagai proyek hilirisasi pangan dan pertanian yang menjadi kekuatan utama daerah.

Hilirisasi Pertanian dan Pangan Jadi Fokus Investasi

Pada sektor pertanian dan hilirisasi pangan, terdapat sejumlah proyek strategis yang dipromosikan kepada investor, di antaranya:

  • Integrated Coconut Industry

  • Integrated Shrimp Industry

  • Integrated Fisheries Special Zone di Cilacap

  • Salt Industry di Jepara

  • Warehouse Receipt System and Agribusiness Subterminal di Grobogan

  • Fishery Industry Center di Pati

  • Modified Cassava Flour Industry di Banjarnegara

  • Warehousing and Industrial Salt Processing di Brebes

Berbagai proyek tersebut menunjukkan keseriusan Jawa Tengah dalam membangun rantai industri berbasis sumber daya lokal, mulai dari hasil perikanan, kelapa, garam, hingga produk turunan singkong atau mocaf.

Tak hanya sektor industri dan pangan, sektor pariwisata juga menjadi bagian penting dalam promosi investasi CJIBF 2026.

Pengembangan Pariwisata dan Kawasan Strategis

Pada sektor pariwisata, pemerintah menawarkan beberapa proyek pengembangan destinasi unggulan, yakni:

  • Pengembangan Taman Kyai Langgeng Ecopark di Kota Magelang

  • Pengembangan Pulau Panjang di Jepara

  • Pengembangan Deyangan Resort di kawasan Borobudur milik TWC di Kabupaten Magelang

Sementara itu, sektor pertambangan juga ikut dipromosikan melalui proyek Mineral Extraction dari Geo Dipa Energy di Kabupaten Banjarnegara.

Selain proyek-proyek investasi, calon investor juga dipertemukan dengan empat kawasan industri utama di Jawa Tengah, yaitu:

  • Kendal Special Economic Zone

  • Industropolis Batang Special Economic Zone

  • Wijayakusuma Industrial Park

  • Jatengland Industrial Park Sayung

Keberadaan kawasan industri tersebut menjadi salah satu kekuatan utama Jawa Tengah dalam menarik investasi, terutama karena didukung infrastruktur, akses logistik, dan kesiapan lahan industri.

Investasi Jawa Tengah Tumbuh Positif

Dalam sambutannya, Gubernur Jateng Ahmad Luthfi menyampaikan bahwa tren investasi di Jawa Tengah terus menunjukkan pertumbuhan positif.

Pada triwulan I 2026, realisasi investasi Jawa Tengah tercatat mencapai Rp23,02 triliun dengan penyerapan tenaga kerja sekitar 92 ribu orang yang tersebar di 35 kabupaten/kota.

Capaian tersebut meningkat sekitar 5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dan semakin memperkuat posisi Jawa Tengah sebagai salah satu motor pertumbuhan ekonomi nasional.

Menurut Ahmad Luthfi, tingginya investasi tersebut berkontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah pada triwulan I 2026 yang mencapai 5,89 persen atau lebih tinggi dibanding rata-rata nasional sebesar 5,61 persen.

“Artinya untuk meningkatkan ekonomi di wilayah kita perlu adanya forum-forum seperti ini,” ujar Luthfi.

Ia menegaskan, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah akan terus menggenjot sektor investasi karena memiliki kontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi daerah serta penciptaan lapangan kerja.

DPMPTSP Kawal Realisasi Investasi

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu, Sakina Rosellasari mengatakan, 40 letter of intent yang berhasil diperoleh CJIBF 2026 merupakan hasil dari pertemuan intensif antara investor dengan berbagai pihak terkait.

“Tentunya ini menjadi tugas dari DPMPTSP untuk mengawal. Kepeminatan yang kemudian sudah tanda tangan letter of intent ini kita kawal untuk betul-betul menjadi realisasi investasi,” katanya.

Menurut Sakina, para investor sangat antusias terhadap seluruh sektor yang ditawarkan dalam CJIBF 2026. Investor yang hadir berasal dari dalam negeri maupun luar negeri.

Untuk penanaman modal asing (PMA), terdapat investor dari Thailand, China, dan India yang menunjukkan minat pada sejumlah proyek di Jawa Tengah.

Sementara investor domestik atau penanaman modal dalam negeri (PMDN) banyak tertarik pada sektor manufaktur, biomassa, geothermal, industri garam, serta mocaf dan hilirisasi produk pertanian.

Sakina menjelaskan, proses realisasi investasi biasanya membutuhkan waktu sekitar satu hingga dua tahun karena investor masih harus melakukan kajian dan studi lanjutan sebelum proyek dijalankan.

Siapkan 12 Kawasan Industri Baru

Untuk mendukung iklim investasi yang semakin kompetitif, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga menyiapkan sekitar 12 kawasan industri dan ekonomi khusus baru.

Langkah tersebut merupakan bagian dari konsep collaborative government atau pemerintahan kolaboratif antara pemerintah provinsi dengan pemerintah kabupaten/kota di Jawa Tengah.

Pemerintah berharap keberadaan kawasan industri baru dapat memperkuat daya tarik investasi sekaligus membuka peluang ekonomi baru di berbagai daerah.

Selain berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi, investasi yang masuk ke Jawa Tengah juga diharapkan mampu mendorong UMKM lokal naik kelas hingga mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.

Melalui CJIBF 2026, Jawa Tengah menunjukkan keseriusannya sebagai salah satu destinasi investasi unggulan di Indonesia dengan menawarkan proyek-proyek strategis, kawasan industri modern, serta dukungan pemerintah yang semakin kuat terhadap dunia usaha.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.